JAKARTA - Penguatan harga emas di penghujung pekan kembali menjadi sorotan ketika logam mulia tersebut mencatat kenaikan bulanan keempat secara beruntun. Pergerakan ini tidak hanya menunjukkan sentimen positif investor, tetapi juga memperlihatkan bagaimana perubahan kebijakan moneter global memengaruhi lanskap investasi dunia.
Ekspektasi bahwa Federal Reserve akan memangkas suku bunga pada bulan depan menjadi pendorong utama meningkatnya permintaan terhadap emas sebagai aset lindung nilai. Momentum ini semakin kuat ketika investor melihat ketidakpastian ekonomi yang mendorong mereka untuk beralih ke aset tanpa imbal hasil namun berisiko rendah tersebut.
Harga emas di pasar spot naik 1 persen hingga mencapai USD 4.192,78 per troy ounce pada penutupan perdagangan Jumat. Angka tersebut merupakan level tertinggi sejak 14 November dan menegaskan kembali dominasi emas dalam beberapa pekan terakhir.
Secara mingguan, emas mencatat kenaikan 2,9 persen yang memperlihatkan stabilitas permintaan di tengah gejolak pasar lain. Dari sisi bulanan, penguatan 4,6 persen menunjukkan konsistensi pergerakan emas yang terus berada dalam tren positif.
Di sisi lain, harga perak melonjak tajam hingga mencetak rekor baru di USD 55,33 per ounce. Kenaikan 3,5 persen dalam satu sesi perdagangan menegaskan bahwa investor juga mulai melihat peluang pada logam mulia lain yang terdorong oleh tren teknikal.
Perdagangan berjangka sempat mengalami gangguan teknis di CME Group yang menghambat aktivitas di beberapa instrumen seperti komoditas, obligasi, dan saham. Setelah beberapa jam terhenti, aktivitas kembali berjalan sekitar pukul 13.30 GMT dan memastikan perdagangan berjangka tidak mengalami gangguan lebih panjang.
Emas berjangka AS untuk pengiriman Februari mencatat penguatan 0,61 persen menjadi USD 4.227,60 per ounce. Pergerakan ini melanjutkan tren penguatan tajam yang telah berlangsung sepanjang bulan.
Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga Memperkuat Daya Tarik Emas
Prospek pelonggaran kebijakan moneter menjadi pusat perhatian para pelaku pasar dalam beberapa pekan terakhir. Kepala Strategi Komoditas TD Securities, Bart Melek, menegaskan bahwa perlambatan ekonomi AS hingga 2026 menjadi sinyal kuat bagi pasar bahwa Federal Reserve akan segera mengambil langkah pemangkasan suku bunga.
Menurut Melek, kondisi tersebut membuat investor semakin mempertimbangkan emas sebagai aset pelindung nilai yang efektif. Ia menegaskan bahwa emas selalu menunjukkan performa baik dalam lingkungan suku bunga rendah.
Komentar bernada dovish dari beberapa pejabat Federal Reserve memperkuat ekspektasi pasar bahwa pemangkasan suku bunga sudah berada di depan mata. Di antaranya adalah Christopher Waller dan Presiden Fed New York John Williams yang menyoroti perlunya penyesuaian kebijakan untuk menjaga stabilitas ekonomi.
Selain itu, melemahnya data ekonomi AS setelah penutupan pemerintahan juga memperkuat pandangan bahwa pelonggaran kebijakan moneter menjadi kebutuhan mendesak. Pasar pun merespons cepat sinyal ini dengan meningkatkan eksposur pada aset yang lebih stabil.
Para trader kini memperkirakan peluang 89 persen bahwa Federal Reserve akan memangkas suku bunga pada Desember mendatang. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan perkiraan 50 persen pada pekan sebelumnya dan menunjukkan perubahan dramatis dalam sentimen pasar.
Untuk memberikan gambaran perkembangan aset logam mulia dalam periode terbaru, berikut tabel ringkasannya.
Tabel Pergerakan Harga Logam Mulia
| Jenis Logam | Harga Terbaru (USD) | Perubahan Harian | Perubahan Bulanan |
|---|---|---|---|
| Emas Spot | 4.192,78 | +1% | +4,6% |
| Emas Berjangka Feb | 4.227,60 | +0,61% | - |
| Perak | 55,33 | +3,5% | +13% |
| Platinum | 1.655,14 | +2,9% | +9,7% |
| Palladium | 1.519,37 | +5,6% | +10,7% |
Dinamika Pasar Logam Mulia dan Tantangan Permintaan Fisik
Analis Kitco Metals, Jim Wyckoff, menjelaskan bahwa tren teknikal perak yang semakin bullish telah menjadi magnet kuat bagi para spekulan. Kenaikan tersebut mengundang minat besar dari pelaku pasar yang melihat peluang keuntungan jangka pendek.
Namun, kondisi berbeda justru terjadi di pasar fisik yang menunjukkan penurunan permintaan akibat tingginya harga. Di India, permintaan emas ritel masih terbatas meski memasuki musim pernikahan yang biasanya meningkatkan konsumsi emas secara signifikan.
Situasi serupa terjadi di China, di mana penghapusan insentif pembebasan pajak untuk pembelian emas membuat konsumen enggan melakukan pembelian besar. Kebijakan tersebut berdampak pada turunnya minat masyarakat terhadap aset emas fisik.
Tidak hanya emas dan perak, komoditas lain seperti platinum juga mencatat kenaikan yang sangat solid. Platinum menguat 2,9 persen hingga mencapai USD 1.655,14 dan mencatat kenaikan mingguan hampir dua digit.
Palladium turut mengalami penguatan signifikan sebesar 5,6 persen pada sesi perdagangan terakhir. Komoditas tersebut juga membukukan kenaikan mingguan sebesar 10,7 persen yang memperlihatkan tingginya minat pasar terhadap logam kelompok platinum.
Secara keseluruhan, pergerakan logam mulia dalam beberapa pekan terakhir memperlihatkan dinamika yang sangat kuat dan dipengaruhi oleh kombinasi faktor fundamental serta teknikal. Investor pun terus mencermati arah kebijakan Federal Reserve sebagai pemicu utama bagi pergerakan harga komoditas tersebut.