Kemenperin

Kemenperin Dorong Industri Keramik Nasional Terapkan Teknologi Mutakhir dan SNI

Kemenperin Dorong Industri Keramik Nasional Terapkan Teknologi Mutakhir dan SNI
Kemenperin Dorong Industri Keramik Nasional Terapkan Teknologi Mutakhir dan SNI

JAKARTA - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong pelaku industri keramik dalam negeri meningkatkan standar dan teknologi produksi. Tujuannya untuk memperkuat daya saing sekaligus menekan dominasi produk impor yang masih masuk ke pasar domestik.

Muhammad Taufik, Sekretaris Balai Standardisasi Kebijakan Jasa Industri (BSKJI) Kemenperin, mengatakan adopsi teknologi mutakhir penting agar produk nasional mampu bersaing di pasar global. “Harapannya impor tidak masuk, dan kita dapat benar-benar mengandalkan industri dalam negeri,” ujar Taufik di Bandung, Jawa Barat, Rabu.

Ia menambahkan, konsumen juga akan semakin percaya karena produk yang mereka beli telah memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI). Hal ini sekaligus menjadi jaminan kualitas bagi pasar domestik yang terus berkembang.

Strategi Baru Industrialisasi Nasional untuk Percepatan Pertumbuhan

Kemenperin memperkuat daya saing industri melalui peluncuran Strategi Baru Industrialisasi Nasional (SBIN). Kerangka strategis ini dirancang jangka panjang untuk percepatan pertumbuhan ekonomi menuju Indonesia Emas 2045.

Taufik menjelaskan, sejumlah negara telah menerapkan teknologi produksi keramik yang sangat maju dan efisien. Kondisi ini menjadi dorongan bagi industri nasional agar terus melakukan pembaruan dan modernisasi proses produksi.

“Teknologi harus di-upgrade secara berkelanjutan agar standar produk semakin membaik. Itu yang kami harapkan,” tegasnya. Dengan begitu, industri keramik Indonesia bisa naik kelas menjadi modern, efisien, dan berdaya saing global.

Adopsi Industri 4.0 untuk IKM dan Sektor Mineral Nonlogam

Pelaku industri kecil dan menengah (IKM) didorong mulai mengadopsi prinsip Industri 4.0. Langkah ini mencakup otomatisasi proses, pemanfaatan teknologi informasi, pemasaran digital, serta penggunaan teknologi ramah lingkungan.

Azhar Fitri, Kepala Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Keramik dan Mineral Nonlogam Kemenperin, menambahkan, SBIN juga menargetkan pemerataan ekonomi melalui pengembangan industri rakyat dan IKM. Fokus utamanya pada kawasan pedesaan yang terintegrasi dengan kawasan industri, sehingga mendukung distribusi manfaat ekonomi secara lebih merata.

Strategi ini juga menekankan pembangunan industri hijau dan biru yang ramah lingkungan. Selain itu, perluasan lapangan kerja berkualitas, penguatan wirausaha, dan pengembangan industri kreatif serta hilirisasi produk menjadi prioritas utama.

Perlindungan Pasar Domestik dan Industri Halal

SBIN menekankan perlindungan pasar domestik melalui perluasan cakupan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Penguatan instrumen tarif dan non-tarif juga diterapkan untuk menjaga industri nasional tetap kompetitif terhadap produk impor.

Industri halal diidentifikasi sebagai motor baru pertumbuhan ekonomi nasional. Strategi ini diharapkan mendorong peningkatan nilai produk dalam negeri sekaligus membuka peluang pasar baru bagi industri keramik dan mineral nonlogam.

Dengan fokus pada inovasi teknologi dan standar SNI, Kemenperin berharap sektor keramik Indonesia mampu menahan dominasi impor. Langkah ini juga mendukung industri nasional untuk tumbuh lebih modern, efisien, dan berkelanjutan, sekaligus menciptakan lapangan kerja berkualitas bagi masyarakat.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index