Bursa

Bursa Asia Berfluktuasi Investor Cermati Ketegangan Global

Bursa Asia Berfluktuasi Investor Cermati Ketegangan Global
Bursa Asia Berfluktuasi Investor Cermati Ketegangan Global

JAKARTA - Pergerakan pasar Asia-Pasifik pada awal pekan berlangsung beragam seiring meningkatnya perhatian investor terhadap dinamika geopolitik global. 

Ketidakpastian arah kebijakan antarnegara kembali memengaruhi pengambilan keputusan pelaku pasar.

Investor cenderung bersikap hati-hati karena isu perdagangan dan hubungan internasional dinilai berpotensi berdampak langsung pada stabilitas ekonomi kawasan. Kondisi ini tercermin dari perbedaan kinerja indeks saham di sejumlah negara.

Di tengah situasi tersebut, pasar menunjukkan respons yang tidak seragam. Sebagian indeks melemah akibat tekanan sentimen global, sementara lainnya masih mampu mencatatkan penguatan terbatas.

Pernyataan Kanada Picu Perhatian Investor

Sorotan investor tertuju pada pernyataan Perdana Menteri Kanada Mark Carney terkait kebijakan perdagangan negaranya. Ia menegaskan bahwa Kanada tidak mengejar perjanjian perdagangan bebas dengan China tanpa pemberitahuan sebelumnya.

“Kami memiliki komitmen berdasarkan CUSMA (Perjanjian Kanada-Amerika Serikat-Meksiko) untuk tidak mengejar perjanjian perdagangan bebas dengan ekonomi non-pasar tanpa pemberitahuan sebelumnya. Kami tidak berniat untuk melakukan itu dengan China atau dengan ekonomi non-pasar lainnya,” kata Carney, Senin, 26 Januari 2026.

Pernyataan tersebut muncul di tengah ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut akan mengenakan tarif 100% jika Kanada menjalin kesepakatan dagang dengan China. Isu ini mempertebal kekhawatiran pasar terhadap potensi eskalasi ketegangan global.

Emas Jadi Pilihan Aman Investor

Ketidakpastian geopolitik mendorong pergeseran minat investor ke aset aman. Harga emas spot melonjak dan mencetak rekor tertinggi baru di atas US$5.000 per ons.

Emas terakhir diperdagangkan di level US$5.033,99 per ons pada pukul 07.52 waktu Singapura. Kenaikan ini mencerminkan tingginya permintaan terhadap instrumen lindung nilai.

Lonjakan harga emas memperkuat sinyal bahwa pelaku pasar tengah mencari perlindungan dari potensi gejolak ekonomi dan politik global yang sulit diprediksi.

Performa Bursa Asia Tidak Seragam

Di Jepang, pasar saham bergerak melemah dengan Indeks Nikkei 225 turun 1,52% dan Topix terkoreksi 1,76%. Pelemahan ini terjadi di tengah kekhawatiran terhadap pergerakan mata uang dan sentimen global.

Sebaliknya, bursa Korea Selatan mencatatkan kinerja positif. Indeks Kospi naik 0,64%, sementara indeks Kosdaq yang berisi saham berkapitalisasi kecil melonjak 2,28%.

Kontrak berjangka indeks Hang Seng Hong Kong berada di level 26.772, lebih tinggi dibandingkan penutupan terakhir di 26.749,51, mencerminkan optimisme terbatas di pasar tersebut.

Yen Jepang dan Sikap Pemerintah

Nilai tukar yen Jepang menguat 0,45% ke kisaran 155,01 per dolar Amerika Serikat. Penguatan ini menjadi perhatian khusus bagi investor dan otoritas Jepang.

Pelaku pasar mencermati pernyataan Perdana Menteri Jepang yang memberi sinyal akan melawan aktivitas pasar spekulatif. Pemerintah disebut siap bertindak jika volatilitas yen meningkat tajam.

Sikap tersebut menunjukkan komitmen otoritas untuk menjaga stabilitas mata uang. Langkah antisipatif ini dinilai penting guna meredam dampak spekulasi berlebihan di pasar keuangan.

Pengaruh Wall Street Terhadap Asia

Dari kawasan lain, indeks S&P/ASX 200 Australia naik tipis 0,13% pada perdagangan awal. Pergerakan ini sejalan dengan penutupan bursa Amerika Serikat yang cenderung bervariasi.

Nasdaq Composite melanjutkan penguatan dengan kenaikan 0,28% dan ditutup di level 23.501,24, didorong saham teknologi. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average turun 285,30 poin atau 0,58% ke posisi 49.098,71.

Indeks S&P 500 mencatat kenaikan tipis 0,03% dan ditutup di 6.915,61. Performa Wall Street ini turut menjadi referensi investor Asia dalam membaca arah pasar di tengah ketidakpastian global yang masih berlanjut.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index