JAKARTA - Perum Bulog mulai mengakselerasi penyerapan gabah petani sejak awal tahun.
Sebagai langkah strategis menjaga ketahanan pangan nasional. Langkah ini dilakukan seiring dimulainya musim panen di berbagai wilayah sentra produksi padi di Indonesia.
Penyerapan gabah tersebut merupakan bagian dari penugasan pemerintah kepada Bulog. Fokus utamanya adalah melindungi petani dari fluktuasi harga sekaligus memastikan ketersediaan stok beras nasional tetap aman.
Dengan target penyerapan mencapai 4 juta ton, Bulog menaikkan capaian pengadaan dibandingkan tahun sebelumnya. Target ini diharapkan mampu memperkuat Cadangan Beras Pemerintah secara berkelanjutan.
Komitmen Awal Tahun Menjaga Harga Petani
Penyerapan gabah telah dilakukan Bulog sejak awal tahun di berbagai wilayah. Langkah ini menegaskan keseriusan Bulog dalam menjaga keseimbangan antara kepentingan petani dan stabilitas pangan nasional.
Kepala Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menegaskan bahwa kebijakan ini bertujuan memastikan petani memperoleh harga yang layak. Selain itu, pengadaan dilakukan untuk memperkuat cadangan beras pemerintah.
"Sudah dilakukan sejak awal tahun. Kita pastikan petani mendapatkan harga yang layak sekaligus menjaga ketersediaan stok beras nasional," ujar Ahmad Rizal Ramdhani dalam keterangannya.
Fokus Pengadaan Mengacu Harga Pembelian Pemerintah
Pada tahun 2026, Bulog menegaskan penyerapan gabah dan beras difokuskan dari hasil panen petani lokal. Kebijakan ini dilakukan dengan mengacu pada Harga Pembelian Pemerintah yang telah ditetapkan.
Harga Pembelian Pemerintah ditetapkan sebesar Rp6.500 per kilogram untuk Gabah Kering Panen. Sementara harga beras ditetapkan Rp12.000 per kilogram.
Kebijakan HPP tersebut diharapkan mampu memberikan kepastian harga bagi petani. Dengan begitu, petani tetap memiliki semangat produksi di tengah dinamika pasar pangan.
Sentra Sumatera Mulai Serap Panen Awal Tahun
Wilayah Sumatera menjadi salah satu fokus awal penyerapan gabah Bulog. Penyerapan dilakukan seiring masuknya masa panen pada awal tahun di sejumlah daerah.
Beberapa wilayah yang telah menjalankan penyerapan antara lain Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Bengkulu, dan Lampung. Aktivitas ini berlangsung bertahap mengikuti jadwal panen.
Penyerapan di Sumatera menjadi bagian penting dalam menjaga pasokan nasional. Wilayah ini selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung pangan utama Indonesia.
Pulau Jawa Tetap Jadi Penopang Utama Pengadaan
Di Pulau Jawa, penyerapan gabah dilakukan secara merata di berbagai provinsi. Wilayah yang terlibat mencakup Jawa Barat, DKI Jakarta dan Banten, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, serta Jawa Timur.
Pulau Jawa tetap memegang peran strategis dalam pengadaan gabah nasional. Produksi yang besar menjadikan wilayah ini sebagai tulang punggung ketahanan pangan.
Target penyerapan di Jawa juga ditingkatkan dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini sejalan dengan komitmen Bulog menjaga pasokan dan harga di tingkat petani.
Wilayah Timur Diperkuat Untuk Stok Nasional Merata
Penyerapan gabah dan beras juga dilakukan di wilayah Indonesia Tengah dan Timur. Daerah yang terlibat antara lain Sulawesi, Kalimantan, Nusa Tenggara Barat, Maluku, hingga Papua.
Langkah ini menegaskan bahwa penguatan stok nasional tidak hanya bergantung pada wilayah barat Indonesia. Pemerataan pengadaan menjadi fokus penting Bulog.
Dengan keterlibatan wilayah timur, Bulog memastikan distribusi dan stok beras nasional lebih seimbang. Pendekatan ini diharapkan memperkuat ketahanan pangan jangka panjang.
Optimisme Bulog Capai Target Pengadaan Nasional
Bulog optimistis pengadaan gabah dan beras dalam negeri dapat tercapai sesuai target. Penyerapan yang dimulai sejak awal tahun menjadi modal penting pencapaian tersebut.
Upaya ini juga menunjukkan peran Bulog sebagai stabilisator pangan nasional. Selain menjaga stok, Bulog berperan langsung dalam melindungi petani.
"Bulog optimistis pengadaan gabah dan beras dalam negeri tahun 2026 dapat tercapai, sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional secara berkelanjutan," pungkasnya.