JAKARTA - Upaya Indonesia memperkuat industri manufaktur nasional kini diarahkan pada sektor strategis yang menjadi tulang punggung teknologi modern. Industri semikonduktor dipandang sebagai kunci penting untuk meningkatkan daya saing nasional dalam jangka panjang.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa fondasi utama pengembangan industri semikonduktor nasional terletak pada desain chip dan penguatan sumber daya manusia. Pendekatan ini dipilih sebagai langkah awal yang realistis menuju kemandirian teknologi.
Menurutnya, strategi tersebut merupakan pijakan penting untuk membangun ekosistem semikonduktor yang berkelanjutan. Penguatan kapasitas desain dan talenta dinilai mampu mempercepat posisi Indonesia dalam rantai pasok global.
Dalam pernyataan yang diterima di Bontang, Kalimantan Timur, Jumat, Kementerian Perindustrian terus memperkuat ekosistem semikonduktor terintegrasi. Langkah ini sejalan dengan meningkatnya kebutuhan semikonduktor di berbagai sektor prioritas nasional.
Sektor-sektor tersebut meliputi elektronika, otomotif, telekomunikasi, energi, hingga transformasi digital. Kebutuhan yang terus tumbuh menuntut kesiapan industri dalam negeri.
“Pengembangan industri semikonduktor nasional tidak dapat dilakukan secara instan, melainkan ditempuh melalui pendekatan bertahap dan realistis dengan menempatkan pengembangan talenta dan desain chip sebagai langkah utama pada tahap awal,” kata dia.
Pernyataan tersebut menegaskan arah kebijakan pemerintah yang berfokus pada pembangunan fondasi. Langkah bertahap dinilai lebih adaptif terhadap kondisi industri nasional.
Kebutuhan Industri Dan Tantangan Ketergantungan Impor
Pada sektor elektronik, produksi ponsel nasional berada di kisaran 30 hingga 60 juta unit per tahun. Sementara itu, kebutuhan laptop ditargetkan mencapai 1,57 juta unit pada tahun 2026.
Angka tersebut menunjukkan besarnya kebutuhan komponen semikonduktor di dalam negeri. Permintaan yang tinggi menjadi peluang sekaligus tantangan bagi industri nasional.
Di sektor otomotif, produksi kendaraan bermotor Indonesia pada tahun 2025 tercatat mencapai 803.867 unit. Jumlah ini mencakup kendaraan listrik dan hybrid yang membutuhkan lebih banyak komponen semikonduktor.
Kandungan semikonduktor pada kendaraan listrik dan hybrid bahkan mencapai tiga kali lebih besar dibandingkan kendaraan konvensional. Kondisi ini semakin menegaskan pentingnya ketersediaan semikonduktor domestik.
Menperin menjelaskan bahwa Indonesia sebenarnya telah memiliki sejumlah fondasi penting dalam ekosistem semikonduktor. Fasilitas perakitan dan pengujian telah masuk dalam Global Value Chain.
Selain itu, terdapat perusahaan desain integrated circuit serta basis industri hilir seperti electronic manufacturing services, original equipment manufacturer, dan industri otomotif nasional. Keberadaan ini menjadi modal awal yang signifikan.
Namun demikian, tantangan utama masih berasal dari tingginya ketergantungan impor semikonduktor. Kondisi ini berpotensi melemahkan ketahanan industri nasional.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, nilai impor semikonduktor Indonesia meningkat hampir dua kali lipat. Nilainya naik dari 2,33 miliar dolar AS pada 2020 menjadi 4,87 miliar dolar AS pada periode Januari hingga November 2025.
“Tingginya ketergantungan impor semikonduktor menjadi sinyal penting bagi ketahanan industri nasional,” ungkapnya. Ia menilai kondisi tersebut harus segera direspons secara strategis.
Menurutnya, penguatan ekosistem dalam negeri perlu difokuskan pada aspek desain chip dan pengembangan kekayaan intelektual. Langkah ini dipandang sebagai fondasi awal menuju kemandirian teknologi.
Roadmap Nasional Dan Penguatan Ekosistem Terintegrasi
Sebagai langkah konkret, Kementerian Perindustrian telah menetapkan peta jalan pengembangan industri semikonduktor nasional. Roadmap ini mengusung visi agar Indonesia berperan aktif dalam rantai pasok global.
Peta jalan tersebut dirancang untuk memastikan arah pembangunan industri berjalan terstruktur. Setiap tahapan dirancang saling terintegrasi.
Roadmap pengembangan semikonduktor mencakup penguatan empat pilar utama. Pilar tersebut meliputi material, desain, fabrikasi atau front end, serta assembly-testing-packaging atau back end.
Keempat pilar ini didukung oleh pengembangan sumber daya manusia, riset dan inovasi, infrastruktur, serta kebijakan industri yang kondusif. Sinergi antarpilar menjadi kunci keberhasilan roadmap tersebut.
“Roadmap pengembangan semikonduktor nasional menegaskan komitmen pemerintah untuk tidak hanya mengejar investasi,” kata Menperin. Ia menambahkan bahwa nilai tambah nasional menjadi prioritas utama.
Pemerintah juga berkomitmen memperkuat kemandirian teknologi nasional. Selain itu, integrasi Indonesia dalam ekosistem semikonduktor global diupayakan berjalan berkelanjutan.
Roadmap ini diharapkan menjadi pedoman bagi seluruh pemangku kepentingan. Kolaborasi lintas sektor menjadi elemen penting dalam implementasinya.
Kolaborasi Pendidikan, Industri, Dan Momentum Global
Dalam mendukung kebijakan tersebut, Kemenperin mendorong pembentukan Indonesia Chip Design Collaborative Center. Inisiatif ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat ekosistem desain semikonduktor nasional.
Pembentukan ICDEC diprakarsai bersama PT Hartono Istana Teknologi. Inisiatif ini juga melibatkan para pakar desain chip dari 13 universitas.
Organisasi ini dibentuk sebagai lembaga nonprofit. ICDEC berperan sebagai simpul kolaborasi antara pemerintah, industri, dan akademisi.
Sebanyak 16 perguruan tinggi mitra turut mendukung inisiatif ini. Kolaborasi akademik diharapkan mampu mempercepat pengembangan talenta unggul nasional.
Selain penguatan desain chip, peningkatan kualitas SDM menjadi fokus utama. Pendidikan dan pelatihan dipandang sebagai investasi jangka panjang.
Penguatan kapasitas nasional juga diperkuat melalui ajang Indonesia Semiconductor Summit 2026. Kegiatan ini digelar di Bandung pada Kamis, 29 Januari 2026.
ISS 2026 menjadi momentum strategis untuk memperluas kolaborasi global. Forum ini membuka peluang alih teknologi dan peningkatan kapasitas industri nasional.
Pertemuan tersebut mempertemukan berbagai pemangku kepentingan dari dalam dan luar negeri. Diskusi difokuskan pada masa depan industri semikonduktor.
Dengan berbagai langkah strategis tersebut, pemerintah optimistis arah pembangunan industri semikonduktor nasional semakin jelas. Pendekatan bertahap dinilai mampu menjawab tantangan global.
Penguatan desain chip dan SDM menjadi titik awal menuju kemandirian. Industri semikonduktor nasional diharapkan tumbuh lebih kuat dan berdaya saing.
Kolaborasi lintas sektor akan terus diperluas. Sinergi ini menjadi fondasi penting bagi masa depan industri teknologi Indonesia.
Pemerintah menegaskan komitmen jangka panjang dalam sektor ini. Industri semikonduktor diposisikan sebagai penggerak utama transformasi industri nasional.