Harga Batu Bara Dunia Berbalik Arah Usai Tertekan Empat Hari Dipengaruhi Cuaca Ekstrem Global

Kamis, 29 Januari 2026 | 08:36:11 WIB
Harga Batu Bara Dunia Berbalik Arah Usai Tertekan Empat Hari Dipengaruhi Cuaca Ekstrem Global

JAKARTA - Pergerakan harga batu bara kembali menarik perhatian setelah sempat tertekan selama beberapa hari terakhir. Setelah mengalami tekanan beruntun, komoditas energi ini akhirnya menunjukkan tanda pemulihan di tengah dinamika cuaca dan kebijakan energi global.

Dalam empat hari perdagangan sebelumnya, harga batu bara tercatat terus melemah. Kondisi tersebut sempat memicu kekhawatiran pasar mengenai keberlanjutan permintaan batu bara dunia.

Merujuk Refinitiv, harga batu bara pada perdagangan Rabu, 28 Januari 2026, ditutup di level US$109,5 per ton. Posisi ini mencerminkan penguatan sebesar 0,5 persen dibandingkan hari sebelumnya.

Penguatan ini sekaligus memutus tren negatif harga batu bara yang telah ambruk sebesar 3,53 persen dalam empat hari beruntun. Sinyal pemulihan ini muncul di tengah kabar positif dari Amerika Serikat dan China.

Dorongan Permintaan Batu Bara dari Amerika Serikat

Sentimen pasar membaik setelah adanya laporan peningkatan penggunaan listrik berbasis batu bara di Amerika Serikat. Kondisi cuaca ekstrem menjadi faktor utama yang mendorong lonjakan tersebut.

Badan Administrasi Informasi Energi Amerika Serikat atau EIA melaporkan kenaikan signifikan penggunaan listrik dari batu bara pada pekan lalu. Peningkatan ini terjadi ketika Badai Musim Dingin Fern melanda sebagian besar wilayah negara tersebut.

Selama badai berlangsung, pembangkit listrik berbahan bakar batu bara di 48 negara bagian daratan atau Lower 48 meningkat 31 persen dibandingkan pekan sebelumnya. Lonjakan ini mencerminkan peran penting batu bara dalam menjaga pasokan listrik saat cuaca ekstrem.

Kondisi tersebut sangat kontras dengan situasi pada awal Januari 2026. Pada periode itu, cuaca yang lebih hangat membuat produksi listrik berbasis batu bara lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada 2025.

Tidak hanya batu bara, penggunaan gas alam juga mengalami peningkatan. Selama pekan Badai Musim Dingin Fern, pembangkit listrik berbasis gas alam di Lower 48 meningkat 14 persen dibandingkan pekan sebelumnya.

Sebaliknya, pembangkit listrik dari tenaga surya, angin, dan hidro justru mengalami penurunan produksi. Produksi listrik dari nuklir tercatat relatif tidak mengalami perubahan berarti.

Dalam periode tersebut, batu bara menyumbang 21 persen dari total pembangkitan listrik di Lower 48. Angka ini naik dari 17 persen pada pekan sebelumnya.

Dengan porsi tersebut, batu bara menjadi sumber energi terbesar kedua setelah gas alam. Gas alam berkontribusi sekitar 38 persen, sementara nuklir berada di posisi ketiga dengan porsi 18 persen.

Operator jaringan listrik diketahui masih sangat mengandalkan pembangkit batu bara. Armada pembangkit ini menjadi andalan ketika cuaca ekstrem terjadi atau ketika permintaan listrik melonjak tajam.

Ketergantungan ini juga terlihat saat output dari sumber energi lain menurun. Pola serupa pernah terjadi pada gelombang dingin ekstrem Februari 2021 dan Januari 2025.

Sinyal Penguatan Harga dari Pasar China

Selain Amerika Serikat, sentimen positif juga datang dari China. Pasar batu bara termal domestik China dilaporkan mengalami penguatan tipis di sejumlah pelabuhan utara.

Penguatan ini didorong oleh ketersediaan pasokan yang semakin ketat. Di saat yang sama, perusahaan utilitas mulai melakukan restock menjelang periode liburan.

Aktivitas pengisian ulang stok tersebut menjadi salah satu faktor penopang harga. Namun demikian, ruang kenaikan harga batu bara di China diperkirakan tetap terbatas.

Pembeli cenderung bersikap hati-hati menjelang libur Tahun Baru Imlek yang jatuh pada pertengahan Februari 2026. Permintaan yang belum terlalu kuat membuat harga sulit untuk melonjak tajam.

Secara umum, pasar batu bara termal di China masih berada dalam sentimen berhati-hati. Pelaku pasar diperkirakan akan menunggu perkembangan setelah periode liburan berakhir.

Meski demikian, terdapat sinyal kenaikan harga di beberapa wilayah tambang utama China. Kenaikan tersebut dimulai dari langkah penambang besar yang menaikkan harga penawaran.

Langkah penambang besar ini kemudian memengaruhi pasar secara lebih luas. Dampaknya mulai terasa pada transaksi di tingkat hilir.

Dinamika Batu Bara di Tengah Transisi Energi India

Dari India, dinamika pasar batu bara juga mencerminkan perubahan struktural. India melaporkan bahwa pembangkit listrik tenaga uap berbasis batu bara yang tidak fleksibel membatasi pemanfaatan energi terbarukan.

Kondisi ini terjadi seiring kapasitas energi terbarukan India yang terus tumbuh. Keterbatasan fleksibilitas PLTU membuat integrasi energi bersih menjadi tantangan tersendiri.

Pada 2025, penggunaan pembangkit listrik berbasis batu bara di India menurun untuk pertama kalinya dalam setengah abad. Penurunan ini tercatat sebesar 3 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Penurunan tersebut didorong oleh lonjakan rekor pembangkitan listrik bersih. Selain itu, berkurangnya permintaan pendingin udara turut berkontribusi.

Faktor lain yang memengaruhi adalah perlambatan jangka panjang pertumbuhan permintaan listrik. Kombinasi faktor ini menekan kebutuhan batu bara di sektor kelistrikan India.

Penurunan penggunaan batu bara ini dipandang sebagai pergeseran yang berpotensi bersejarah. Dampaknya tidak hanya dirasakan di sektor energi, tetapi juga pada emisi karbon dioksida.

Emisi karbon dioksida diketahui berkontribusi terhadap cuaca ekstrem di berbagai belahan dunia. Oleh karena itu, perubahan pola energi India menjadi sorotan global.

Meski begitu, batu bara masih jauh dari tergantikan sepenuhnya. Batu bara tetap menjadi sumber listrik dominan di India hingga saat ini.

Sumber energi lain seperti nuklir dan hidro memang turut berperan. Namun kontribusinya belum cukup besar untuk menggantikan dominasi batu bara secara menyeluruh.

Dengan kondisi tersebut, pasar batu bara global masih menghadapi dinamika yang kompleks. Faktor cuaca ekstrem, kebijakan energi, dan transisi menuju energi bersih terus membentuk arah pergerakan harga.

Pemulihan harga setelah tekanan empat hari ini menunjukkan bahwa batu bara masih memiliki peran strategis. Dalam jangka pendek, faktor cuaca dan kebutuhan energi mendesak masih menjadi penopang utama.

Terkini