JAKARTA - Pergerakan saham PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) kembali menjadi sorotan setelah adanya aksi akumulasi dari jajaran direksi perseroan pada akhir November 2025. Pembelian tersebut menambah deretan transaksi serupa yang dilakukan pejabat internal perusahaan di tengah dinamika harga dan rencana pembagian dividen interim.
Direktur Utama TPIA, Erwin Ciputra tercatat melakukan pembelian signifikan pada 24 November 2025.
“Tujuan dari transaksi tersebut adalah untuk investasi dengan kepemilikan secara langsung,” tulis Erwin dalam laporan resmi. Pernyataan itu sekaligus menegaskan bahwa pembelian dilakukan atas dasar keyakinan pribadi terhadap prospek perseroan.
Berdasarkan rincian transaksi, Erwin memborong 200.000 lembar saham TPIA pada harga Rp7.200 per saham. Dengan harga tersebut, nilai pembelian mencapai Rp1,44 miliar dalam satu kali transaksi.
Erwin yang telah menjabat sebagai Direktur Utama TPIA sejak Januari 2011 itu kini menggenggam 140,05 juta saham atau setara 0,16% hak suara. Jumlah kepemilikan itu menunjukkan adanya peningkatan dari sebelumnya yang berada di angka 139,85 juta lembar atau tetap setara 0,16% porsi suara.
Pembelian tersebut menambah daftar aksi serupa yang dilakukan oleh manajemen TPIA pada 2025. Langkah akumulasi oleh pejabat perusahaan menjadi perhatian pasar karena sering dianggap sebagai indikator keyakinan internal terhadap fundamental perusahaan.
Riwayat Aksi Akumulasi oleh Direksi TPIA Sepanjang 2025
Selain Erwin, sebelumnya ada nama lain dari jajaran direksi yang juga melakukan aksi pembelian saham pada Oktober 2025. Direktur Polymer Sales TPIA, Raymond Budhin tercatat menambah porsi kepemilikannya pada 10 Oktober 2025.
Kala itu, Raymond membeli 100.000 lembar saham TPIA pada harga Rp7.750 per saham. Dengan harga tersebut, nilai transaksi mencapai Rp775 juta.
“Tujuan dari transaksi tersebut adalah untuk investasi,” tulis Raymond. Pernyataan itu mempertegas bahwa pembelian dilakukan berdasarkan pertimbangan finansial pribadi yang mengacu pada prospek perusahaan.
Aksi pembelian oleh kedua pejabat tersebut dilakukan di tengah kondisi harga saham TPIA yang sedang bergerak moderat sepanjang 2025. Pada penutupan perdagangan sesi I Jumat, 28 November 2025, saham TPIA tercatat berada di level Rp7.375 per lembar.
Harga tersebut mencerminkan pelemahan sebesar 1,67% secara year to date sepanjang 2025. Pergerakan harga yang relatif stabil namun terkoreksi tipis itu menjadi latar kondisi pasar saat para direksi memutuskan menambah kepemilikan mereka.
Investor kerap memandang aksi akumulasi oleh pejabat perusahaan sebagai sinyal keyakinan jangka panjang terhadap nilai perusahaan. Oleh karena itu, langkah pembelian saham oleh Erwin dan Raymond dapat memengaruhi persepsi pasar terhadap prospek pertumbuhan TPIA.
Dividen Interim Mengiringi Aksi Pembelian Saham Direksi
Di tengah gelombang pembelian saham oleh jajaran direksi, TPIA juga tengah menjalankan agenda penting berupa pembagian dividen interim tahun buku 2025. Hari Jumat, 28 November 2025 menjadi tanggal pelaksanaan distribusi dividen tersebut kepada para pemegang saham.
Perseroan sebelumnya telah mengumumkan bahwa dividen interim ditetapkan sebesar Rp3,84 per saham. Keputusan ini tertuang dalam Keputusan Edaran sebagai Pengganti Rapat Direksi dan Dewan Komisaris yang beredar pada 29 Oktober 2025.
“Perseroan memutuskan untuk melakukan pembagian dividen interim tahun buku 2025 yang berasal dari laba bersih semester I/2025 sebesar Rp3,8427 per saham,” tulis manajemen dalam pengumuman resmi tertanggal Jumat, 31 Oktober 2025. Pernyataan itu menegaskan bahwa laba semester pertama tahun berjalan menjadi dasar pembagian dividen.
General Manager of Legal & Corporate Secretary TPIA, Erri Dewi Riani, kemudian memberikan pernyataan detail mengenai nilai total dividen. Ia menjelaskan bahwa dividen interim tersebut senilai US$20 juta atau sekitar Rp322,58 miliar.
Perhitungan nilai rupiah menggunakan asumsi kurs Rp16.129 per dolar AS berdasarkan laporan keuangan per 30 Juni 2025. Nilai tersebut merefleksikan besarnya komitmen perseroan dalam memberikan imbal hasil kepada pemegang saham di tengah kondisi pasar yang menantang.
Pembagian dividen ini menjadi salah satu agenda rutin perusahaan dalam mempertahankan apresiasi kepada para pemegang saham. Di sisi lain, agenda ini juga menjadi momentum penting yang biasanya menarik perhatian pelaku pasar menjelang dan sesudah tanggal pembagian.
Konteks Pergerakan Saham dan Arah Kepercayaan Manajemen
Dalam lanskap pergerakan saham TPIA sepanjang tahun berjalan, aksi akumulasi oleh direksi memiliki makna simbolis tersendiri. Pembelian saham oleh Erwin dan Raymond dilakukan dalam periode volatilitas moderat, dan keduanya menunjukkan sikap optimistis terhadap nilai jangka panjang TPIA.
Aksi beli internal sering menjadi indikator kuat tentang kondisi fundamental perusahaan di mata manajemen. Mereka memiliki pemahaman mendalam mengenai arah bisnis dan proyek strategis sehingga keputusan mereka sering menjadi rujukan pasar.
Pada saat bersamaan, dinamika harga saham TPIA yang terkoreksi tipis sepanjang 2025 memberikan ruang bagi pejabat internal untuk melakukan pembelian. Dengan harga yang dinilai menarik, pembelian saham dapat menjadi langkah strategis pribadi yang juga mencerminkan pandangan positif terhadap prospek perusahaan.
Di tingkat korporasi, TPIA saat ini juga tengah menjalankan agenda transformasi bisnis dan ekspansi strategis di beberapa lini usaha. Langkah tersebut termasuk penerimaan dana besar dari investor global untuk sejumlah inisiatif pengembangan dan akuisisi.
Kombinasi antara aksi beli direksi dan agenda korporasi strategis memberikan gambaran bahwa perusahaan berada pada fase penguatan internal. Sentimen tersebut dapat menjadi pertimbangan bagi investor yang menilai stabilitas fundamental pada jangka panjang.
Dengan adanya pembagian dividen interim yang dilakukan pada hari yang sama, dinamika saham TPIA pun semakin menarik untuk diamati. Variasi sentimen pasar terhadap aksi korporasi dan pembelian saham oleh manajemen akan menjadi faktor penentu pergerakan saham pada akhir tahun.