Produksi Minyak PHM Melonjak Awal Tahun 2026

Kamis, 29 Januari 2026 | 13:21:05 WIB
Produksi Minyak PHM Melonjak Awal Tahun 2026

JAKARTA - Awal tahun 2026 menjadi fase penting bagi PT Pertamina Hulu Mahakam dalam menjaga kinerja produksi. 

Dari lapangan migas yang telah lama beroperasi, perusahaan justru mencatat peningkatan signifikan. Capaian ini memperkuat optimisme pengelolaan lapangan tua tetap memiliki prospek positif.

Melalui optimalisasi lapangan, PHM menunjukkan kemampuan adaptasi terhadap tantangan teknis. Fokus utama diarahkan pada peningkatan produksi minyak yang berkelanjutan. Langkah ini sekaligus menjadi bukti konsistensi perusahaan dalam mendukung pasokan energi nasional.

Lonjakan produksi tersebut tercapai dari pemanfaatan teknologi dan pengalaman panjang. Pendekatan ini dilakukan tanpa mengubah arah kebijakan utama perusahaan. Hasilnya, kontribusi produksi minyak mengalami peningkatan nyata.

Tambahan Produksi dari Sumur HPPO

PHM berhasil meningkatkan produksi minyak melalui dua sumur High Pour Point Oil di Lapangan Handil. Dari pengembangan tersebut, tambahan produksi mencapai 2.000 barel minyak per hari. Angka ini jauh melampaui proyeksi awal Work Program & Budget 2026.

Sebelumnya, target tambahan produksi dari sumur tersebut hanya diperkirakan sekitar 400 barel per hari. Realisasi yang melampaui ekspektasi ini memperlihatkan efektivitas strategi operasional. Keberhasilan tersebut menjadi pencapaian penting di awal tahun berjalan.

Dengan tambahan ini, total produksi dari sumur HPPO PHM kini mencapai 3.000 barel per hari. Angka tersebut juga mencakup satu sumur HPPO di Lapangan Tambora yang telah beroperasi sejak 2024. Kondisi ini memperkuat posisi PHM dalam menjaga stabilitas produksi minyak.

Tantangan Teknis Minyak Bertitik Tuang Tinggi

Di balik pencapaian produksi, tantangan teknis yang dihadapi tidaklah sederhana. Minyak dari sumur HPPO Handil memiliki titik tuang lebih tinggi dibandingkan temperatur operasi pipa. Selisih suhu mencapai sekitar 25 derajat Celsius sehingga berpotensi menghambat aliran produksi.

Risiko utama dari kondisi tersebut adalah minyak yang mudah mengental. Jika tidak ditangani, aliran minyak dapat terhambat dan menurunkan efektivitas produksi. Oleh karena itu, solusi teknis menjadi kunci keberhasilan pengelolaan sumur HPPO.

PHM kemudian menerapkan pendekatan berbasis inovasi untuk menjawab tantangan tersebut. Senior Manager Production PHM, Robert Roy Antoni, menjelaskan bahwa penggunaan chemical treatment Pour Point Depressant mampu menurunkan titik tuang minyak secara signifikan. 

“Blok Mahakam merupakan lapangan mature dengan karakter sumur yang semakin menantang. Namun, kondisi itu tidak menyurutkan komitmen kami untuk terus mencari solusi agar sumur kompleks dapat berproduksi optimal,” ujarnya.

Pengalaman dan Inovasi Operasional

Keberhasilan tersebut tidak lepas dari pengalaman panjang PHM dalam mengelola lapangan migas. General Manager PHM, Setyo Sapto Edi, menegaskan bahwa kompetensi yang terbangun secara konsisten menjadi fondasi utama. Inovasi berjalan seiring dengan penguasaan karakter lapangan.

Sebelumnya, PHM juga sukses mengoperasikan 17 sumur minyak beremulsi. Pengoperasian dilakukan dengan memanfaatkan fasilitas lapangan gas seperti Tunu, Tambora, Sisi Nubi, Peciko, dan South Mahakam. Dari langkah tersebut, tambahan produksi mencapai 5.200 barel per hari berdasarkan pengukuran kepala sumur.

Capaian tersebut memperkuat keyakinan bahwa lapangan mature masih memiliki potensi besar. Optimalisasi fasilitas yang ada menjadi strategi utama dalam menjaga efisiensi. Pendekatan ini memperlihatkan keseimbangan antara inovasi dan keberlanjutan operasi.

Dukungan terhadap Ketahanan Energi Nasional

Pengembangan sumur HPPO dan sumur beremulsi menegaskan arah strategis PHM dalam pengelolaan lapangan tua. Berkat tambahan produksi, rata-rata produksi minyak PHM pada awal 2026 mencapai sekitar 25 ribu barel per hari. Angka ini sekitar 20 persen lebih tinggi dibandingkan target WP&B pemerintah.

“Kami juga meyakini keberlanjutan operasi dan bisnis menjadi kunci mendukung transisi energi Pertamina, sekaligus berkontribusi terhadap target nasional satu juta barel minyak dan 12 miliar standar kaki kubik gas pada 2029 atau lebih cepat,” tegas Setyo. Pernyataan tersebut mencerminkan komitmen jangka panjang perusahaan terhadap energi nasional.

PHM memandang investasi di sektor hulu migas tetap memiliki peran penting. Eksplorasi dan eksploitasi diperlukan untuk menjaga kesinambungan produksi. Langkah ini sejalan dengan upaya mendukung ketahanan energi nasional dan swasembada energi.

Terkini