JAKARTA - Transportasi logistik berbasis rel kereta api terus menunjukkan peran strategis dalam mendukung distribusi komoditas nasional.
Pemanfaatan jalur kereta api dinilai mampu menghadirkan efisiensi besar dibandingkan angkutan darat konvensional. Hal ini tercermin dari aktivitas logistik yang berlangsung di wilayah Lampung dan Sumatera Selatan.
Stasiun Kereta Api Bandar Lampung menjadi salah satu simpul penting dalam pergerakan logistik berbasis rel. Infrastruktur yang tersedia memungkinkan angkutan barang berjalan beriringan dengan layanan penumpang. Kondisi ini memperlihatkan potensi besar pemanfaatan jalur kereta api untuk mendukung distribusi komoditas utama.
Anggota Komisi VII DPR RI Fraksi Partai Gerindra, Bambang Haryo Soekartono, menilai pemanfaatan jalur ini perlu terus dioptimalkan. Ia menyoroti kapasitas jalur yang sudah tersedia sebagai modal awal penguatan sistem logistik. Menurutnya, peran kereta api semakin relevan di tengah tingginya kebutuhan distribusi barang.
Kapasitas Jalur dan Peran Stasiun Bandar Lampung
Stasiun Kereta Api Bandar Lampung memiliki enam trek jalur kereta api yang dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan. Jalur tersebut tidak hanya melayani penumpang, tetapi juga difungsikan sebagai lintasan angkutan logistik. Infrastruktur ini menjadi penopang utama pergerakan barang antarwilayah.
Saat ini, terdapat 27 train set kereta logistik yang melintas di jalur tersebut. Total rangkaian mencapai 61 gerbong dengan kapasitas angkut masing-masing 47 ton batu bara. Kapasitas ini menunjukkan kemampuan besar angkutan rel dalam menopang kebutuhan distribusi komoditas.
Keberadaan jalur ganda antara layanan penumpang dan logistik memperlihatkan efisiensi pemanfaatan infrastruktur. Sistem ini memungkinkan distribusi berjalan tanpa harus membebani moda transportasi lain. Dengan pengelolaan yang tepat, kapasitas tersebut dapat dimaksimalkan secara berkelanjutan.
Efisiensi Angkutan Batu Bara Berbasis Rel
Menurut Bambang Haryo, dengan kapasitas yang tersedia, kereta api logistik mampu mengangkut rata-rata 50.000 ton batu bara per hari. Distribusi ini melayani jalur pengiriman dari Sumatera Selatan menuju Lampung. Angka tersebut menunjukkan skala besar peran kereta api dalam rantai pasok energi.
Ia menilai angkutan batu bara menggunakan kereta api sangat bermanfaat bagi sistem transportasi nasional. Kapasitas tersebut setara dengan menggantikan sekitar 100.000 truk per hari. Perhitungan ini didasarkan pada asumsi kapasitas angkut 25 ton per truk.
“Ini baru satu komoditas. Apalagi bila rel kereta api ini dapat dimanfaatkan untuk berbagai komoditas logistik lainnya,” ujar Bambang Haryo. Pernyataan ini menegaskan potensi besar pengembangan angkutan logistik berbasis rel. Optimalisasi jalur rel dinilai dapat memperluas manfaat ke berbagai sektor.
Perlindungan Jalan Raya dan Keselamatan Transportasi
Pemanfaatan kereta api untuk logistik tidak hanya berdampak pada efisiensi biaya dan waktu. Sistem ini juga berkontribusi dalam menjaga kondisi infrastruktur jalan raya. Berkurangnya jumlah truk berat di jalan dapat menekan laju kerusakan jalan.
Selain itu, pengalihan angkutan barang ke kereta api turut mengurangi risiko kecelakaan lalu lintas. Beban lalu lintas yang lebih ringan menciptakan kondisi jalan yang lebih aman bagi pengguna lainnya. Dampak ini dirasakan langsung oleh masyarakat di sepanjang jalur distribusi.
Bambang Haryo menambahkan bahwa Sumatera merupakan wilayah penghasil sumber daya alam yang sangat besar. Oleh karena itu, jalur distribusi yang efisien menjadi kebutuhan utama. Optimalisasi kereta api dinilai mampu menjawab tantangan tersebut secara menyeluruh.
Potensi Besar Jalur Logistik Sumatera
Pulau Sumatera memiliki peran strategis sebagai lumbung berbagai komoditas nasional. Sumber daya alam yang melimpah membutuhkan sistem distribusi yang andal dan berkelanjutan. Kereta api menjadi solusi yang dinilai paling relevan untuk menjawab kebutuhan tersebut.
Pemanfaatan jalur rel secara optimal memungkinkan pengangkutan barang dalam jumlah besar secara konsisten. Hal ini berdampak pada kelancaran pasokan dan stabilitas distribusi. Dengan dukungan infrastruktur yang memadai, potensi logistik Sumatera dapat terus ditingkatkan.
Bambang Haryo menekankan bahwa penguatan sistem rel akan membawa manfaat jangka panjang. Selain efisiensi logistik, sistem ini juga mendukung pertumbuhan ekonomi daerah. Konektivitas antarwilayah menjadi semakin terintegrasi.
Harapan Penyelesaian Kereta Api Trans Sumatera
Sejalan dengan penguatan jalur yang sudah ada, Bambang Haryo berharap pemerintah segera merealisasikan pembangunan Kereta Api Trans Sumatera. Saat ini, jalur yang belum tersambung masih tersisa sekitar 1.000 kilometer. Penyelesaian jalur tersebut dinilai sangat krusial bagi konektivitas regional.
Menurutnya, keberadaan Kereta Api Trans Sumatera akan memberikan manfaat besar bagi transportasi logistik dan penumpang super massal. Jalur ini memungkinkan pergerakan barang dan manusia dalam skala besar secara lebih efisien. Dampaknya akan dirasakan langsung oleh sektor ekonomi dan sosial.
Penyelesaian jalur tersebut juga diyakini mampu mempercepat pertumbuhan ekonomi Sumatera dan nasional. Infrastruktur rel yang terintegrasi menciptakan daya saing wilayah yang lebih kuat. Harapan ini menjadi bagian dari upaya mendorong pembangunan berkelanjutan berbasis transportasi massal.