JAKARTA - Sektor manufaktur Indonesia kembali menunjukkan tren penguatan pada awal tahun 2026. Peningkatan ini terlihat dari data Purchasing Manager Index (PMI) yang melonjak ke level 53,8 pada Februari 2026, naik dari 52,6 pada Januari 2026.
Kenaikan PMI menandai ekspansi aktivitas manufaktur yang solid, sekaligus menjadi level tertinggi sejak Maret 2024. Perbaikan ini menjadi indikator bahwa sektor manufaktur mulai pulih dan memberikan prospek positif untuk bulan-bulan mendatang.
Ekonom S&P Global Market Intelligence Usamah Bhatti menyatakan bahwa perbaikan kondisi sektor manufaktur Indonesia menguat pada pertengahan triwulan pertama. Hal ini diyakini akan mendukung prospek positif bagi pertumbuhan produksi dan tenaga kerja dalam waktu dekat.
Pertumbuhan Permintaan Dorong Kenaikan PMI
Peningkatan PMI manufaktur terutama didorong oleh percepatan pertumbuhan permintaan terhadap produk manufaktur Indonesia. Data menunjukkan permintaan baru meningkat selama tujuh bulan berturut-turut, dengan tingkat pertumbuhan tertinggi sejak November 2025.
Peserta survei melaporkan jumlah pelanggan meningkat dan kepercayaan diri perusahaan membaik. Pertumbuhan total permintaan baru terjadi secara luas, termasuk peningkatan pesanan ekspor baru untuk pertama kali dalam enam bulan.
Kenaikan ekspor baru menjadi yang paling tajam sejak Mei 2022. Hal ini menunjukkan manufaktur Indonesia tidak hanya mengandalkan pasar domestik, tetapi juga mulai mendapatkan momentum dari pasar global.
Usamah menambahkan bahwa kondisi permintaan yang meningkat mendorong penjualan, produksi, dan aktivitas pembelian. Kenaikan ini juga memicu pertumbuhan ketenagakerjaan untuk memenuhi kebutuhan output yang lebih tinggi.
Kenaikan Ketenagakerjaan dan Output Produksi
S&P Global mencatat bahwa perusahaan menaikkan jumlah karyawan enam kali dalam tujuh bulan terakhir. Ini menjadi tingkat tertinggi sejak November 2025, seiring kebutuhan untuk mendukung produksi yang meningkat.
Pertumbuhan tenaga kerja membantu manufaktur Indonesia meningkatkan output secara signifikan pada Februari 2026. Produksi tercatat mengalami ekspansi pada laju tercepat sejak April 2024.
Perusahaan mengaitkan peningkatan output dengan naiknya permintaan baru. Selain itu, sebagian produksi tambahan digunakan untuk membangun stok sebagai antisipasi permintaan mendatang, sehingga inventaris pascaproduksi meningkat selama empat bulan berturut-turut.
Tekanan Biaya dan Inflasi Input
Meski pertumbuhan kuat, manufaktur Indonesia masih menghadapi tekanan biaya input yang meningkat tajam. Kenaikan ini terutama berasal dari harga bahan baku, meski inflasi harga input menurun ke posisi terendah dalam enam bulan terakhir.
Perusahaan menyesuaikan harga jual secara moderat untuk menjaga daya saing produk. Tekanan harga tetap tinggi, namun tingkat inflasi tercatat lebih rendah dibandingkan Agustus lalu, membantu menahan kenaikan harga dari pabrik.
Usamah menegaskan bahwa meski biaya bahan baku meningkat, tingkat inflasi harga jual berada pada posisi yang terkendali. Hal ini menjadi indikator bahwa produsen berhasil menyeimbangkan antara permintaan dan biaya produksi.
Optimisme Prospek 12 Bulan Mendatang
Tingkat optimisme terhadap prospek 12 bulan mendatang sedikit menurun dibandingkan Januari 2026. Meskipun demikian, Indeks Output Masa Depan masih menunjukkan optimisme yang solid.
Prospek tersebut didukung oleh harapan permintaan yang lebih kuat dan harga yang lebih stabil. Perusahaan manufaktur tetap percaya diri bahwa kondisi produksi akan tetap ekspansif sepanjang tahun 2026.
Secara keseluruhan, data PMI manufaktur Februari 2026 menegaskan penguatan sektor manufaktur Indonesia. Peningkatan permintaan, ekspansi output, serta kenaikan tenaga kerja menjadi indikator positif bagi pertumbuhan ekonomi domestik dan potensi ekspor ke pasar global.