BNI Siapkan Buyback Saham untuk Perkuat Nilai Perusahaan

Jumat, 30 Januari 2026 | 15:52:26 WIB
BNI Siapkan Buyback Saham untuk Perkuat Nilai Perusahaan

JAKARTA - Di tengah dinamika pasar saham yang penuh tantangan, langkah strategis menjadi kunci menjaga kepercayaan investor. 

Sektor perbankan nasional menghadapi tekanan sepanjang tahun akibat ketidakpastian global. Kondisi tersebut mendorong emiten besar mengambil kebijakan korporasi yang terukur.

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk mengumumkan rencana pembelian kembali saham atau buyback saham BBNI. Nilai buyback yang disiapkan mencapai Rp 1,5 triliun. Langkah ini menjadi respons perseroan terhadap tekanan pasar saham perbankan sepanjang tahun 2025.

Rencana tersebut disampaikan melalui keterbukaan informasi resmi kepada otoritas terkait dan bursa. Manajemen menilai kondisi harga saham saat ini belum mencerminkan fundamental perusahaan. Buyback diharapkan menjadi sinyal positif bagi investor.

Skema Anggaran dan Sumber Pendanaan

Dalam keterbukaan informasi, manajemen BNI menjelaskan rincian anggaran buyback saham. Dana yang dialokasikan telah mencakup biaya transaksi dan penyimpanan. Selain itu, terdapat commitment fee yang diperkirakan sebesar 0,32% dari nilai eksekusi.

Perseroan menegaskan bahwa nilai nominal saham yang dibeli kembali tidak akan melebihi 10% dari modal ditempatkan. Batas ini sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Kebijakan tersebut dirancang untuk menjaga keseimbangan struktur permodalan.

Sumber dana buyback berasal dari internal perusahaan. Dana tersebut menggunakan arus kas bebas berupa saldo laba yang belum ditentukan penggunaannya. Manajemen memastikan tidak ada penggunaan dana hasil penawaran umum maupun pinjaman.

Pertimbangan Strategis dan Kinerja Saham

Keputusan buyback didorong oleh kinerja harga saham BBNI yang dinilai tertinggal. Hingga akhir tahun 2025, saham BBNI hanya tumbuh sekitar 0,5% secara tahunan. Kinerja tersebut dipengaruhi tekanan sektor perbankan nasional.

Risiko geopolitik global menjadi salah satu pemicu tekanan pasar. Ancaman perang tarif global turut memperburuk sentimen investor. Selain itu, tantangan likuiditas domestik memberi tekanan tambahan pada sektor keuangan.

Meski demikian, manajemen menilai fundamental BNI tetap solid. Buyback dipandang sebagai langkah untuk menegaskan nilai intrinsik perusahaan. Kebijakan ini diharapkan mampu meningkatkan persepsi pasar.

Dampak Buyback terhadap Rasio Keuangan

Aksi buyback diperkirakan menurunkan aset dan ekuitas sebesar nilai transaksi. Namun, BNI menegaskan dampak operasionalnya tidak bersifat material. Proyeksi tersebut mengacu pada proforma laporan keuangan terbaru.

Laba Bersih per Saham diproyeksikan meningkat setelah buyback. Nilai EPS diperkirakan naik dari Rp 499 menjadi Rp 504. Kenaikan ini terjadi akibat berkurangnya jumlah saham beredar.

Rasio permodalan juga diproyeksikan tetap kuat. Capital Adequacy Ratio diperkirakan turun tipis dari 21,3% menjadi 21,1%. Return on Equity justru meningkat dari 12,7% menjadi 12,8%.

Jadwal Pelaksanaan dan Arah Pengelolaan Saham

Untuk merealisasikan rencana buyback, BNI akan meminta persetujuan pemegang saham. Persetujuan tersebut akan dimintakan melalui Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan. Tahapan ini menjadi syarat utama pelaksanaan aksi korporasi.

Setelah memperoleh persetujuan, buyback akan dilakukan dalam periode satu tahun. Saham hasil pembelian kembali akan dicatat sebagai treasury stock. Pengelolaannya dilakukan sesuai ketentuan yang berlaku.

Saham treasury tersebut dapat dialihkan di masa mendatang. Opsi pengalihan mencakup penjualan kembali di bursa atau penggunaan untuk program kepemilikan saham karyawan dan pengurus. Kebijakan ini memberi fleksibilitas strategis bagi perseroan.

Langkah buyback ini dipandang memberi sejumlah poin penting bagi investor. Tujuan utamanya adalah mengurangi tekanan jual dan menstabilkan harga saham. Potensi kenaikan EPS menjadi daya tarik tambahan.

Dari sisi permodalan, posisi CAR tetap berada di level aman. Proyeksi CAR berada jauh di atas batas minimum yang ditetapkan regulator. Hal ini menunjukkan keamanan struktur modal perseroan.

Sebagai bank milik negara, BNI memiliki peran strategis di industri perbankan nasional. BNI tercatat sebagai bank terbesar keempat di Indonesia berdasarkan aset. Kinerja tersebut didukung jaringan usaha yang terintegrasi.

Dalam memberikan layanan keuangan, BNI didukung sejumlah anak perusahaan. Lini usaha tersebut mencakup perbankan syariah, pembiayaan, sekuritas, asuransi, dan remitansi. Sinergi ini memperkuat posisi BNI di pasar nasional.

Dengan strategi buyback saham ini, BNI menegaskan komitmen menjaga nilai perusahaan. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari strategi jangka panjang. Manajemen optimistis langkah ini memberi manfaat berkelanjutan bagi pemegang saham.

Terkini