Kemendag

Kemendag Genjot Ekspansi Pasar Global Lewat Perjanjian Dagang Peru dan Tunisia

Kemendag Genjot Ekspansi Pasar Global Lewat Perjanjian Dagang Peru dan Tunisia
Kemendag Genjot Ekspansi Pasar Global Lewat Perjanjian Dagang Peru dan Tunisia

JAKARTA - Pembukaan pasar baru kembali menjadi fokus utama pemerintah dalam memperkuat posisi ekspor nasional menjelang tahun depan. Di tengah persaingan perdagangan yang semakin ketat, Kemendag menilai bahwa kerja sama strategis dengan negara-negara nontradisional mampu memberikan peluang signifikan bagi peningkatan kinerja ekspor Indonesia.

Kesempatan itu kini terbuka lebar melalui dua perjanjian perdagangan yang sudah memasuki tahap penting, yaitu Indonesia-Peru Comprehensive Economic Partnership Agreement dan Indonesia-Tunisia Preferential Trade Agreement. Kedua kemitraan dagang tersebut diyakini dapat mempermudah masuknya produk Indonesia ke pasar kawasan Amerika Selatan dan Afrika.

Menteri Perdagangan Budi Santoso menyampaikan bahwa langkah ini merupakan bagian dari strategi diversifikasi pasar untuk mengurangi ketergantungan pada pasar tradisional. Ia menegaskan bahwa perluasan akses dagang harus terus dimanfaatkan secara maksimal oleh pelaku usaha Tanah Air.

Dalam forum strategis Indonesia-Peru CEPA dan Indonesia-Tunisia PTA yang digelar di Jakarta, Budi menekankan pentingnya implementasi perjanjian dagang tersebut. Forum tersebut digelar pada Selasa, 25 November 2025 sebagai bentuk konsolidasi pemerintah dan pemangku kepentingan.

Menurutnya, setiap peluang perdagangan harus dioptimalkan agar ekspor Indonesia terus menunjukkan kinerja positif. Ia menilai bahwa dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan perwakilan perdagangan RI untuk memaksimalkan hasilnya.

Perjanjian Dagang dengan Peru dan Tunisia Masuki Fase Penentu

Dalam kesempatan tersebut, Budi menjelaskan perkembangan masing-masing perjanjian dagang yang saat ini hampir siap diimplementasikan. Ia mengungkapkan bahwa Indonesia-Peru CEPA telah resmi ditandatangani pada 11 Agustus 2025 dan siap memasuki tahap lanjutan.

Sementara itu, Indonesia-Tunisia PTA telah dinyatakan selesai secara substantif dan dijadwalkan akan ditandatangani pada Januari 2026 mendatang. Keberhasilan kedua inisiatif ini dinilai menjadi tonggak penting dalam memperluas jangkauan produk Indonesia ke dua wilayah yang potensinya terus meningkat.

“Semua perjanjian dagang, baik dengan Peru, Tunisia, maupun negara mitra lainnya, harus segera dimanfaatkan secara optimal oleh pelaku usaha untuk bisa meningkatkan ekspor,” ujar Budi. Pernyataan tersebut ia sampaikan di hadapan para peserta forum sebagai imbauan agar dunia usaha bergerak cepat memanfaatkan peluang.

Ia menambahkan bahwa perjanjian perdagangan bukan hanya membuka pintu untuk penurunan tarif, tetapi juga membuka kerja sama lain seperti investasi dan hubungan bisnis jangka panjang. Hal ini dinilai menjadi keuntungan besar bagi UMKM maupun perusahaan besar.

Melalui CEPA dan PTA, produk Indonesia berpotensi mendapatkan preferensi harga yang lebih kompetitif. Keunggulan ini dapat membantu produsen lokal menembus pasar yang sebelumnya sulit digarap.

Indonesia Catat Kinerja Ekspor Menguat Sepanjang 2025

Budi menegaskan bahwa langkah perluasan pasar ini dilakukan di tengah momentum positif ekspor Indonesia sepanjang tahun berjalan. Ia menyebutkan bahwa kinerja ekspor menunjukkan peningkatan yang melebihi target yang ditetapkan pemerintah.

Pada periode Januari hingga September 2025, ekspor Indonesia tumbuh sebesar 8,14 persen secara tahunan. Angka tersebut melampaui target tahun 2025 yang telah dipatok sebesar 7,1 persen.

