JAKARTA - Bank Indonesia mendorong perbankan untuk menyalurkan pembiayaan yang selaras dengan prinsip ekonomi hijau. Hal ini dilakukan agar kredit tidak hanya memperhatikan kelayakan debitur, tetapi juga dampak lingkungan dari usaha yang dibiayai.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, menekankan pentingnya integrasi keberlanjutan dalam kegiatan perbankan. Usaha atau bisnis calon debitur harus menerapkan prinsip ramah lingkungan dan keberlanjutan sebagai syarat penyaluran kredit.
Menurut Destry, langkah ini merupakan paradigma baru dalam industri perbankan. Penekanan pada keberlanjutan menjadi respons atas kerusakan alam akibat eksploitasi berlebihan manusia selama ini.
Realisasi Kredit Hijau di Sektor Produktif dan Perumahan
Kredit hijau tidak hanya terbatas pada sektor produktif, tetapi juga merambah ke sektor perumahan. Penyaluran pembiayaan untuk kendaraan listrik menjadi contoh nyata implementasi pembiayaan ramah lingkungan oleh perbankan.
Destry menjelaskan, bank-bank telah mulai menilai kelayakan usaha dari aspek lingkungan. Hal ini bertujuan mendorong usaha yang lebih berorientasi pada keberlanjutan dan mitigasi risiko kerusakan alam.
Kredit hijau mendorong pelaku usaha untuk mengurangi jejak karbon dan meminimalkan dampak negatif terhadap ekosistem. Bank Indonesia melihat langkah ini sebagai strategi jangka panjang dalam membangun ekonomi hijau nasional.
Kompensasi Emisi Melalui Penanaman Pohon Mangrove
Bank Indonesia juga telah menerapkan langkah nyata untuk kompensasi emisi. Penanaman 1.000 pohon mangrove di Teluk Benoa, Tuban, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung dilakukan pada Minggu, 25 November 2025, sebagai bagian dari upaya mitigasi lingkungan.
Langkah ini sebagai kompensasi dari kegiatan Karya Kreatif Indonesia (KKI) yang menghasilkan emisi sebesar 126 ton. Destry menyebut, kegiatan KKI yang berlangsung pada 7–10 Agustus 2025 memerlukan kompensasi dengan penanaman 31.000 pohon di 25 kantor perwakilan Bank Indonesia.
Penanaman mangrove menjadi simbol nyata upaya menjaga alam dan merawat bumi secara berkelanjutan. Strategi ini juga sejalan dengan tren global untuk mengurangi dampak perubahan iklim dan menjaga keseimbangan ekosistem pesisir.
Tantangan Lingkungan dan Pentingnya Keberlanjutan
Kerusakan alam yang semakin parah menjadi alarm bagi seluruh sektor, termasuk perbankan. Bencana alam yang meningkat merupakan akibat langsung dari eksploitasi berlebihan dan ketidakpedulian manusia terhadap kelestarian lingkungan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mencatat bahwa tahun 2024 menjadi tahun terpanas di bumi. Suhu global melewati ambang 1,5℃ dari masa pra-industri pada tahun 1850, menegaskan urgensi tindakan mitigasi dan adaptasi lingkungan.
Dengan dorongan pembiayaan hijau, Bank Indonesia berharap perbankan mampu menjadi motor perubahan. Integrasi aspek lingkungan dalam kredit menjadi bagian dari strategi pembangunan ekonomi berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Selain itu, pembiayaan hijau juga diharapkan dapat mendorong pertumbuhan bisnis yang inovatif dan ramah lingkungan. Bank Indonesia percaya, praktik perbankan yang memperhatikan keberlanjutan akan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat dan alam.
Investasi dalam sektor ramah lingkungan seperti energi terbarukan, transportasi listrik, dan perumahan hijau menjadi fokus utama. Hal ini tidak hanya mendukung ekonomi nasional, tetapi juga membantu menurunkan emisi karbon dan menjaga kualitas ekosistem.
Peran Bank Indonesia dalam Mengawal Ekonomi Hijau
Bank Indonesia tidak hanya mendorong perbankan untuk menyalurkan kredit hijau, tetapi juga aktif dalam kegiatan konservasi alam. Penanaman pohon mangrove merupakan salah satu wujud nyata komitmen terhadap lingkungan.
Destry menekankan bahwa keberlanjutan harus menjadi bagian dari strategi bisnis perbankan. Dengan demikian, pembiayaan hijau tidak sekadar instrumen finansial, tetapi juga kontribusi nyata terhadap perlindungan bumi.
Kegiatan ini juga menjadi bentuk edukasi bagi masyarakat dan pelaku usaha. Pesan yang ingin disampaikan adalah bahwa ekonomi dan lingkungan dapat berjalan beriringan tanpa harus saling merugikan.
Dengan adanya paradigma baru ini, Bank Indonesia berharap seluruh perbankan dapat menyelaraskan tujuan bisnis dengan prinsip keberlanjutan. Upaya ini menjadi strategi penting untuk menghadapi tantangan perubahan iklim dan kerusakan lingkungan yang semakin kompleks.