JAKARTA - Menjelang penutupan periode pembukuan, industri perbankan nasional menunjukkan performa yang relatif solid.
Laju intermediasi tetap terjaga di tengah dinamika ekonomi yang berlangsung sepanjang tahun.
Pada bulan Desember, penyaluran kredit perbankan tercatat tumbuh 9,69 persen secara tahunan. Pertumbuhan ini berjalan seiring dengan dana pihak ketiga yang meningkat 13,83 persen.
Kombinasi pertumbuhan kredit dan likuiditas tersebut mencerminkan stabilitas sektor perbankan. Fungsi penghimpunan dan penyaluran dana berjalan cukup seimbang.
Capaian Kredit dalam Target Otoritas
Pertumbuhan kredit yang dicapai perbankan berada dalam rentang proyeksi otoritas moneter dan pengawas keuangan. Bank Indonesia menargetkan kisaran 8–11 persen.
Sementara itu, Otoritas Jasa Keuangan memproyeksikan pertumbuhan kredit di rentang 9–11 persen. Realisasi yang ada masih sejalan dengan arah kebijakan tersebut.
Meski sesuai target, capaian ini tetap mencerminkan sikap kehati-hatian perbankan. Penyaluran kredit dilakukan dengan mempertimbangkan risiko dan kualitas pembiayaan.
Perbandingan dengan Kinerja Tahun Sebelumnya
Jika dibandingkan dengan realisasi tahun sebelumnya, pertumbuhan kredit masih menunjukkan perlambatan. Pada periode sebelumnya, kredit perbankan mampu tumbuh 10,93 persen.
Selisih tersebut menandakan adanya tekanan eksternal dan domestik. Kondisi ekonomi global dan penyesuaian kebijakan turut memengaruhi permintaan kredit.
Namun demikian, pertumbuhan yang tetap positif menegaskan daya tahan sektor perbankan. Industri masih mampu menjaga ekspansi meski tidak seagresif tahun lalu.
Proyeksi Kredit pada Periode Berikutnya
Memasuki periode selanjutnya, penyaluran kredit diperkirakan mengalami peningkatan terbatas. Pertumbuhannya diproyeksikan sedikit lebih tinggi dibandingkan capaian sebelumnya.
Meski meningkat, laju kredit diperkirakan tetap berada dalam kategori satu digit besar. Artinya, ekspansi berlangsung moderat dan terukur.
Kondisi ini mencerminkan ekspektasi pemulihan ekonomi yang bertahap. Perbankan masih akan mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam ekspansi kredit.
Pandangan Perbankan dan Bank Sentral
Bank-bank yang tergabung dalam Perhimpunan Perbankan Nasional memproyeksikan pertumbuhan kredit sekitar 9,68 persen. Angka ini mencerminkan optimisme yang realistis.
Di sisi lain, Bank Indonesia memperkirakan rentang pertumbuhan yang sedikit lebih lebar, yakni 9–12 persen. Proyeksi tersebut mempertimbangkan potensi penguatan aktivitas ekonomi.
Perbedaan proyeksi ini menunjukkan variasi asumsi. Namun, keduanya sama-sama menempatkan pertumbuhan kredit pada jalur yang relatif stabil.
Respon Ekonom dan Otoritas Keuangan
Dengan berbagai proyeksi tersebut, sejumlah pihak mulai menyampaikan pandangan terkait prospek kredit. Ekonom dan otoritas keuangan melihat ruang pertumbuhan masih terbuka.
Optimisme muncul dari stabilnya likuiditas dan terjaganya kepercayaan terhadap sistem perbankan. Hal ini menjadi modal penting bagi ekspansi pembiayaan.
Di sisi lain, tantangan tetap menjadi perhatian utama. Konsistensi kebijakan dan penguatan sektor riil dinilai krusial untuk menjaga pertumbuhan kredit tetap berkelanjutan.