JAKARTA - Pergerakan saham perbankan mulai menunjukkan sinyal pemulihan setelah sempat tertekan oleh aksi jual investor asing.
Dinamika ini muncul di tengah perhatian pasar terhadap isu transparansi free float dan struktur kepemilikan saham. Meski tekanan sempat terasa, pelaku pasar menilai peluang rebound masih terbuka.
Aksi jual bersih investor asing sebelumnya memicu koreksi harga saham perbankan dalam beberapa hari perdagangan. Kondisi tersebut dipicu oleh sorotan MSCI terhadap aspek transparansi dan struktur kepemilikan. Namun, tekanan tersebut dinilai bersifat sementara dan tidak mencerminkan perubahan fundamental.
Memasuki perdagangan berikutnya, saham perbankan terpantau mulai menghijau. Perubahan sentimen ini memberi sinyal bahwa pasar mulai melakukan penyesuaian setelah tekanan jual mereda. Optimisme ini membuka ruang bagi potensi rebound lanjutan.
Penguatan Saham Dorong Perbaikan Indeks
Pada penutupan perdagangan, saham perbankan berhasil memasuki zona hijau. PT Bank Central Asia Tbk tercatat menguat 2,49% menjadi Rp 7.200. Kenaikan ini menunjukkan minat beli yang kembali muncul di saham perbankan berkapitalisasi besar.
Penguatan saham BBCA juga ditopang oleh nilai transaksi yang besar. Nilai transaksi saham ini tercatat mencapai Rp 9,8 triliun. Tingginya transaksi mencerminkan aktivitas akumulasi yang cukup signifikan.
Apresiasi saham BBCA turut mendorong perbaikan kinerja Indeks Harga Saham Gabungan. Mengingat bobot BBCA yang besar terhadap indeks, penguatannya memberi kontribusi positif. Setelah sempat terkoreksi 10%, IHSG perlahan rebound dan menyisakan koreksi harian 1,06%.
Fundamental Perbankan Dinilai Tetap Solid
Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai tekanan dalam dua hari terakhir belum mencerminkan kondisi fundamental perbankan nasional. Hingga kini, sektor perbankan masih ditopang permodalan yang kuat. Selain itu, likuiditas dinilai memadai dengan kinerja laba yang relatif stabil.
Menurut Hendra, sentimen eksternal lebih dominan memengaruhi pergerakan harga saham. Faktor fundamental belum menunjukkan adanya pelemahan signifikan. Oleh karena itu, tekanan yang terjadi dinilai bersifat jangka pendek.
Katalis saham BBCA juga ditandai dengan rencana pembelian kembali saham. Emiten perbankan milik Grup Djarum tersebut menyiapkan dana sebesar Rp 5 triliun. Langkah ini dinilai dapat menjadi penopang kepercayaan investor.
Kinerja Keuangan dan Valuasi Jadi Daya Tarik
BCA memastikan bahwa pihaknya akan tetap menjaga porsi saham publik sesuai ketentuan. Buyback saham tidak akan memiliki dampak material terhadap bisnis perusahaan. Kebijakan ini diposisikan sebagai langkah pengelolaan struktur permodalan.
Katalis positif juga datang dari kinerja sepanjang tahun 2025. BCA melaporkan laba bersih sebesar Rp 57,5 triliun. Laba tersebut masih tumbuh hampir 5% secara tahunan di tengah kondisi perbankan yang bergejolak.
Dalam risetnya, Victor Stefano analis BRI Danareksa Sekuritas menyoroti laba bersih BBCA sedikit lebih tinggi dari perkiraan mereka. Namun, kinerja tersebut dinilai masih sejalan dengan konsensus pasar. Hal ini memperkuat persepsi stabilitas kinerja BBCA.
Rekomendasi Analis dan Strategi Investor
BRI Danareksa menilai potensi penurunan valuasi saham BBCA relatif rendah. Secara price to book value, saham ini telah turun ke dua standar deviasi rata-rata valuasi historis. Kondisi tersebut membuat risiko penurunan lanjutan dinilai terbatas.
Riset IndoPremier Sekuritas menyebut valuasi BBCA menarik di bawah rata-rata 10 tahun. Riset tersebut menyoroti perbaikan kualitas aset. Rasio loan at risk BBCA tercatat turun menjadi 4,8% dan non performing loan 1,7%.
Kedua broker menyematkan rekomendasi beli pada saham BBCA dengan target harga berbeda. BRI Danareksa menetapkan target harga Rp 11.400 per saham. Sementara IndoPremier Sekuritas memberikan target harga Rp 10.600.
Hendra menilai katalis pemulihan saham perbankan bergantung pada konsistensi kinerja keuangan. Fokus utama berada pada pertumbuhan laba dan kemampuan menjaga margin bunga. Faktor ini menjadi kunci di tengah dinamika suku bunga.
“Dari sisi timing, saham perbankan mulai kembali menarik ketika tekanan jual asing melandai, indeks saham mampu bertahan di atas level support kunci, serta muncul indikasi akumulasi bertahap pada saham-saham bank besar,” kata Hendra. Ia menilai BBCA menunjukkan ketahanan kuat dengan dukungan fundamental solid dan likuiditas tinggi.
Meski demikian, volatilitas pasar masih berpotensi tinggi dalam jangka pendek. Strategi masuk bertahap dengan disiplin manajemen risiko dinilai penting bagi investor. Secara keseluruhan, pelemahan saham perbankan dinilai sebagai fase penyesuaian, bukan perubahan arah fundamental.