Waskita Karya

Waskita Karya Garap Jalan Singaraja–Mengwitani, Percepat Mobilitas dan Ekonomi Bali

Waskita Karya Garap Jalan Singaraja–Mengwitani, Percepat Mobilitas dan Ekonomi Bali
Waskita Karya Garap Jalan Singaraja–Mengwitani, Percepat Mobilitas dan Ekonomi Bali

JAKARTA - Upaya mempercepat konektivitas wilayah Bali Utara kini memasuki fase penting dengan dimulainya pembangunan jalan nasional strategis. Proyek ini diharapkan menjadi solusi atas keterbatasan akses yang selama ini dirasakan masyarakat dan pelaku usaha.

PT Waskita Karya (Persero) Tbk tengah mengerjakan proyek Jalan Perbaikan Geometrik Batas Kota Singaraja–Mengwitani atau dikenal sebagai Shortcut 9 dan 10 Paket I. Nilai proyek tersebut mencapai Rp290,84 miliar dan menjadi salah satu pembangunan infrastruktur utama di Bali.

Pembangunan jalan ini dirancang untuk memperbaiki kondisi geometrik jalur yang selama ini berkelok dan memiliki kemiringan ekstrem. Perbaikan tersebut ditujukan untuk meningkatkan keselamatan, kenyamanan, dan efisiensi perjalanan.

Pekerjaan konstruksi dimulai setelah pelaksanaan peletakan batu pertama atau groundbreaking pada awal bulan ini. Momen tersebut menjadi penanda resmi dimulainya pembangunan jalan nasional strategis di wilayah Bali Utara.

Groundbreaking dan Dukungan Pemerintah

Acara groundbreaking dihadiri Direktur Pembangunan Jalan Kementerian Pekerjaan Umum Asep Syarip Hidayat. Gubernur Bali I Wayan Koster juga hadir bersama jajaran pemerintah pusat dan daerah.

Dari pihak kontraktor, Direktur Operasi II Waskita Karya Paulus Budi Kartiko turut menghadiri kegiatan tersebut. Kehadiran para pemangku kepentingan menunjukkan kuatnya dukungan terhadap proyek ini.

Asep menyampaikan bahwa pembangunan ini menjadi langkah awal dalam meningkatkan konektivitas jalan nasional di Bali. Perbaikan geometrik jalan dinilai krusial untuk menjawab tantangan mobilitas antardaerah.

Melalui proyek ini, waktu tempuh Singaraja–Mengwitani dipangkas secara signifikan. Perjalanan yang sebelumnya memakan waktu 21,22 menit kini direncanakan menjadi hanya 8,61 menit.

Pemangkasan waktu tempuh tersebut diharapkan berdampak langsung pada aktivitas ekonomi. Mobilitas orang dan barang akan menjadi lebih cepat dan efisien.

Perbaikan akses jalan juga dipandang sebagai upaya memperkuat pemerataan pembangunan di Bali. Wilayah utara diharapkan semakin terhubung dengan pusat aktivitas di Bali Selatan.

Dampak bagi Masyarakat dan Logistik

Gubernur Bali I Wayan Koster menilai proyek ini sebagai kebutuhan mendesak bagi masyarakat. Jalan penghubung ini memiliki peran strategis dalam mendukung aktivitas harian warga.

Menurutnya, jalan tersebut tidak hanya melayani transportasi penumpang. Distribusi logistik dan pergerakan barang juga akan terbantu secara signifikan.

Waskita Karya meyakini pembangunan jalan ini akan mempermudah pengangkutan hasil bumi. Produk lokal dari Bali Utara dapat lebih cepat menjangkau pasar.

Kemudahan akses tersebut diharapkan meningkatkan daya saing produk daerah. Biaya distribusi yang lebih rendah menjadi salah satu manfaat utama.

Proyek ini juga diproyeksikan menekan biaya bahan bakar kendaraan. Jalur yang lebih landai dan lurus mengurangi konsumsi energi saat perjalanan.

