Minyak Dunia

Harga Minyak Dunia Naik Terdorong Gangguan Produksi dan Geopolitik Global

Harga Minyak Dunia Naik Terdorong Gangguan Produksi dan Geopolitik Global
Harga Minyak Dunia Naik Terdorong Gangguan Produksi dan Geopolitik Global

JAKARTA - Pasar minyak dunia kembali bergerak naik pada Rabu, 22 Januari 2026. Investor bereaksi terhadap penghentian sementara produksi di dua ladang besar Kazakhstan serta ketegangan geopolitik terkait ancaman tarif AS di Greenland.

Harga minyak Brent tercatat naik 1 sen menjadi USD 64,93 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) naik 3 sen menjadi USD 60,39 per barel. Kenaikan ini mengikuti sesi perdagangan sebelumnya yang ditutup sekitar 1,5% lebih tinggi.

Gangguan Produksi di Ladang Minyak Kazakhstan

Produsen OPEC+ melaporkan penghentian sementara di ladang Tengiz dan Korolev pada Minggu lalu akibat masalah distribusi listrik. Sementara itu, minyak dari ladang Kashagan dialihkan ke pasar domestik karena kemacetan di terminal CPC Laut Hitam.

Operator ladang Tengiz, TCO, telah menyatakan keadaan kahar (force majeure) atas pengiriman minyak melalui sistem pipa CPC. Laporan Reuters menyebutkan produksi bisa terhenti selama tujuh hingga sepuluh hari ke depan.

Gangguan pasokan ini menimbulkan tekanan positif pada harga minyak global. Ladang Tengiz termasuk salah satu ladang terbesar dunia, sehingga penghentian sementara berdampak signifikan pada aliran minyak mentah.

Tekanan Geopolitik dan Ancaman Tarif AS

Ketegangan geopolitik juga memengaruhi sentimen pasar. Presiden AS Donald Trump menegaskan tidak ada jalan mundur untuk upayanya mengontrol Greenland, termasuk potensi peningkatan tarif terhadap sekutu Eropa.

Analis UBS, Giovanni Staunovo, menyebut ketegangan ini memicu sentimen penghindaran risiko di pasar minyak. Tarif yang diberlakukan bisa memperlambat pertumbuhan ekonomi global dan menambah volatilitas pasar energi.

Dukungan Data Ekonomi dan Permintaan Global

Harga minyak juga mendapat dukungan dari data ekonomi China yang lebih baik dari perkiraan. Produk domestik bruto (PDB) kuartal keempat menunjukkan pertumbuhan 5% tahun lalu, sementara kapasitas pengolahan kilang naik 4,1% secara tahunan.

Produksi minyak mentah China juga bertambah 1,5%, memperkuat ekspektasi permintaan global. Analis IG, Tony Sycamore, menilai ketahanan ekonomi negara pengimpor minyak terbesar dunia ini memberikan dorongan tambahan bagi sentimen pasar.

Tren Harga dan Pergerakan Sebelumnya

Pada perdagangan Selasa, 20 Januari 2026, harga Brent berjangka naik 98 sen atau 1,53% menjadi USD 64,92 per barel. Sementara WTI untuk Februari menguat 90 sen atau 1,51% menjadi USD 60,34 per barel.

Kenaikan tersebut terjadi seiring harapan penghentian sementara produksi di Kazakhstan dan prospek permintaan bahan bakar yang lebih kuat. Para investor terus memantau retorika tarif AS, yang bisa menekan harga jika ketegangan berlanjut.

Prediksi dan Proyeksi Pasar

Ajay Parmar, Direktur ICIS, menekankan bahwa gangguan produksi di Tengiz bersifat sementara. Namun, jika retorika tarif AS berlanjut, harga minyak diperkirakan akan kembali menurun.

Secara keseluruhan, harga minyak dunia saat ini dipengaruhi oleh kombinasi faktor pasokan, geopolitik, dan data ekonomi. Investor global tetap waspada terhadap perkembangan di Kazakhstan dan kebijakan AS yang dapat memicu fluktuasi lebih lanjut.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index