Di sisi lain, surplus perdagangan juga mengalami kenaikan yang signifikan. Pada periode yang sama, surplus Indonesia meningkat hingga 50,93 persen dan menunjukkan kondisi neraca perdagangan yang tetap sehat.

“Capaian ini luar biasa, kita ingin terus meningkatkan ekspor dengan cara mencari pasar yang baru. Pembukaan akses pasar ke Peru dan Tunisia merupakan salah satu dari tiga program prioritas Kemendag, yaitu Perluasan Pasar Ekspor,” kata Budi.

Ia menjelaskan bahwa capaian positif tersebut tidak boleh membuat Indonesia menjadi pasif. Pemerintah tetap harus aktif mencari peluang baru agar kinerja ekspor terus tumbuh stabil dan lebih berkelanjutan.

Karenanya, peluang yang diberikan melalui kemitraan dagang harus segera ditindaklanjuti oleh seluruh pemangku kepentingan. Budi menegaskan bahwa keterlibatan pelaku usaha menjadi kunci bagi keberhasilan program perluasan pasar.

Dukungan Perwakilan Dagang RI untuk Jembatani Pelaku Usaha

Dalam meningkatkan efektivitas perluasan pasar, Kemendag juga menyiapkan program penjajakan bisnis atau business matching. Melalui kegiatan ini, pelaku usaha Indonesia akan difasilitasi untuk bertemu langsung dengan calon pembeli dari luar negeri.

Skema penjajakan bisnis tersebut akan digiatkan dengan dukungan perwakilan perdagangan RI di berbagai negara. Budi menjelaskan bahwa Atase Perdagangan dan Indonesia Trade Promotion Center memiliki peran besar dalam menjembatani hubungan bisnis tersebut.

Menurutnya, keberadaan perwakilan perdagangan Indonesia di berbagai negara menjadi ujung tombak diplomasi dagang. Melalui mereka, pemerintah dapat memahami kebutuhan pasar sekaligus mempromosikan produk Indonesia secara lebih efektif.

Pelaku usaha juga didorong untuk lebih aktif memanfaatkan layanan informasi yang disediakan oleh perwakilan perdagangan. Dengan begitu, potensi ekspor dapat dikembangkan secara lebih terarah dan berkelanjutan.

Selain itu, pemerintah memastikan bahwa setiap perjanjian dagang memiliki mekanisme evaluasi agar tetap berjalan seimbang. Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya ketimpangan perdagangan antarnegara.

“Tujuan perjanjian dagang bukan membuat defisit satu sama lain. Kita saling membutuhkan, kita harus menjadi mitra dagang yang adil dan saling menguntungkan,” ujar Budi dalam forum tersebut.

Perdagangan Indonesia dengan Peru dan Tunisia Tunjukkan Tren Positif

Kemendag juga merilis data perdagangan Indonesia dengan kedua negara tersebut selama periode sembilan bulan pertama 2025. Angka tersebut menunjukkan tren pertumbuhan yang cukup menjanjikan.

Perdagangan Indonesia dan Peru pada Januari hingga September 2025 tercatat mencapai 401,90 juta dolar AS. Dari total nilai tersebut, ekspor Indonesia mencapai 328,10 juta dolar AS, sedangkan impor sebesar 73,80 juta dolar AS.

Dengan demikian, Indonesia mencatat surplus sebesar 254,30 juta dolar AS terhadap Peru. Surplus tersebut menunjukkan bahwa Indonesia telah menjadi pemasok penting bagi pasar Peru.

Sementara itu, perdagangan Indonesia dan Tunisia pada periode yang sama mencapai 308,60 juta dolar AS. Nilai tersebut meningkat 157,38 persen dibandingkan periode tahun sebelumnya.

Dari total perdagangan tersebut, ekspor Indonesia ke Tunisia tercatat sebesar 68,90 juta dolar AS. Adapun impor Indonesia dari Tunisia mencapai 239,60 juta dolar AS.

Bagi Kemendag, peningkatan volume perdagangan ini menunjukkan adanya peluang besar yang dapat dimaksimalkan melalui PTA yang akan segera ditandatangani. Kerja sama tersebut dapat membuka jalan bagi lebih banyak produk Indonesia untuk memasuki pasar Afrika Utara.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index