Selain itu, biaya perawatan kendaraan bagi pelaku usaha logistik diperkirakan ikut menurun. Kondisi jalan yang lebih baik mengurangi risiko kerusakan kendaraan.

Keberadaan jalan shortcut ini juga membuka peluang investasi baru. Akses yang lancar menjadi faktor penting dalam menarik minat investor.

Spesifikasi Teknis dan Target Pengerjaan

Paulus memastikan bahwa Jalan Batas Kota Singaraja–Mengwitani nantinya aman dan nyaman dilalui. Aspek keselamatan menjadi prioritas utama dalam perencanaan dan pelaksanaan proyek.

Salah satu perubahan signifikan adalah pengurangan jumlah tikungan. Dari sebelumnya 58 titik tikungan, jumlahnya akan dipangkas menjadi 21 titik.

Pengurangan tikungan ini dirancang untuk meningkatkan visibilitas pengendara. Risiko kecelakaan di jalur ekstrem dapat ditekan secara signifikan.

“Kami pun siap menurunkan kelandaian jalan tersebut, yang awalnya menembus 21,8 persen menjadi 10 persen,” ujar Paulus. Langkah ini dinilai penting untuk meningkatkan kenyamanan dan keselamatan.

“Dengan begitu akan lebih mudah dan lancar saat melewati jalan shortcut tersebut.” Pernyataan ini menegaskan fokus proyek pada kemudahan akses.

Selain pembangunan jalan, Waskita Karya juga mengerjakan konstruksi jembatan. Panjang jalan yang dibangun mencapai 931,5 meter.

Sementara itu, jembatan yang dibangun memiliki panjang total 593,5 meter. Kedua infrastruktur ini menjadi satu kesatuan yang saling mendukung.

Pembangunan jalan dan jembatan tersebut ditargetkan rampung pada tahun 2027. Jadwal ini disusun dengan mempertimbangkan kompleksitas medan dan cuaca.

Komitmen Mutu dan Konstruksi Berkelanjutan

“Waskita Karya berkomitmen menyelesaikan proyek ini tepat waktu dan sesuai standar mutu demi memastikan keamanan para pengguna nantinya,” ujar Paulus. Komitmen tersebut menjadi landasan utama pelaksanaan proyek.

Perseroan menerapkan metode kerja yang mengutamakan keselamatan. Setiap tahapan konstruksi dilakukan dengan pengawasan ketat.

Efisiensi pelaksanaan juga menjadi perhatian penting. Pengelolaan waktu dan sumber daya dilakukan secara optimal.

Paulus menambahkan bahwa proyek ini dijalankan sesuai prinsip konstruksi berkelanjutan. Aspek lingkungan menjadi bagian dari pertimbangan teknis.

Penggunaan metode dan material yang ramah lingkungan menjadi salah satu fokus. Hal ini sejalan dengan arah pembangunan infrastruktur nasional.

Waskita Karya menilai pembangunan jalan ini telah lama dinantikan masyarakat. Kondisi jalan sebelumnya dinilai kurang ideal untuk lalu lintas harian.

Jalan ini menghubungkan Bali Selatan sebagai pusat pariwisata utama. Sementara itu, Bali Utara selama ini terkendala akses jalan yang berkelok.

Konektivitas yang lebih baik diharapkan mendorong pertumbuhan wilayah Bali Utara. Sektor pariwisata, pertanian, dan perdagangan berpotensi meningkat.

Dengan adanya jalan shortcut, distribusi manfaat pembangunan di Bali diharapkan lebih merata. Wilayah yang sebelumnya kurang terjangkau kini memiliki akses yang lebih baik.

Proyek ini juga menjadi simbol percepatan pembangunan infrastruktur di daerah. Kehadirannya mencerminkan komitmen pemerintah dan BUMN dalam mendukung mobilitas nasional.

Secara keseluruhan, pembangunan Shortcut Singaraja–Mengwitani menjadi tonggak penting bagi Bali. Jalan ini diharapkan membawa dampak jangka panjang bagi kesejahteraan masyarakat.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index