JAKARTA - Banyak orang tua menilai anak yang tampak aktif sudah cukup sehat, padahal beberapa kondisi serius dapat muncul tanpa gejala mencolok. Salah satunya adalah anemia pada anak yang dapat menghambat tumbuh kembang secara menyeluruh.
Kekurangan zat besi sebagai penyebab utama anemia sering kali tidak disadari karena tanda-tandanya tampak ringan di awal. Namun efek jangka panjangnya bisa berpengaruh pada fungsi otak, konsentrasi, dan kemampuan belajar anak.
Kondisi ini membuat anemia pada anak harus diwaspadai lebih serius agar tidak terlambat ditangani. Terdapat banyak kasus di mana gejala baru disadari setelah perkembangan anak menunjukkan kemunduran.
Anemia Defisiensi Besi (ADB) memiliki tanda halus yang dapat luput dari perhatian keluarga. Karena itu, memahami ciri dan faktor risikonya menjadi langkah penting dalam menjaga kesehatan anak.
Dokter Spesialis Anak lulusan Universitas Gadjah Mada dr. Devie Kristiani, Sp.A menegaskan bahwa ADB bukan hanya tentang rendahnya kadar darah. Ia menyebutkan bahwa kondisi ini memberi dampak langsung terhadap perkembangan saraf dan otak anak.
Menurut Devie, anemia defisiensi besi tidak bisa dipandang sebagai masalah kecil yang hanya memengaruhi stamina. Dampaknya jauh lebih luas karena berhubungan dengan tumbuh kembang kognitif anak.
Ciri dan Gejala yang Sering Tak Disadari Orang Tua
Dokter yang berpraktik di RS Bethesda Yogyakarta tersebut menjelaskan bahwa gejala anemia pada anak sering muncul melalui perubahan fisik yang tampak sederhana. Anak dapat terlihat lebih pucat daripada biasanya, dan stamina mereka tampak menurun.
Selain itu, anak menjadi mudah lelah dan lebih cepat tampak lesu ketika beraktivitas. Beberapa anak juga terlihat kurang aktif, sehingga orang tua mengira hanya karena suasana hati atau kelelahan.
Gejala lain seperti berat badan yang sulit bertambah juga harus menjadi perhatian penting. Pertumbuhan yang lebih lambat dibandingkan anak lainnya dapat menunjukkan adanya kekurangan zat besi.
Nafsu makan anak pun dapat menurun akibat kondisi ini, sehingga asupan nutrisi semakin tidak optimal. Bahkan beberapa anak memunculkan kebiasaan makan benda non-makanan seperti tanah atau es batu, yang dikenal sebagai pica.
Kondisi pica sering kali dianggap sebagai kebiasaan aneh tanpa mengetahui bahwa itu salah satu tanda defisiensi mineral. Perilaku ini justru memperburuk kondisi karena tidak memberi nutrisi apa pun bagi tubuh.
Anemia pada anak dapat berkembang akibat berbagai faktor berbeda. Beberapa di antaranya berasal dari pola makan rendah zat besi atau ketidakmampuan tubuh menyerap mineral tersebut secara maksimal.
Ada juga kasus di mana anemia muncul karena kehilangan darah akibat infeksi yang berlangsung lama. Faktor lingkungan dan kebiasaan makan turut memperbesar risiko terjadinya kekurangan zat besi.
Kelompok anak tertentu lebih rentan mengalami ADB dan perlu pemantauan lebih intensif. Bayi yang lahir prematur memiliki cadangan zat besi lebih sedikit sehingga risiko mereka lebih tinggi.
Anak-anak dari ibu yang mengalami anemia selama kehamilan juga cenderung mengalami hal serupa. Selain itu, anak yang mengonsumsi MPASI rendah zat besi memiliki peluang mengalami anemia lebih besar.
Pengaruh Gaya Hidup dan Kebiasaan Makan Terhadap Penyerapan Zat Besi
Kebiasaan sehari-hari yang tampak sepele dapat memengaruhi penyerapan zat besi dalam tubuh anak. Konsumsi teh, kopi, atau coklat dapat menghambat penyerapan zat besi karena kandungan tanin dan senyawa tertentu di dalamnya.
Di sisi lain, makanan yang kaya vitamin C dapat membantu meningkatkan penyerapan zat besi secara signifikan. Buah seperti jeruk, stroberi, dan tomat dapat menjadi pendamping ideal dalam menu anak.
Susu pertumbuhan yang difortifikasi zat besi juga dapat membantu memenuhi kebutuhan nutrisi harian. Namun tetap penting menyesuaikan konsumsi sesuai usia dan kebutuhan anak.
Devie menegaskan bahwa anemia defisiensi besi dapat memberikan dampak nyata terhadap perkembangan otak anak. Studi menunjukkan bahwa anak dengan ADB memiliki skor kognitif dan kemampuan psikomotor yang lebih rendah.
Anak-anak dengan kadar zat besi rendah juga mengalami kesulitan dalam hal konsentrasi. Hal ini berdampak pada kesiapan belajar dan performa akademik mereka pada usia sekolah.
Kondisi ini dapat menghambat kemampuan anak dalam menyerap pelajaran secara optimal. Dalam jangka panjang, perkembangan sosial dan emosional juga dapat terpengaruh.
Pencegahan dan Langkah Praktis bagi Orang Tua
Devie menekankan pentingnya pencegahan sejak dini dengan memantau kecukupan zat besi anak. Melakukan skrining anemia secara berkala dapat membantu mendeteksi masalah sebelum berkembang jauh.
Orang tua juga perlu memastikan bahwa makanan yang dikonsumsi anak memiliki kandungan zat besi yang cukup. Sumber zat besi dapat berasal dari daging merah, hati, telur, sayuran hijau, atau makanan fortifikasi.
Mengombinasikan makanan kaya zat besi dengan buah tinggi vitamin C adalah strategi sederhana namun efektif. Kombinasi ini membantu tubuh menyerap zat besi dengan lebih optimal.
Suplemen zat besi dapat diberikan pada anak dengan risiko tinggi sesuai anjuran tenaga kesehatan. Penggunaan suplemen harus diawasi agar dosisnya tepat dan tidak menimbulkan efek samping.
Konsumsi teh, kopi, atau coklat sebaiknya dibatasi terutama ketika anak sedang makan. Minuman ini lebih baik diberikan terpisah dari waktu makan untuk menghindari hambatan penyerapan.
Orang tua perlu memastikan kebutuhan nutrisi anak terpenuhi melalui pola makan seimbang. Konsultasi rutin dengan dokter sangat dianjurkan agar perkembangan kesehatan anak terpantau baik.
Pemantauan berkala dapat membantu mendeteksi perubahan kecil yang mungkin tidak terlihat. Deteksi dini selalu memberi peluang penanganan lebih cepat dan efektif.
Dengan memahami risiko dan gejalanya, orang tua dapat memberikan perlindungan lebih baik bagi tumbuh kembang anak. Langkah ini penting untuk memastikan anak tumbuh sehat baik secara fisik maupun kognitif.