JAKARTA - Industri logistik dan freight forwarder di Indonesia memasuki fase baru yang lebih kompleks pada 2026. Hal ini diungkapkan oleh Harry Sutanto, Wakil Ketua Umum Bidang Maritim & Pelabuhan DPP ALFI/ILFA, saat memaparkan prospek sektor logistik nasional.
Meskipun ekonomi domestik relatif stabil, sektor logistik menghadapi tekanan eksternal yang tinggi. Faktor geopolitik, perubahan iklim, dan pola perdagangan global memunculkan tantangan struktural yang serius bagi pelaku industri.
Persaingan Semakin Ketat Pasca Pandemi
Menurut Harry, pasca pandemi industri logistik mengalami liberalisasi kepemilikan asing hingga 100 persen. Kondisi ini memicu persaingan yang sangat padat dan membuat pasar bersifat “red ocean”.
Perusahaan logistik nasional dituntut menjadi lebih agile, adaptif, dan efisien. Keberlangsungan bisnis kini bergantung pada kemampuan bertahan, membaca momentum, dan mengelola risiko dengan cermat.
Di tengah tekanan geopolitik yang menekan profitabilitas, strategi kolaborasi menjadi kunci untuk menjaga daya tahan industri. Harry menekankan bahwa perusahaan perlu memadukan efisiensi operasional dengan ketahanan strategis.
Dampak Tekanan Global Terhadap Operasional Logistik
Salah satu tekanan utama datang dari konflik di kawasan Laut Merah. Kapal yang semula melewati Terusan Suez kini harus mengambil jalur lebih panjang melalui Tanjung Harapan, menambah waktu tempuh 15–18 hari.
Biaya operasional kapal meningkat signifikan akibat perubahan jalur. Hal ini menjadi tantangan tambahan bagi perusahaan logistik yang harus menyesuaikan perencanaan biaya dan jadwal pengiriman.
Selain itu, isu perubahan iklim juga berdampak pada perencanaan logistik. Peristiwa cuaca ekstrem, seperti badai dan gelombang tinggi, dapat mengganggu distribusi barang dan memicu biaya tambahan.
Fragmentasi perdagangan global menambah kompleksitas strategi operasional. Perusahaan harus memperhitungkan risiko tarif, regulasi impor-ekspor, dan kebijakan proteksionis dari berbagai negara.
Strategi Mitigasi Risiko dan Kolaborasi
Untuk menghadapi tekanan ini, kolaborasi lintas pemain menjadi langkah penting. Perusahaan logistik perlu bekerja sama dengan sesama operator domestik maupun perusahaan global untuk menjaga kontinuitas layanan.
Strategi mitigasi risiko mencakup diversifikasi jalur pengiriman dan perencanaan alternatif. Hal ini memastikan barang tetap dapat didistribusikan meski terjadi gangguan di rute utama.
Teknologi juga menjadi alat penting untuk meningkatkan efisiensi. Sistem tracking, manajemen rantai pasok berbasis digital, dan prediksi demand dapat membantu mengurangi dampak risiko eksternal.
Bagi pelaku industri, kemampuan beradaptasi merupakan kunci utama bertahan dan tumbuh. Pengembangan sumber daya manusia yang kompeten serta inovasi layanan logistik menjadi faktor penentu daya saing.
Tren industri logistik 2026 menunjukkan peluang masih terbuka seiring aktivitas ekonomi yang stabil. Namun, persaingan global dan tekanan eksternal menuntut transformasi berkelanjutan dari semua pihak.
Perusahaan logistik yang mampu menyeimbangkan efisiensi, kolaborasi, dan strategi mitigasi risiko akan lebih siap menghadapi tantangan. Mereka juga berpeluang menangkap pasar baru dan memperluas jaringan domestik maupun internasional.
Dalam kondisi pasar yang dinamis, fleksibilitas dan kemampuan membaca momentum menjadi penting. Perusahaan yang lambat beradaptasi berisiko kehilangan pangsa pasar dan profitabilitas.
Tekanan global juga mendorong pelaku industri untuk lebih kreatif dalam mengelola biaya dan meningkatkan layanan. Hal ini menjadi peluang untuk menonjolkan keunggulan kompetitif dibanding pemain asing.
Keseluruhan lanskap logistik menuntut kesiapan strategis dari perusahaan. Kombinasi efisiensi, adaptabilitas, dan kolaborasi menjadi formula utama untuk bertahan di era persaingan ketat.
Bagi industri, fase baru ini sekaligus membuka kesempatan untuk memperkuat posisi Indonesia dalam perdagangan global. Pelaku logistik yang tanggap terhadap dinamika eksternal akan mendapat keuntungan maksimal.
Dengan strategi tepat, perusahaan dapat mengubah tantangan menjadi peluang pertumbuhan jangka panjang. Hal ini penting agar sektor logistik tetap resilient di tengah ketidakpastian global.