Garuda

Garuda Bidik Pemulihan Ekuitas 2026 Lewat Aksi Korporasi dan Dana Jumbo Danantara

Garuda Bidik Pemulihan Ekuitas 2026 Lewat Aksi Korporasi dan Dana Jumbo Danantara
Garuda Bidik Pemulihan Ekuitas 2026 Lewat Aksi Korporasi dan Dana Jumbo Danantara

JAKARTA - Arah bisnis PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) kembali menjadi sorotan setelah maskapai pelat merah itu menerima suntikan dana bernilai besar melalui private placement bersama Danantara pada akhir November 2025. Perolehan dana tersebut membuka langkah baru bagi manajemen untuk mengupayakan perbaikan struktur keuangan sekaligus menata kembali strategi ekspansi korporasi.

Wakil Direktur Utama Garuda Indonesia, Thomas Oentoro menjelaskan bahwa dukungan modal tersebut menjadi titik tolak bagi percepatan pemulihan kondisi ekuitas yang masih berada di wilayah negatif. Dia menegaskan bahwa penguatan finansial memungkinkan perusahaan menyiapkan sejumlah aksi strategis tambahan pada 2026, termasuk rencana rights issue.

“Ke depan, sejalan dengan roadmap aksi korporasi 2026 dalam penguatan kinerja bisnis secara grup, tidak menutup kemungkinan akan dilakukan aksi korporasi lanjutan guna memperkuat kinerja bisnis grup,” ujar Thomas. Pernyataan itu menandai komitmen perseroan menjalankan rencana jangka panjang yang menyasar stabilitas operasional dan kedudukan ekuitas yang lebih solid.

Sebelumnya, Garuda Indonesia telah memperoleh persetujuan dari Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa mengenai penyertaan modal dari Danantara senilai Rp23,67 triliun. Dana tersebut mencakup setoran tunai sebesar Rp17,02 triliun dan konversi pinjaman pemegang saham atau shareholder loan (SHL) senilai Rp6,65 triliun.

Alokasi Dana dan Dampaknya terhadap Operasional Garuda-Citilink

Manajemen merinci bahwa sekitar 37% atau setara Rp8,7 triliun dialokasikan untuk modal kerja Garuda Indonesia. Penggunaan dana itu termasuk pemeliharaan dan perawatan armada pesawat yang menjadi unsur vital untuk menjaga standar operasional perseroan.

Sementara itu, porsi terbesar yakni 63% atau senilai Rp14,9 triliun diarahkan untuk mendukung operasional Citilink. Dana tersebut digunakan untuk modal kerja sebesar Rp11,2 triliun serta pelunasan kewajiban pembelian bahan bakar kepada Pertamina periode 2019–2021 senilai Rp3,7 triliun.

Thomas menyatakan bahwa tambahan likuiditas ini akan membantu mengerek performa keuangan Garuda secara keseluruhan pada tahun-tahun mendatang. Dia menyebut adanya peluang besar bagi perusahaan untuk mencetak ekuitas positif pada 2026 seiring dengan penguatan indikator kinerja.

“Kami harapkan [ekuitas positif] dapat terwujud dalam waktu yang tidak lama lagi. Hal ini tentunya diperkuat dengan pengelolaan berbagai indikator kinerja yang prudent, holistik serta membawa semangat tumbuh bersama dalam perspektif kinerja grup,” imbuhnya.

Saat ini, Garuda Indonesia masih berada dalam kondisi ekuitas negatif karena liabilitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan total asetnya. Per kuartal III/2025, liabilitas GIAA tercatat mencapai US$8,28 miliar, sedangkan asetnya berada di angka US$6,75 miliar.

Dengan posisi tersebut, ekuitas perseroan masih berada pada level minus sebesar US$1,53 miliar. Selisih yang cukup besar tersebut menjadi tantangan utama bagi manajemen untuk mengembalikan performa keuangan agar kembali memenuhi standar kesehatan korporasi.

Aksi Lanjutan Menuju Pemenuhan Aturan Free Float Bursa

Usai menyelesaikan proses private placement, Garuda langsung menyusun rencana aksi korporasi berikutnya. Salah satu langkah strategis yang dipertimbangkan adalah rights issue yang akan menjadi bagian dari upaya pemenuhan aturan free float saham.

Seluruh opsi aksi korporasi itu masih akan dibahas lebih lanjut dengan para pemangku kepentingan. Thomas menegaskan bahwa setiap keputusan akan diselaraskan dengan roadmap bisnis 2026 dan tuntutan regulasi yang berlaku di pasar modal.

Sebelumnya, Chief Operating Officer Danantara Indonesia, Dony Oskaria mengonfirmasi bahwa Garuda memang akan melakukan rights issue setelah penyertaan modal tahap ini. Pernyataan tersebut disampaikan setelah pertemuan di Kementerian Keuangan pada 23 Oktober 2025.

“Ada rights issue setelah private placement. Jadi, kami harapkan, berdasarkan forecasting-nya, tahun depan itu Garuda sudah akan untung,” ujar Dony.

Rights issue tersebut juga dilakukan untuk memenuhi ketentuan terkait minimal porsi kepemilikan saham publik. Setelah private placement, porsi free float di GIAA mengalami penurunan sehingga dibutuhkan langkah perbaikan untuk memenuhi syarat bursa.

Sebelum transaksi, Danantara memegang 64,54% saham GIAA. Namun berdasarkan proforma, kepemilikan tersebut akan meningkat signifikan menjadi 92,03% setelah private placement.

Dengan kenaikan tersebut, porsi kepemilikan publik turun tajam dari 27,47% menjadi hanya 6,17%. Perubahan besar itu menunjukkan potensi dilusi hingga 21,29% pada saham publik.

Kondisi tersebut membuat Garuda berisiko melanggar ketentuan Bursa mengenai free float. Aturan V.1.1 mewajibkan setiap emiten memiliki minimal 7,5% saham yang dimiliki publik demi memenuhi standar likuiditas pasar.

Tantangan Ekuitas dan Agenda Reformasi Bisnis Perusahaan

Penurunan porsi free float bukan satu-satunya tantangan yang dihadapi GIAA dalam perjalanan transformasinya. Kondisi ekuitas negatif masih menjadi beban yang harus diselesaikan melalui langkah-langkah perbaikan fundamental.

Manajemen menegaskan bahwa agenda pemulihan tidak hanya berfokus pada suntikan modal semata. Perusahaan juga memperkuat tata kelola, transformasi operasional, dan optimalisasi pendapatan agar perubahan yang dicapai bersifat berkelanjutan.

Likuiditas tambahan dari Danantara memberikan ruang bagi perseroan untuk memperbaiki kualitas armada dan layanan. Langkah ini sejalan dengan strategi memperkuat utilisasi pesawat yang menjadi pendorong utama pemulihan kinerja pendapatan dari sektor penumpang dan kargo.

Dalam jangka menengah, rights issue diharapkan dapat mengembalikan keseimbangan struktur kepemilikan dan memastikan Garuda Indonesia memenuhi seluruh ketentuan pasar modal. Pemenuhan aturan tersebut penting untuk menjaga kepercayaan publik serta menjamin stabilitas harga saham di bursa.

Manajemen berkomitmen menyelaraskan setiap aksi korporasi dengan pertumbuhan jangka panjang. Capaian tersebut akan didukung dengan efisiensi berkelanjutan dan perbaikan produktivitas dalam setiap lini operasional di bawah grup Garuda.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index