JAKARTA - Harga batu bara kembali menunjukkan penguatan pada perdagangan awal minggu ini. Pada Senin, 19 Januari 2026, kontrak batu bara untuk pengiriman bulan mendatang di pasar ICE Newcastle ditutup pada level US$ 109,1 per ton.
Kenaikan ini tercatat sebagai penguatan dua hari berturut-turut. Secara kumulatif, harga terangkat sekitar 0,65% selama dua hari tersebut, menandakan momentum positif bagi komoditas energi ini.
Secara year-to-date, batu bara juga mencatat kenaikan 1,5% point-to-point. Tren ini menunjukkan bahwa meski era energi baru terbarukan sedang digalakkan, batu bara tetap memiliki peran penting dalam kebutuhan energi global.
Permintaan Batu Bara Masih Tinggi di China
China menjadi salah satu penggerak utama pasar batu bara dunia. Negara tersebut berencana menyiapkan lebih dari 100 Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) sepanjang tahun 2026.
Batu bara masih menjadi komponen dominan dalam bauran energi di China. Selama periode Oktober 2024 hingga September 2025, batu bara menyumbang 55,5% dari total kebutuhan energi nasional.
Meski fokus pada energi bersih semakin masif, permintaan batu bara di China tampak sulit tergantikan. Hal ini menunjukkan bahwa transisi energi global akan berjalan bertahap dan tetap membutuhkan energi konvensional dalam jangka pendek.
Analisis Teknikal Menunjukkan Zona Bullish
Dari perspektif teknikal harian, harga batu bara berada di zona bullish. Indikator Relative Strength Index (RSI) 14 hari berada pada angka 55, menandakan sentimen pasar yang masih positif.
Namun, indikator Stochastic RSI 14 hari menembus angka 93, menunjukkan kondisi overbought. Artinya, meski tren bullish masih ada, harga berpotensi terkoreksi dalam jangka pendek.
Cermati pivot point di level US$ 107 per ton. Jika harga menembus support tersebut, kemungkinan batu bara akan menguji level US$ 106 hingga US$ 105 per ton.
Sebaliknya, jika momentum bullish masih kuat, harga berpeluang menembus resisten US$ 110 per ton. Penembusan level ini bisa mendorong harga lebih tinggi ke rentang US$ 113 hingga US$ 117 per ton.
Tantangan dan Peluang di Pasar Global
Fluktuasi harga batu bara juga dipengaruhi faktor cuaca dan gangguan operasional tambang. Hujan lebat di beberapa wilayah penambangan, misalnya, dapat mengganggu pasokan dan memicu kenaikan harga lebih lanjut.
Di sisi lain, pengembangan energi terbarukan yang masif tetap menjadi faktor jangka panjang yang menekan permintaan batu bara. Namun, hingga saat ini, kebutuhan listrik dari PLTU masih menjadi tulang punggung pasokan energi di banyak negara.
Dengan begitu, pasar batu bara akan terus menunjukkan volatilitas. Investor dan pelaku pasar disarankan untuk tetap waspada terhadap level support dan resisten agar strategi perdagangan tetap aman.
Secara keseluruhan, tren harga batu bara di awal tahun 2026 menunjukkan sinyal positif namun penuh risiko koreksi. Pergerakan teknikal dan kondisi permintaan global menjadi kunci utama untuk memprediksi arah harga selanjutnya.