JAKARTA - Harga emas batangan Logam Mulia produksi PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM) kembali menguat pada perdagangan Selasa, 25 November 2025. Emas Antam kini dihargai Rp 2.380.000 per gram, naik Rp 40.000 dibandingkan posisi kemarin.
Sementara harga pembelian kembali (buyback) juga mengalami kenaikan senilai Rp 40.000, menjadi Rp 2.241.000 per gram. Lonjakan ini selaras dengan perkembangan harga emas dunia yang sedang berada di posisi tertinggi sejak 13 November 2025.
Di pasar spot internasional, harga emas dunia ditutup pada level US$ 4.143,9 per troy ons. Angka ini mencatatkan kenaikan 2,02% dari penutupan perdagangan akhir pekan lalu, sehingga menimbulkan sentimen positif bagi pasar domestik.
Kenaikan emas dunia sebagian besar dipicu oleh pernyataan pejabat teras Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat. Anggota Dewan Gubernur The Fed, Christopher Waller, terang-terangan mendukung penurunan suku bunga acuan pada rapat Desember mendatang.
Waller menekankan bahwa fokus utama kebijakan moneter adalah kondisi pasar tenaga kerja. Ia menyarankan penurunan suku bunga dan menerapkan pendekatan bertahap mulai Januari 2026 agar ekonomi tetap stabil.
Selain itu, Gubernur Bank Sentral AS New York, John Williams, menegaskan bahwa ruang penurunan suku bunga acuan masih terbuka. Pernyataan ini menambah optimisme pasar terhadap kemungkinan Federal Funds Rate turun dalam waktu dekat.
Optimisme Investor Memacu Permintaan Emas Lokal
Pernyataan Waller dan Williams efektif mendorong sentimen investor global dan domestik. Pasar melihat peluang yang cukup besar untuk penurunan suku bunga, sehingga memacu permintaan emas sebagai aset lindung nilai.
Data CME FedWatch menunjukkan probabilitas Federal Funds Rate turun 25 basis poin (bps) menjadi 3,5–3,75% dalam rapat Desember 2025 mencapai 80,9%. Seminggu sebelumnya, peluangnya hanya 42,4%, menandakan perubahan ekspektasi yang signifikan.
Sebaliknya, probabilitas suku bunga acuan bertahan di 3,75–4% hanya 19,1%, turun drastis dari posisi 57,8% sepekan lalu. Perkembangan ini semakin memperkuat minat investor untuk membeli emas, termasuk emas Antam di pasar domestik.
Emas dikenal sebagai aset non-yielding yang lebih menguntungkan saat suku bunga turun. Kondisi ini mendorong investor memindahkan sebagian portofolio ke emas sebagai alat lindung nilai terhadap risiko pasar dan inflasi.
Selain faktor global, harga emas Antam juga didukung oleh likuiditas dan permintaan dari pembeli lokal. Transaksi buyback yang meningkat menunjukkan minat masyarakat untuk berinvestasi emas jangka menengah hingga panjang.
Perkiraan Harga Emas ke Depan dan Strategi Investor
Secara teknikal, harga emas dunia berada dalam tren bullish jangka pendek. Investor disarankan memantau level psikologis US$ 4.153–4.196 per troy ons sebagai resistance terdekat.
Jika tren penguatan berlanjut, target optimistis emas dunia bisa menembus US$ 4.300 per troy ons. Di sisi lain, support jangka pendek berada pada US$ 4.110–4.100 per troy ons, dengan support lanjutan di US$ 4.094 dan US$ 3.971 per troy ons.
Di pasar lokal, pergerakan harga emas Antam cenderung mengikuti tren global. Kenaikan buyback menjadi Rp 2.241.000 per gram juga menandakan peluang investasi emas tetap menarik bagi investor ritel dan institusi.
Investor disarankan untuk menyesuaikan strategi dengan volatilitas pasar global dan perkembangan kebijakan moneter AS. Kombinasi analisis teknikal dan fundamental menjadi kunci untuk memaksimalkan potensi keuntungan dari fluktuasi harga emas.
Permintaan emas diperkirakan akan tetap tinggi menjelang akhir tahun. Faktor Natal dan Tahun Baru, serta ekspektasi suku bunga yang lebih rendah, menjadi katalis utama bagi kenaikan harga emas domestik.