Festival Majelis Taklim 2025

Festival Majelis Taklim 2025 Dorong Literasi Keagamaan dan Kesadaran Ekoteologi

Festival Majelis Taklim 2025 Dorong Literasi Keagamaan dan Kesadaran Ekoteologi
Festival Majelis Taklim 2025 Dorong Literasi Keagamaan dan Kesadaran Ekoteologi

JAKARTA - Kementerian Agama (Kemenag) menghadirkan Festival Majelis Taklim untuk memperkuat literasi keagamaan sekaligus harmoni sosial di masyarakat. Festival ini menjadi ruang strategis bagi majelis taklim seluruh Indonesia untuk menyalurkan kreativitas dan pengetahuan agama.

Plt. Direktur Penerangan Agama Islam Kemenag, Ahmad Zayadi, menyampaikan bahwa majelis taklim kini bukan sekadar tempat mengaji, tetapi juga sarana menemukan ketenangan dan nilai agama yang meneduhkan. Festival ini diharapkan memperkuat ikatan solidaritas antaranggota majelis dan komunitas sekitarnya.

Enam Kategori Lomba dan Ekspresi Kreatif Majelis Taklim

Festival Majelis Taklim 2025 diselenggarakan melalui enam kategori lomba, yaitu Tilawah Quran dan Sari Tilawah, Dakwah Kebangsaan, Kasidah Rebana, Video Profil Majelis Taklim, serta Karya Tulis Fiksi dan Non-Fiksi. Kegiatan ini membuka peluang bagi majelis taklim mengekspresikan syiar agama secara kreatif dan relevan dengan perkembangan zaman.

Zayadi menegaskan bahwa festival menunjukkan majelis taklim sebagai learning organization yang mampu beradaptasi tanpa meninggalkan nilai dasar keagamaan. Setiap peserta diajak menampilkan narasi keagamaan moderat yang berkeadaban dan selaras dengan kebutuhan masyarakat saat ini.

Sinergi Pemerintah dan Komunitas untuk Pembinaan Berkelanjutan

Penyelenggaraan festival menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, aparat keamanan, dan komunitas majelis taklim. Kolaborasi ini diperlukan agar pembinaan majelis taklim lebih efektif dan manfaatnya terasa hingga tingkat akar rumput.

Kerja sama lintas pihak telah terbangun melalui pembinaan berkelanjutan, sehingga majelis taklim dapat berkembang sebagai wahana edukasi agama yang inklusif. Zayadi menekankan bahwa sinergi ini menjadi fondasi bagi lahirnya kader penggerak yang kreatif dan berdaya sosial tinggi.

Pengarusutamaan Ekoteologi dalam Dakwah Majelis Taklim

Festival tahun ini juga menyoroti urgensi pengarusutamaan ekoteologi sebagai bagian dari dakwah majelis taklim masa kini. Zayadi menjelaskan bahwa relasi manusia dan alam harus dibangun dengan kesadaran spiritual dan tanggung jawab ekologis, bukan pola eksploitatif.

“Ekoteologi menjadi wacana penting agar majelis taklim ikut merawat bumi dan menjadikan perhatian terhadap lingkungan sebagai bagian dari ibadah,” ujarnya. Dengan pendekatan ini, majelis taklim tidak hanya mengajarkan nilai agama, tetapi juga membentuk kepedulian sosial dan lingkungan.

Semangat Peserta dan Program Prioritas Nasional

Ketua Pengurus Pusat Pokja Majelis Taklim (Pokja MT), Sururin, menyampaikan apresiasi kepada peserta dari 237 majelis taklim yang mengikuti festival. Ia menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan langkah nyata untuk mengoptimalkan peran majelis taklim sebagai pusat pembelajaran agama yang memberdayakan.

Sururin menambahkan bahwa Pokja MT menetapkan tiga program prioritas nasional: pendataan majelis taklim, penguatan kompetensi melalui festival, dan penyusunan Direktori serta Ensiklopedi Majelis Taklim Indonesia. Pendataan ini menjadi fondasi penting agar pemerintah dan masyarakat dapat memahami profil, tantangan, dan potensi majelis taklim secara akurat.

Semangat peserta festival, lanjut Sururin, menunjukkan wajah optimisme majelis taklim di seluruh Indonesia. Festival ini diharapkan melahirkan kader yang mampu menghadirkan syiar agama secara elegan, moderat, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index