JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan masyarakat tidak perlu panik terkait defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 yang hampir mencapai 3%. Ia membandingkan kondisi ini dengan negara lain yang mencatat defisit lebih besar namun tetap stabil secara ekonomi.
"Jangan khawatir soal defisit anggaran 3%. Negara lain mengalami defisit dua kali lipat, dan mereka tidak khawatir. Jadi mengapa kita harus khawatir?" kata Airlangga dalam acara Business Outlook Indonesia Business Council (IBC) di Jakarta.
Airlangga menambahkan, pemerintah telah memperhitungkan seluruh risiko ekonomi yang mungkin muncul, baik terkait nilai tukar maupun pergerakan pasar modal. Langkah ini dinilai sebagai strategi antisipasi agar perekonomian nasional tetap berada di jalur yang sehat.
"Jadi ke depannya, saya rasa kita harus optimis. Akan ada banyak kabar baik yang datang, dan saya pikir tren global, termasuk IMF, cukup optimis terhadap perekonomian Indonesia," ujarnya.
Realisasi Pendapatan dan Belanja Negara 2025
Menteri Keuangan, Purbaya, sebelumnya menjelaskan bahwa defisit yang melebar disebabkan oleh pendapatan negara sepanjang 2025 yang tercatat sebesar Rp2.756 triliun. Angka tersebut baru mencapai 91,7% dari target Rp2.865 triliun dan lebih rendah dari realisasi pendapatan 2024 yang sebesar Rp2.850 triliun.
Meski pendapatan masih di bawah target, realisasi belanja negara mencapai Rp3.451 triliun. Capaian ini setara 95,3% dari target, namun lebih tinggi dibanding realisasi 2024 sebesar Rp3.359 triliun.
Dengan demikian, pembiayaan anggaran negara tercatat tembus Rp744 triliun atau 120% dari target yang ditetapkan sebesar Rp662 triliun. Angka ini juga meningkat signifikan dibanding realisasi utang pada periode yang sama tahun lalu, yang hanya Rp554,8 triliun.
"Capaian program prioritas serta tata kelola yang terjaga sehingga di akhir tahun defisit dapat terealisasi pada 2,92% PDB," ujar Purbaya dalam konferensi pers APBN Kita.
Optimisme Pemerintah di Tengah Tantangan Ekonomi
Airlangga menegaskan pemerintah tetap optimis menghadapi kondisi defisit saat ini. Ia menilai tren global dan pandangan lembaga internasional seperti IMF mendukung prospek perekonomian Indonesia.
Menurut Airlangga, masyarakat seharusnya fokus pada indikator positif, termasuk pertumbuhan ekonomi dan stabilitas pasar keuangan. Pemerintah diyakini mampu menjaga keseimbangan antara belanja, pendapatan, dan pembiayaan utang negara.
Purbaya menambahkan, meski defisit meningkat, capaian program prioritas tetap terjaga. Hal ini menunjukkan bahwa pengelolaan anggaran negara dilakukan secara hati-hati dan efisien.
Strategi Pembiayaan dan Tata Kelola Anggaran
Pembiayaan defisit dilakukan melalui berbagai instrumen, termasuk penerbitan surat berharga negara. Langkah ini memastikan kebutuhan fiskal negara tetap terpenuhi tanpa mengganggu stabilitas ekonomi.
Selain itu, pemerintah melakukan monitoring ketat terhadap belanja dan pendapatan agar defisit tidak membengkak di tengah volatilitas ekonomi global. Hal ini menjadi strategi untuk menjaga kepercayaan investor dan stabilitas pasar modal.
Airlangga menekankan bahwa defisit 3% relatif aman dibanding negara lain yang mencatat defisit lebih tinggi. Oleh karena itu, masyarakat tidak perlu khawatir karena pemerintah telah menyiapkan langkah mitigasi yang matang.
Purbaya juga menekankan pentingnya transparansi dalam pelaporan anggaran. Dengan tata kelola yang baik, defisit dapat dimanfaatkan untuk mendorong program prioritas dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Selain itu, pemerintah terus memantau risiko terkait nilai tukar dan pergerakan pasar modal. Hal ini dilakukan agar dampak defisit terhadap stabilitas ekonomi dapat diminimalkan secara efektif.
Kebijakan belanja negara yang terukur dan strategis membantu menjaga kinerja ekonomi di tengah tekanan global. Pembiayaan yang tepat sasaran memastikan defisit tidak menjadi ancaman bagi perekonomian nasional.
Airlangga menegaskan optimisme terhadap perekonomian Indonesia tetap tinggi. Pandangan positif ini sejalan dengan proyeksi lembaga internasional yang menilai Indonesia sebagai salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi kuat di kawasan Asia Tenggara.
Meski defisit hampir 3%, pemerintah menilai kondisi ini masih dalam batas aman. Anggaran yang tersalur untuk program prioritas juga diharapkan memberi dampak langsung bagi kesejahteraan masyarakat.
Dalam konferensi pers, Purbaya menekankan bahwa pembiayaan anggaran negara yang meningkat tidak berarti pemerintah kehilangan kontrol fiskal. Justru, defisit yang terkendali menunjukkan kemampuan pemerintah dalam mengelola ekonomi makro.
Airlangga pun mengingatkan bahwa Indonesia memiliki kapasitas fiskal dan strategi mitigasi risiko yang memadai. Hal ini membuat defisit APBN 2025 tidak menjadi ancaman bagi stabilitas ekonomi nasional.
Kesimpulannya, meski defisit meningkat hampir 3%, pemerintah tetap optimis. Langkah pengelolaan anggaran yang hati-hati, pengawasan belanja, serta strategi pembiayaan yang tepat memastikan ekonomi Indonesia tetap kuat di tengah tantangan global.