JAKARTA - Bencana alam yang melanda Sumatra dan Aceh pada akhir 2025 berdampak signifikan pada sektor usaha kecil. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat sebanyak 2.824 industri kecil dan menengah (IKM) terdampak, dengan Aceh menjadi wilayah paling parah.
Di Aceh tercatat 1.960 unit IKM terdampak, sementara Sumatra Barat mencatat 647 unit, dan Sumatra Utara sebanyak 217 unit IKM terdampak. Data ini dihimpun oleh Kemenperin per 23 Januari 2026, dan mencerminkan besarnya kerugian sektor usaha mikro dan kecil di wilayah Sumatra.
Industri kecil dan menengah yang terdampak bencana beragam, mulai dari pangan hingga elektronik. Sektor ini memiliki peran strategis karena menyerap tenaga kerja lokal dan menopang perekonomian desa maupun kota kecil.
Sektor yang Paling Terdampak
IKM terdampak bencana didominasi oleh sektor pangan, furnitur, dan bahan bangunan. Total unit terdampak di ketiga sektor ini mencapai 1.706 unit, menunjukkan kerentanan industri yang berbasis kebutuhan dasar masyarakat.
Sektor lain yang turut terdampak antara lain kimia, sandang, dan kerajinan, dengan total 699 unit. Sementara itu, sektor logam, mesin, elektronika, dan alat angkut (LMEA) mencatat 408 unit terdampak, sedangkan aneka industri hanya 11 unit.
Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, menekankan bahwa dampak terbesar terjadi pada industri berbasis produksi lokal. Hal ini disebabkan karena infrastruktur dan material produksi di sektor tersebut paling mudah terkena kerusakan saat bencana.
Skema Pemulihan Pascabencana
Pemerintah tengah menyiapkan skema pemulihan untuk memulihkan sektor IKM pascabencana. Salah satu pendekatan yang diterapkan adalah berbasis sentra industri, di mana rumah produksi bersama dapat dimanfaatkan untuk mengembalikan aktivitas produksi.
Selain itu, pemulihan dilakukan melalui pendekatan unit usaha. Kelompok Usaha Bersama (KUB) industri kecil juga difasilitasi langsung agar operasional industri terdampak dapat kembali normal lebih cepat.
Pendekatan berbasis sentra diharapkan mempermudah distribusi bantuan dan sumber daya. Hal ini sekaligus mendorong kerja sama antar pelaku usaha kecil agar produktivitas dapat dipulihkan secara kolektif.
Peran Pemerintah dalam Mendukung Industri Kecil
Kemenperin menekankan bahwa dukungan pemerintah tidak hanya berupa bantuan fisik. Fasilitasi teknis, pendampingan, dan pelatihan juga menjadi bagian dari strategi pemulihan sektor IKM.
Langkah ini bertujuan agar industri kecil tidak hanya pulih dari bencana, tetapi juga meningkatkan daya tahan menghadapi risiko di masa depan. Pemerintah berharap setiap IKM dapat memanfaatkan fasilitas dan dukungan yang diberikan untuk memperkuat kapasitas produksi.
Pemerintah juga mendorong inovasi dan diversifikasi produk industri kecil. Dengan begitu, pelaku usaha dapat menyesuaikan diri terhadap perubahan pasar pascabencana dan memanfaatkan peluang ekonomi baru.
Selain itu, pemulihan industri kecil di Aceh dan Sumatra akan berdampak positif pada perekonomian regional. Aktivitas produksi yang pulih diharapkan menyerap tenaga kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan memperkuat ketahanan ekonomi lokal.
Harapan untuk Pemulihan dan Ketahanan Usaha
Agus Gumiwang menekankan bahwa program pemulihan ini harus bersifat cepat dan tepat sasaran. Dukungan pemerintah diharapkan dapat mengembalikan kapasitas produksi IKM dalam waktu singkat.
Kemenperin juga mendorong kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan komunitas lokal. Kerja sama ini dianggap kunci agar industri kecil dapat bangkit lebih tangguh menghadapi bencana di masa depan.
Pemulihan industri kecil juga menjadi tolok ukur kesiapan pemerintah dalam menghadapi bencana alam. Jika strategi ini berhasil, sektor IKM di Sumatra dan Aceh akan menjadi contoh ketahanan ekonomi pascabencana yang dapat direplikasi di wilayah lain.
Dengan skema pemulihan yang terintegrasi, pemerintah berharap para pelaku IKM dapat kembali menjalankan usahanya secara optimal. Hal ini sekaligus memperkuat ekonomi lokal, mengurangi pengangguran, dan menjaga keberlanjutan industri di tengah risiko bencana alam.
Pemerintah berkomitmen untuk terus memantau perkembangan industri kecil pascabencana. Dukungan teknis, pembiayaan, dan pelatihan akan terus diberikan hingga seluruh IKM terdampak mampu pulih dan kembali produktif.