JAKARTA - Memasuki periode liburan Tet, kebutuhan listrik di wilayah Ha Tinh mengalami peningkatan tajam.
Aktivitas ekonomi dan konsumsi rumah tangga yang meningkat menjadi faktor utama melonjaknya permintaan energi.
Dalam situasi tersebut, pembangkit listrik dituntut beroperasi secara optimal agar pasokan tetap terjaga. Keandalan sistem menjadi krusial karena periode Tet dikenal sebagai masa puncak konsumsi.
Pembangkit Listrik Tenaga Panas Vung Ang 1 mengambil peran strategis dengan menyesuaikan pola operasionalnya. Langkah ini diarahkan untuk menjaga stabilitas pasokan listrik selama periode dengan beban tinggi.
Operasi Penuh Dua Unit Pembangkit
Sejak awal Januari, dua unit pembangkit di Pembangkit Listrik Tenaga Panas Vung Ang 1 dengan total kapasitas 1.200 MW dijalankan tanpa henti. Operasi 24 jam penuh diterapkan guna merespons lonjakan kebutuhan listrik.
Strategi ini dilakukan secara fleksibel sesuai rencana pembangkitan yang telah disusun. Fokus utama adalah memastikan tidak terjadi gangguan pasokan saat permintaan mencapai titik tertinggi.
Dengan mempertahankan kapasitas maksimum, pembangkit berkontribusi langsung pada keamanan energi. Operasi penuh ini menjadi tulang punggung pemenuhan kebutuhan listrik selama liburan Tet.
Kenaikan Produksi Listrik Signifikan
Pada kuartal keempat 2025, produksi listrik komersial pembangkit berada di kisaran 17–18 juta kWh per hari. Namun, memasuki Januari 2026, angka tersebut melonjak drastis.
Produksi harian meningkat menjadi sekitar 24–25 juta kWh. Kenaikan hampir 30% ini mencerminkan lonjakan permintaan listrik yang tidak biasa menjelang Tet.
Saat ini, Pembangkit Listrik Tenaga Termal Vung Ang 1 secara konsisten memasok 24–25 juta kWh per hari ke jaringan nasional. Angka ini menunjukkan intensitas operasi yang jauh lebih tinggi dibandingkan periode normal.
Tekanan Teknis dan Kesiapsiagaan Operasional
Pengawas Shift Bengkel Operasi Pembangkit Listrik Tenaga Termal Vung Ang 1, Phan Thanh Hoai, menjelaskan bahwa permintaan listrik tinggi dipicu oleh aktivitas produksi dan bisnis yang dinamis.
“Permintaan listrik yang tinggi selama liburan Tet disebabkan oleh aktivitas produksi dan bisnis yang dinamis dari komunitas bisnis dan koperasi. Permintaan listrik di semua sektor – industri, konstruksi, perdagangan, jasa; pertanian, kehutanan, dan perikanan… telah mencatat peningkatan yang signifikan,” ujarnya.
Ia menambahkan, “Dengan latar belakang peningkatan permintaan ini, Pembangkit Listrik Tenaga Termal Vung Ang 1 mempertahankan operasi beban penuh seperti yang diperintahkan oleh Pusat Pengendalian Sistem Tenaga Nasional.”
Manajemen Risiko dan Pengawasan Ketat
Menurut Phan Thanh Hoai, operasi beban penuh menimbulkan tekanan besar dari sisi teknis dan keselamatan. Semakin tinggi kapasitas, semakin besar pula potensi risiko yang harus dikelola.
“Beroperasi dalam kondisi beban penuh selalu menimbulkan tekanan besar pada aspek teknis dan keselamatan pembangkit,” katanya. Oleh karena itu, setiap shift dituntut meningkatkan kewaspadaan.
Ia menegaskan bahwa inspeksi diperketat dan pemantauan parameter teknis dilakukan secara cermat. “Setiap shift perlu meningkatkan frekuensi inspeksi, memantau setiap parameter teknis secara cermat, dan memastikan bahwa rencana kontingensi telah disiapkan untuk semua situasi.”
Kesiapan Logistik dan Proyeksi Produksi
Untuk mempertahankan output tinggi, Pembangkit Listrik Tenaga Panas Vung Ang 1 mengonsumsi sekitar 10.500 ton batubara per hari. Kebutuhan ini menuntut pengelolaan logistik yang intensif dan berkelanjutan.
Kapal batubara dengan muatan 23.000–25.000 ton terus bersandar di pelabuhan. Langkah ini memastikan rantai pasokan bahan bakar tetap lancar tanpa hambatan.
Dalam 25 hari pertama Januari, pembangkit telah menyalurkan 508 juta kWh ke jaringan nasional. Hingga akhir kuartal pertama 2026, produksi listrik komersial diproyeksikan mencapai sekitar 1.400 juta kWh dengan estimasi pendapatan 2.400 miliar VND.