JAKARTA - Fenomena sandwich generation semakin nyata dirasakan generasi muda yang berada pada usia produktif.
Banyak dari mereka harus berada di posisi sulit, yakni menopang kebutuhan orang tua sekaligus mempersiapkan masa depan pribadi di tengah tekanan ekonomi yang terus meningkat.
Kondisi ini tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan terbentuk dari dinamika sosial dan ekonomi yang berubah. Kenaikan biaya hidup, tuntutan keluarga, serta ketidakpastian finansial membuat peran generasi muda menjadi semakin kompleks.
Bagi sebagian individu, situasi ini menjadi beban yang perlahan menggerus stabilitas finansial. Tanggung jawab ganda tersebut sering kali menempatkan mereka pada dilema antara kewajiban keluarga dan kebutuhan diri sendiri.
Beban Finansial yang Terus Menekan
Psikolog Andi Cahyadi menilai stres finansial sebagai dampak paling nyata dari fenomena sandwich generation. Tekanan ekonomi yang berlangsung dalam jangka panjang berpotensi memengaruhi banyak aspek kehidupan individu.
“Banyak individu merasa penghasilannya selalu habis untuk memenuhi kebutuhan keluarga, sehingga sulit menabung atau merencanakan tujuan jangka panjang,” ujar Andi, Kamis, 22 Januari 2026. Pernyataan ini menggambarkan kondisi finansial yang stagnan meski bekerja keras.
Situasi tersebut membuat generasi muda kehilangan ruang untuk membangun keamanan finansial. Akibatnya, perencanaan masa depan seperti pendidikan lanjutan, investasi, atau kepemilikan aset menjadi tertunda.
Tekanan Psikologis di Balik Tanggung Jawab
Menurut Andi, tekanan sandwich generation tidak hanya berkaitan dengan uang, tetapi juga menyentuh aspek psikologis. Beban mental sering kali muncul bersamaan dengan tuntutan finansial yang terus berulang.
Rasa cemas, takut gagal, hingga perasaan bersalah kerap hadir ketika kebutuhan keluarga berbenturan dengan kebutuhan pribadi. Individu merasa berada di persimpangan, di mana setiap keputusan membawa konsekuensi emosional.
“Ini bisa memicu stres kronis jika tidak disadari sejak awal,” katanya. Tekanan yang dibiarkan berlarut-larut berpotensi memperburuk kondisi mental dan memengaruhi kualitas hidup secara keseluruhan.
Tuntutan untuk Selalu Mengalah
Andi menjelaskan bahwa generasi muda kerap terjebak dalam tuntutan sosial untuk selalu kuat dan mengalah. Peran sebagai penopang keluarga sering dipandang sebagai kewajiban moral yang tidak boleh ditolak.
Akibatnya, banyak individu mengesampingkan kondisi emosionalnya sendiri. Mereka jarang memberi ruang untuk mengelola stres, karena merasa harus terus memenuhi harapan keluarga.
Padahal, tekanan finansial yang terus-menerus dapat berdampak serius pada kesehatan mental. Kelelahan emosional dan menurunnya motivasi hidup menjadi gejala yang kerap tidak disadari.
Dampak Jangka Panjang terhadap Kesehatan Mental
Kondisi sandwich generation yang tidak dikelola dengan baik dapat membawa dampak jangka panjang. Stres finansial yang berkepanjangan berpotensi menurunkan kualitas hubungan sosial dan produktivitas kerja.
Individu yang terus berada dalam tekanan cenderung mengalami kelelahan mental. Dalam jangka panjang, hal ini dapat memicu gangguan psikologis yang memengaruhi keseimbangan hidup.
Andi menekankan bahwa kesehatan mental sama pentingnya dengan stabilitas finansial. Mengabaikan salah satunya akan memperbesar risiko masalah yang lebih kompleks di kemudian hari.
Pentingnya Literasi dan Komunikasi Keluarga
Untuk mengurangi tekanan tersebut, Andi menegaskan pentingnya literasi finansial sejak dini. Pemahaman yang baik mengenai pengelolaan keuangan dapat membantu individu menyusun prioritas secara lebih realistis.
“Menyusun prioritas keuangan, menetapkan batas kemampuan, serta membicarakan kondisi secara jujur dapat membantu mengurangi stres finansial pada sandwich generation,” ujar Andi menutup penjelasan. Komunikasi terbuka menjadi kunci utama dalam menjaga keseimbangan.
Dengan keterbukaan dan perencanaan yang matang, generasi muda diharapkan tidak lagi memikul beban sendirian. Langkah ini dapat membantu mereka tetap bertanggung jawab pada keluarga tanpa mengorbankan kesehatan mental dan masa depan pribadi.