JAKARTA - Upaya pengentasan stunting di Kecamatan Curug dilakukan melalui kolaborasi antara pengembang properti Paramount Petals dan Pemerintah Kabupaten Tangerang.
Program ini dirancang berlangsung sepanjang tahun sebagai langkah berkelanjutan. Fokus utama diarahkan pada pencegahan dan penanganan stunting sejak usia dini.
Bentuk kolaborasi diwujudkan melalui penyaluran bantuan alat kesehatan ke sejumlah PAUD. Bantuan tersebut membantu kader kesehatan memantau tumbuh kembang anak usia dini secara rutin. Langkah ini juga mendukung deteksi dini risiko stunting, malnutrisi, hingga obesitas.
Pendekatan yang digunakan tidak hanya bersifat kuratif, tetapi juga preventif. Pemantauan berkala menjadi dasar pengambilan tindakan lanjutan. Dengan demikian, potensi gangguan pertumbuhan dapat diantisipasi lebih awal.
Edukasi Gizi dan Peran Layanan Kesehatan
Program pengentasan stunting turut melibatkan Bethsaida Hospital sebagai mitra edukasi. Rumah sakit ini memberikan edukasi perbaikan gizi anak kepada orang tua dan kader. Kegiatan tersebut dilengkapi dengan demonstrasi menu makanan sehat sederhana untuk balita.
“Kami juga libatkan Bethsaida Hospital memberikan edukasi perbaikan gizi anak serta demo menu makanan sehat sederhana untuk balita,” kata Norman Daulay. Edukasi ini bertujuan meningkatkan pemahaman keluarga mengenai kebutuhan gizi anak. Pengetahuan tersebut diharapkan dapat diterapkan dalam pola makan sehari-hari.
Setelah edukasi, kegiatan dilanjutkan dengan penyaluran bantuan makanan tinggi gizi. Bantuan tersebut menyasar balita yang terindikasi stunting. Monitoring kesehatan dilakukan secara terintegrasi melalui Puskesmas Curug.
Pendampingan Intensif Balita Terindikasi Stunting
Sebanyak 15 balita terindikasi stunting di Desa Cukanggalih dan Desa Kadu menerima pendampingan awal. Pendampingan mencakup pemberian makanan tinggi gizi serta pemantauan kesehatan rutin. Program ini dilakukan secara terstruktur untuk memastikan hasil yang terukur.
“Lalu dilanjutkan penyaluran bantuan makanan tinggi gizi serta monitoring kesehatan melalui Puskesmas Curug kepada 15 balita terindikasi stunting yang berdomisili di Desa Cukanggalih dan Desa Kadu,” kata Norman Daulay. Pendekatan ini menekankan kesinambungan layanan. Setiap perkembangan dicatat sebagai bahan evaluasi.
Upaya pendampingan tidak berhenti pada tahap awal. Program dilanjutkan dengan intervensi lanjutan untuk memperkuat hasil. Pendekatan berkelanjutan menjadi kunci keberhasilan penanganan stunting.
Peningkatan Kapasitas Kader Posyandu
Penguatan peran kader dilakukan melalui pelatihan Pemantauan Tumbuh Kembang Balita. Sebanyak 80 kader dari 16 posyandu di Desa Kadu mengikuti pelatihan tersebut. Pelatihan ini meningkatkan kemampuan kader dalam melakukan pemantauan dan pencatatan.
Program kemudian dilanjutkan dengan pemberian bantuan makanan tinggi gizi tahap kedua. Monitoring kesehatan dilakukan selama tiga bulan melalui Puskesmas Curug. Sebanyak 19 balita terindikasi stunting menjadi penerima manfaat lanjutan.
“Melalui program penyaluran makanan tinggi gizi, para penerima manfaat merasakan dampak positif pada pertumbuhan balita yang terindikasi stunting,” katanya. Hasil pemantauan menunjukkan adanya perbaikan kondisi. Pendampingan intensif menjadi faktor pendukung utama.
Dampak Nyata Bagi Keluarga dan Masyarakat
Reny, warga Kampung Sempur Desa Kadu, merasakan langsung manfaat program ini. Ia mengungkapkan bahwa sebelumnya telah memberikan asupan bergizi dan vitamin. Namun perubahan signifikan baru terlihat setelah anaknya menerima bantuan makanan tinggi gizi.
Menurut Reny, bantuan seperti susu dan buah-buahan meningkatkan berat badan anak. Nafsu makan anak juga mengalami peningkatan. Perubahan ini memberikan harapan baru bagi keluarga.
Sofianti, kader posyandu Desa Kadu, menilai program ini sebagai langkah nyata. Program membantu kader mendata balita terindikasi stunting secara lebih akurat. Edukasi kepada orang tua dan kader kesehatan turut memperkuat hasil.
Karti, kader posyandu Desa Cukanggalih, menambahkan bahwa stunting merupakan persoalan kompleks. Salah satu penyebab utamanya adalah kurangnya edukasi mengenai makanan tinggi gizi. Program kolaboratif ini dinilai mampu menjawab tantangan tersebut secara menyeluruh.