JAKARTA - Perkembangan hilirisasi kakao di Kota Sabang kembali menjadi sorotan setelah kemampuan ekspor daerah tersebut meningkat pesat. Penguatan industrialisasi lokal ini dinilai pemerintah sebagai langkah strategis untuk memperkuat posisi Indonesia di pasar global.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa ekspor kakao dari Sabang bukan sekadar capaian ekonomi semata. Ia menyebut gerakan ini sebagai bentuk “serangan balik” Indonesia ke berbagai negara tujuan ekspor termasuk kawasan Eropa.
Pernyataan tersebut disampaikan Amran ketika menerima kunjungan Wali Kota Sabang Zulkifli H. Adam dan Wali Kota Batam Amsakar Achmad. Keduanya menyambangi kediaman Amran di Jakarta Selatan setelah isu penyitaan beras impor ilegal yang terjadi di dua wilayah tersebut mencuat.
Dalam pertemuan itu, Zulkifli memaparkan bahwa Sabang telah memiliki dua pabrik pengolahan kakao yang rutin mengekspor produk ke luar negeri. Informasi tersebut sontak membuat Amran memberi apresiasi karena Sabang ternyata sudah menjalankan hilirisasi secara aktif.
Amran mengatakan bahwa apa yang dilakukan Sabang selaras dengan prioritas pemerintah mengenai penguatan hilirisasi sektor pertanian. Ia menilai, semakin banyak daerah yang mengolah komoditasnya sendiri maka semakin tinggi pula nilai tambah yang bisa dinikmati masyarakat.
“Cokelat ternyata ekspornya ke Eropa. Ah ini ke depan serangan balik dari Sabang ke negara lain termasuk Eropa,” ujar Amran pada Rabu, 26 November 2025.
Amran menegaskan bahwa Kementerian Pertanian akan memenuhi seluruh kebutuhan bibit kakao yang diminta Pemerintah Kota Sabang. Ia mengatakan hal itu penting dilakukan mengingat Sabang sudah berada di jalur pengolahan hasil pertanian yang memberi dampak ekonomi besar.
Menurutnya, hilirisasi menjadi kunci agar komoditas Indonesia tidak lagi hanya dijual sebagai produk mentah. Ia menggarisbawahi bahwa nilai ekonomi produk kakao olahan bisa mencapai 37 kali lipat lebih besar dibanding menjual biji kakao mentah.
“Khusus kakao berapa permintaan, berapa permintaan Sabang kami penuhi,” kata Amran. “Karena ini ternyata ada pabrik kakao inilah tujuan kita ternyata Sabang sudah maju.”
Ia menuturkan bahwa pemerintah saat ini tengah mendorong daerah lain untuk mengikuti langkah Sabang. Penguatan industri lokal diharapkan menjadi bagian penting dari upaya membangun ketahanan ekonomi nasional.
Sabang Tunjukkan Kualitas Kakao Kelas A Plus
Wali Kota Sabang Zulkifli H. Adam menjelaskan bahwa wilayahnya telah lama memiliki potensi kakao berkualitas premium. Ia menyebut produk kakao Sabang sering diklasifikasikan sebagai kelas A plus di pasar internasional.
Menurutnya, tingginya permintaan membuat pabrik kakao di Sabang mengalami kekurangan bahan baku. Kondisi ini justru membuka peluang bagi perluasan areal tanam kakao di berbagai kecamatan di Sabang.
Zulkifli menuturkan bahwa dua pabrik yang beroperasi di Sabang mengandalkan produktivitas petani lokal untuk menjaga pasokan. Namun, peningkatan permintaan membuat kebutuhan pasokan bahan baku jauh lebih besar dibanding kemampuan produksi saat ini.
Ia berharap dukungan bibit dari pemerintah pusat dapat mempercepat peningkatan produksi kakao Sabang. Dengan demikian, kapasitas pabrik dapat terus terjaga dan ekspor dapat berlangsung tanpa hambatan.
Di sisi lain, Sabang juga dikenal sebagai destinasi wisata unggulan bagi wisatawan Malaysia dan Eropa. Zulkifli mengatakan bahwa pengembangan kakao turut mendukung citra Sabang sebagai kota dengan kekayaan alam dan industri kreatif yang menarik.
“Peminatnya banyak sekali. Sekarang kita kekurangan bahan baku,” ucap Zulkifli.
