Hutama Karya

Hutama Karya Resmikan Huntara Simpang Ulim Aceh Timur, Fasilitas Lengkap untuk Warga Pascabanjir

Hutama Karya Resmikan Huntara Simpang Ulim Aceh Timur, Fasilitas Lengkap untuk Warga Pascabanjir
Hutama Karya Resmikan Huntara Simpang Ulim Aceh Timur, Fasilitas Lengkap untuk Warga Pascabanjir

JAKARTA - PT Hutama Karya (Persero) meresmikan Hunian Sementara (Huntara) Simpang Ulim pada Jumat, 24 Januari 2026. Peresmian ditandai dengan penyerahan simbolis kunci hunian kepada warga terdampak oleh Bupati Aceh Timur Iskandar Usman Al-Farlaky.

Acara ini dihadiri oleh Camat Simpang Ulim Muhammad Yusuf, Geuchik Desa Arakundo Safri M. Jamil, Area Manager Bank Syariah Indonesia Totok Sudiarto, serta perwakilan Hutama Karya M. Fikrie Bahrul H. Huntara. Kehadiran hunian ini menjadi respons cepat atas kehilangan tempat tinggal akibat bencana banjir yang membuat warga berada dalam kondisi rentan.

Pembangunan Huntara mencakup 35 unit di Desa Arakundo, Kecamatan Simpang Ulim, dan 10 unit di Desa Seumatang, Kecamatan Julok Ulim. Total 45 unit hunian disiapkan untuk 45 kepala keluarga, dilengkapi toilet terpisah, dapur umum, area mencuci, ruang komunal, serta area bermain anak.

Lokasi hunian dipilih strategis agar dekat dengan fasilitas umum seperti layanan kesehatan, sarana pendidikan, dan pusat aktivitas masyarakat. Hal ini memungkinkan warga tetap menjalankan kegiatan sehari-hari dan mempertahankan aktivitas ekonomi di sekitar lokasi.

Proses Pembangunan dan Tantangan Lapangan

Pelaksanaan pembangunan menghadapi tantangan, terutama akses jalan yang terputus akibat tanggul jebol pada tahap awal. Pengerjaan melibatkan 172 tenaga kerja termasuk pekerja lokal untuk memastikan standar mutu sesuai kebutuhan lapangan.

Warga penerima manfaat, Asma dan Fitriani, menyampaikan rasa terima kasih atas respons cepat pemerintah dan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara. Mereka merasa kondisi istirahat keluarga jauh lebih baik dibanding sebelumnya di tenda pengungsian yang seadanya.

“Kami berterima kasih karena sebelumnya harus tidur di tenda pengungsian dengan kondisi seadanya. Saat ini, kami sudah bisa menginap lebih tenang dan nyaman di bangunan yang layak,” tutur mereka.

Hutama Karya menerapkan standar mutu konstruksi, pengawasan teknis terukur, serta prinsip keselamatan dan kesehatan kerja sepanjang proses pelaksanaan. Hal ini memastikan hunian dapat digunakan secara aman, nyaman, dan optimal oleh masyarakat selama masa pemulihan.

Bupati Aceh Timur mengimbau penerima manfaat untuk menjaga dan merawat hunian agar tetap berfungsi optimal. Ia juga mengajak warga terdampak yang belum mendapat hunian untuk segera melakukan validasi data melalui pemerintah desa dan kecamatan setempat.

Kolaborasi Lintas Pemangku Kepentingan

Program pembangunan Huntara ini merupakan hasil kolaborasi lintas pemangku kepentingan di bawah koordinasi BPI Danantara melalui program BUMN Peduli. PT PLN menyediakan kelistrikan, PT Telkom mendukung konektivitas komunikasi, dan Pemkab Aceh Timur membantu dari sisi administrasi dan koordinasi wilayah.

Menurut Executive Vice President Sekretaris Perusahaan Hutama Karya, Mardiansyah, keterlibatan perusahaan mencakup pelaksanaan konstruksi hunian beserta fasilitas pendukung. Pembangunan ini dirancang sebagai tahap transisi menuju hunian permanen, sehingga pemerintah dan pemangku kepentingan memiliki waktu memadai menyiapkan perencanaan lanjutan tanpa mengesampingkan kebutuhan dasar warga.

Huntara Simpang Ulim menjadi contoh nyata percepatan pemulihan pascabanjir melalui pendekatan terpadu. Fasilitas pendukung seperti dapur umum dan area bermain anak memastikan kebutuhan dasar dan kesejahteraan warga tetap terjaga.

Setiap tahap pembangunan diawasi secara ketat untuk memastikan kualitas sesuai standar. Prinsip keselamatan dan kesehatan kerja juga diterapkan agar pekerja maupun penghuni dapat merasa aman selama proses pembangunan berlangsung.

Warga penerima manfaat merasakan perubahan signifikan dari tenda pengungsian ke hunian yang layak. Mereka kini dapat menjalankan aktivitas sehari-hari dengan lebih nyaman dan tetap dekat dengan fasilitas umum di lingkungan sekitar.

Pemerintah Aceh Timur dan Hutama Karya menekankan pentingnya pemeliharaan hunian sementara. Hal ini untuk memastikan fasilitas tetap optimal selama masa transisi menuju hunian permanen.

Program Huntara juga menjadi bagian dari strategi mitigasi risiko bencana di masa depan. Penyediaan hunian sementara memungkinkan warga terdampak segera memiliki tempat tinggal layak pascabencana, mengurangi kerentanan sosial dan ekonomi.

Dengan keterlibatan BUMN, pemerintah, dan pihak lokal, Huntara menunjukkan model kolaborasi yang efektif. Pendekatan ini bisa dijadikan referensi untuk penanganan bencana serupa di wilayah lain.

Warga yang menempati hunian sementara diharapkan tetap produktif. Kedekatan dengan sarana pendidikan dan pusat aktivitas ekonomi memungkinkan mereka mempertahankan kegiatan rutin sehari-hari meski dalam kondisi transisi.

Hutama Karya memastikan seluruh fasilitas pendukung seperti toilet, dapur, dan ruang komunal dapat digunakan secara optimal. Tujuannya adalah memberikan kenyamanan maksimal bagi warga yang terdampak bencana.

Program ini juga mendorong partisipasi tenaga kerja lokal. Keterlibatan masyarakat setempat meningkatkan kapasitas kerja sekaligus memperkuat ikatan sosial di lingkungan terdampak.

Huntara di Simpang Ulim diharapkan menjadi solusi jangka pendek yang efektif. Keberadaan hunian sementara memungkinkan proses pemulihan berlangsung lebih cepat dan terstruktur.

Kesimpulannya, pembangunan Huntara Simpang Ulim adalah langkah strategis percepatan pemulihan pascabanjir di Aceh Timur. Kolaborasi lintas pemangku kepentingan dan fasilitas lengkap memastikan warga mendapatkan hunian aman, nyaman, dan layak selama masa transisi.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index