JAKARTA - Musim hujan yang terus mengguyur meningkatkan risiko penyakit leptospirosis bagi masyarakat. Kondisi ini muncul akibat bakteri leptospira yang terbawa melalui lingkungan basah dan banjir, terutama dari urine tikus.
Gejala Leptospirosis yang Harus Diwaspadai
Dokter umum RS Sari Asih Cipondoh Tangerang, Banten, Putri Mutiara Sari, menjelaskan bahwa demam tinggi mendadak disertai nyeri otot pada betis, punggung, dan pinggang adalah tanda awal leptospirosis. Pasien juga kerap mengalami menggigil serta sakit kepala hebat yang dapat mengindikasikan infeksi serius.
Selain gejala tersebut, mata merah merupakan indikasi lain yang muncul setelah satu hingga dua minggu terpapar bakteri. Penyakit ini membutuhkan perhatian medis cepat karena dapat berakibat fatal jika tidak segera ditangani.
Leptospirosis termasuk penyakit zoonosis, yakni penyakit yang menular dari hewan ke manusia. Penularan terjadi melalui kontak kulit dengan air atau tanah yang terkontaminasi urine hewan pembawa bakteri, terutama tikus.
Langkah Pencegahan Praktis di Lingkungan Basah dan Banjir
Dengan curah hujan yang diprediksi masih tinggi hingga akhir Januari 2026, masyarakat dianjurkan menggunakan alat pelindung diri. Sarung tangan dan sepatu wajib digunakan saat melewati genangan air atau saluran terbuka untuk mengurangi risiko infeksi.
Segera tutup luka sekecil apapun dengan plester kedap air sebelum terpapar lingkungan banjir. Setelah kontak dengan genangan, pastikan mencuci tangan dan kaki dengan sabun untuk menghilangkan bakteri leptospira yang menempel.
Menjaga kebersihan rumah menjadi langkah penting agar tidak menjadi sarang tikus. Akses masuk tikus harus ditutup, serta pengelolaan sampah dilakukan dengan benar untuk mencegah hewan pembawa bakteri berkembang biak.
Selain itu, hindari bermain atau bekerja di air yang tergenang lama, karena bakteri dapat masuk melalui luka kecil atau kulit yang lembab. Kesadaran masyarakat menjadi kunci utama dalam meminimalisir risiko penularan leptospirosis.
Pentingnya Diagnosis Dini dan Penanganan Medis
Putri Mutiara Sari menekankan bahwa masyarakat harus segera memeriksakan diri jika mengalami demam tinggi dan nyeri otot setelah terpapar air banjir. Diagnosis dini memungkinkan pemberian antibiotik yang tepat untuk mencegah komplikasi organ dalam.
Leptospirosis ringan biasanya bersifat self-limiting disease dan perawatan suportif sudah cukup. Namun, kasus dengan gejala berat memerlukan antibiotik untuk mencegah komplikasi serius dan potensi fatal.
Penanganan medis yang cepat juga dapat mengurangi risiko kerusakan organ seperti hati dan ginjal. Kewaspadaan terhadap tanda awal penyakit sangat penting, terutama pada musim hujan yang meningkatkan paparan lingkungan basah.
Masyarakat diimbau tidak menunda pemeriksaan meskipun gejala awal terlihat ringan. Penanganan tepat waktu dapat mempercepat pemulihan dan mencegah perkembangan infeksi menjadi kondisi kritis.
Selain itu, edukasi masyarakat tentang risiko leptospirosis menjadi langkah preventif penting. Informasi yang tepat membantu warga mengetahui gejala awal dan prosedur pencegahan yang efektif.
Tips Praktis Mengurangi Risiko Leptospirosis di Musim Hujan
Gunakan selalu alat pelindung diri saat melewati genangan atau area banjir. Jangan lupa untuk menutup luka dengan plester kedap air agar bakteri tidak masuk melalui kulit yang terbuka.
Rutin mencuci tangan dan kaki setelah kontak dengan air banjir merupakan langkah sederhana tapi efektif. Selalu menjaga kebersihan lingkungan sekitar rumah agar tidak menjadi sarang tikus juga penting dilakukan.
Selain itu, membuang sampah pada tempatnya dan menutup akses masuk hewan pengerat dapat mengurangi kemungkinan kontaminasi. Langkah-langkah kecil ini mampu menurunkan risiko penularan secara signifikan.
Dengan kesadaran yang tinggi, masyarakat dapat melindungi diri dari leptospirosis. Pencegahan yang konsisten lebih efektif dibandingkan penanganan setelah terinfeksi.
Waspada terhadap gejala demam tinggi, nyeri otot, dan mata merah menjadi tanda penting untuk segera memeriksakan diri. Kombinasi diagnosis dini, perlindungan diri, dan kebersihan lingkungan memastikan risiko penyakit tetap rendah meski musim hujan terus berlangsung.