Ia menilai sinergi antara sektor pariwisata dan industri kakao akan saling memperkuat daya tarik Sabang. Keduanya dapat dikembangkan sebagai sektor unggulan yang menopang ekonomi masyarakat.
Selain itu, meningkatnya permintaan global terhadap produk cokelat membuka peluang besar bagi Sabang untuk memperluas pasar ekspornya. Kondisi ini sejalan dengan kebijakan nasional yang mendorong pertumbuhan industri hilir untuk meningkatkan daya saing Indonesia.
Pemerintah Dorong Investasi Hilirisasi Bernilai Besar
Dukungan pemerintah terhadap hilirisasi semakin nyata setelah adanya kesepakatan investasi besar di sektor pertanian. Pada awal November, Kementerian Pertanian dan Badan Koordinasi Penanaman Modal telah menyepakati investasi senilai Rp371 triliun.
Investasi tersebut diarahkan untuk memperkuat hilirisasi di sektor peternakan, hortikultura, dan perkebunan. Pemerintah menargetkan peningkatan nilai tambah dari berbagai komoditas seperti kelapa, kakao, menteh, kelapa sawit, dan kelapa dalam.
Amran menegaskan bahwa investasi besar tersebut diharapkan mendorong daerah untuk mengembangkan industri lokal. Ia mengatakan langkah ini penting agar Indonesia tidak hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi juga pemain utama produk olahan di tingkat global.
Ia menilai bahwa contoh seperti Sabang harus menjadi model bagi daerah lain. Kesuksesan Sabang dalam mengolah kakao terbukti mampu menghadirkan nilai ekonomi yang jauh lebih besar.
Dengan adanya dua pabrik pengolahan yang aktif mengekspor, Sabang menjadi bukti nyata keberhasilan hilirisasi di tingkat daerah. Hal ini menunjukkan bahwa daerah dengan potensi terbatas pun bisa menghasilkan produk global melalui pengelolaan yang tepat.
Pemerintah berharap bahwa ekspansi industri pengolahan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata. Peningkatan kapasitas produksi juga dianggap penting untuk menjaga stabilitas pasokan bagi pasar domestik dan internasional.
Kakao Indonesia dan Posisi di Pasar Dunia
Indonesia selama ini dikenal sebagai produsen kakao besar di kawasan Asia. Produk kakao nasional berkontribusi sekitar 3 persen terhadap pasokan kakao dunia.
Namun, sebagian besar kakao Indonesia sebelumnya masih diekspor dalam bentuk mentah. Kondisi ini membuat nilai tambah yang diterima Indonesia relatif kecil dibanding negara pengolah kakao seperti Belanda dan Belgia.
Dengan program hilirisasi, pemerintah berharap kontribusi Indonesia sebagai produsen kakao olahan dapat meningkat. Ekspor produk jadi seperti cokelat batang, pasta, dan bubuk kakao diharapkan mampu menembus pasar global secara lebih agresif.
Sabang menjadi salah satu daerah yang menunjukkan kemampuan itu secara nyata. Produknya tidak hanya memenuhi standar internasional, tetapi juga mampu bersaing di pasar Eropa yang dikenal memiliki standar mutu yang ketat.
Keberhasilan tersebut menegaskan bahwa kualitas kakao Indonesia diakui dunia. Dengan dukungan pemerintah, potensi perluasan produksi kakao di Sabang dan wilayah lain diperkirakan dapat terus meningkat.
Amran optimistis bahwa hilirisasi kakao dapat menjadi fondasi baru bagi peningkatan ekonomi daerah. Ia percaya bahwa kemampuan ekspor Sabang akan semakin besar seiring adanya perluasan pasokan bahan baku.
Kementerian Pertanian memastikan bahwa permintaan bibit kakao dari Sabang akan dipenuhi sepenuhnya. Langkah ini dianggap penting untuk menjaga keberlanjutan pabrik yang menjadi penggerak ekonomi masyarakat.
Dengan dukungan kebijakan nasional, kerja sama pemerintah daerah, dan permintaan pasar global yang terus meningkat, industri kakao Sabang diperkirakan akan tumbuh semakin kuat. Sabang pun berpeluang menjadi salah satu pusat produksi cokelat unggulan Indonesia di masa mendatang.