JAKARTA - Penelitian terbaru mengungkap partikel mikroplastik ditemukan dalam cairan amnion dan urin ibu hamil. Hal ini menandakan paparan plastik kecil sudah mampu menembus sistem pertahanan tubuh yang seharusnya melindungi janin.
Dosen Ilmu Kebidanan dan Penyakit Kandungan Fakultas Kedokteran IPB University, dr. Ganot Sumulyo, SpOG, menegaskan bahwa mikroplastik bisa masuk ke tubuh ibu hamil melalui tiga jalur utama. Paparan ini terjadi baik secara langsung maupun tidak langsung, sehingga risiko bagi janin menjadi nyata.
Tiga Jalur Utama Paparan Mikroplastik
Jalur pertama adalah inhalasi, terutama di ruang tertutup dan lingkungan padat. Udara yang membawa debu serta serat plastik dapat mencapai alveolus paru dan kemudian terbawa ke aliran darah.
Jalur kedua adalah konsumsi makanan dan minuman, termasuk air kemasan, makanan laut, dan produk yang dikemas atau dipanaskan dalam plastik. Nanoplastik bisa melewati lapisan usus dan masuk ke sistem peredaran darah, menimbulkan potensi risiko bagi janin.
Jalur ketiga adalah penyerapan melalui kulit, meskipun kontribusinya relatif kecil dibanding dua jalur sebelumnya. Meskipun plasenta berperan sebagai pelindung janin, penelitian menunjukkan partikel berukuran nano mampu menembus lapisan tersebut.
Dampak Mikroplastik pada Janin dan Ibu
Mikroplastik telah ditemukan dalam plasenta, mekonium, hingga jaringan janin. Kondisi ini menunjukkan paparan terjadi sejak bayi masih dalam kandungan, sehingga efek jangka panjang perlu diwaspadai.
Paparan dapat memicu peradangan, stres oksidatif, hingga gangguan aliran nutrisi dari ibu ke janin. Penelitian pada hewan menunjukkan dampak seperti penurunan berat lahir, keterlambatan pertumbuhan, dan perubahan perkembangan organ.
Selain partikel plastik itu sendiri, bahan kimia tambahan seperti phthalates dan Bisphenol A (BPA) juga menjadi perhatian. Kedua bahan ini dikenal mampu mengganggu keseimbangan hormon pertumbuhan dan reproduksi, meningkatkan risiko komplikasi pada bayi.
Pola Hidup dan Pencegahan Paparan Mikroplastik
Pola hidup sehari-hari ikut memengaruhi tingkat paparan, mulai dari konsumsi air kemasan, makanan berbungkus plastik, hingga memanaskan makanan dalam wadah plastik. Paparan serat sintetis dari tekstil di dalam ruangan juga menambah risiko masuknya mikroplastik ke tubuh ibu hamil.
Sebagai langkah pencegahan, dr. Ganot mendorong penelitian terpadu yang mencakup studi kohort ibu-anak, eksperimen hewan dengan dosis realistis, serta standardisasi metode deteksi mikroplastik. Edukasi kepada tenaga kesehatan dan masyarakat juga perlu diperkuat agar risiko paparan mikroplastik dapat diminimalkan.
Penggunaan plastik secara bijak menjadi kunci, terutama bagi ibu hamil. Memilih alternatif kemasan nonplastik, mengurangi penggunaan produk sekali pakai, dan menjaga ventilasi ruangan adalah beberapa cara sederhana yang bisa dilakukan setiap hari.
Kesadaran tentang mikroplastik bukan hanya isu lingkungan, tetapi juga tantangan kesehatan reproduksi masa depan. Dengan langkah pencegahan yang tepat, risiko paparan terhadap janin dapat diminimalkan, sekaligus membantu membangun generasi yang lebih sehat.