JAKARTA - Pelabuhan Tanjung Api-Api kembali menjadi perhatian karena aktivitas penyeberangan yang meningkat menuju Pulau Bangka. Arus masyarakat dan wisatawan yang memadati lokasi ini membuat kebutuhan informasi terkait jadwal dan tarif menjadi semakin penting.
Sebagai pelabuhan terbesar di Sumatra Selatan, Tanjung Api-Api memegang peran vital dalam mobilitas antarwilayah. Lokasinya yang berada di kawasan Pantai Timur Sumatra membuat pelabuhan ini menjadi titik strategis untuk akses laut antarprovinsi.
Pelabuhan ini terletak di Kabupaten Banyuasin dan langsung berhadapan dengan Selat Bangka. Posisi tersebut memberikan keuntungan besar bagi proses distribusi barang hingga perjalanan masyarakat setiap harinya.
Aktivitas penyeberangan di pelabuhan ini terus meningkat, terutama mendekati akhir pekan dan musim liburan. Karena itu, informasi jadwal keberangkatan kapal selalu menjadi kebutuhan penting bagi para calon penumpang.
Jadwal Kapal Penyeberangan dari Tanjung Api-Api ke Muntok
Penyeberangan dari Pelabuhan Tanjung Api-Api menuju Muntok berlangsung setiap dua jam sekali. Pada Rabu, 26 November, pihak pengelola sudah menyiapkan sepuluh armada untuk mendukung kelancaran perjalanan.
Peningkatan aktivitas ini menyesuaikan kebutuhan mobilitas warga yang ingin melintas ke Pulau Bangka. Selain itu, meningkatnya jumlah wisatawan juga menjadi salah satu faktor penambahan armada.
Berikut daftar lengkap jadwal penyeberangan yang telah disusun oleh pelabuhan. Setiap kapal memiliki jadwal pasti yang bisa dijadikan acuan oleh calon penumpang.
Penyeberangan Pertama - 07.00 WIB - Dharma Kartika VIII
Penyeberangan Kedua - 09.00 WIB - Dharma Santosa
Penyeberangan Ketiga - 11.00 WIB - Mutiara Pertiwi III
Penyeberangan Keempat - 13.00 WIB - Munic VII
Penyeberangan Kelima - 15.00 WIB - Dharma Kosala
Penyeberangan Keenam - dilewati dalam data aslinya
Penyeberangan Ketujuh - 17.00 WIB - Gunsa 8
Penyeberangan Kedelapan - 19.00 WIB - Mutis
Penyeberangan Kesembilan - 21.00 WIB - Munic XI
Penyeberangan Kesepuluh - 00.00 WIB - Madani
Calon penumpang diimbau tetap memantau informasi terbaru dari pihak pelabuhan. Hal ini penting karena perubahan jadwal dapat terjadi sewaktu-waktu jika cuaca buruk atau gelombang tinggi melanda kawasan Selat Bangka.
Faktor alam memang menjadi perhatian utama dalam penjadwalan transportasi laut. Keselamatan penumpang tetap menjadi prioritas sehingga penyesuaian waktu berangkat sangat memungkinkan.
Tarif Terbaru untuk Penumpang dan Kendaraan
Pelabuhan Tanjung Api-Api juga menyediakan informasi tarif terbaru bagi penumpang maupun pemilik kendaraan. Tarif diberlakukan berdasarkan kategori sehingga calon pengguna jasa bisa menyiapkan biaya sesuai kebutuhan.
Berikut rincian tarif penyeberangan kapal feri dari Tanjung Api-Api ke Muntok. Pembagian tarif mencakup penumpang pejalan kaki hingga kendaraan besar.
Penumpang: Rp53.000
Golongan 1 (sepeda): Rp70.950
Golongan 2 (sepeda motor di bawah 500 cc): Rp129.700
Golongan 3 (sepeda motor di atas 500 cc): Rp218.150
Golongan 4 (mobil penumpang): Rp1.012.340
Golongan 4 (mobil barang): Rp880.626
Golongan 5 (mobil besar penumpang): Rp1.786.410
Golongan 5 (mobil besar barang): Rp1.632.354
Golongan 6 (bus penumpang): Rp2.929.420
Golongan 6 (kendaraan barang besar): Rp2.520.308
Golongan 7 (kendaraan panjang 10–12 meter): Rp2.985.373
Golongan 8 (kendaraan lebih dari 12 meter): Rp4.286.510
Golongan 9 (kendaraan lebih dari 16 meter): Rp5.664.400
Penetapan tarif ini disesuaikan dengan kebijakan transportasi laut yang berlaku saat ini. Setiap golongan kendaraan memiliki kategori berbeda berdasarkan panjang dan kapasitasnya.
Calon penumpang disarankan menyiapkan biaya sebelum tiba di pelabuhan agar proses administrasi berjalan lancar. Persiapan ini juga membantu menghindari antrean panjang saat jam sibuk.
Selain tarif resmi tersebut, pihak pelabuhan juga mengingatkan masyarakat untuk mengikuti aturan keselamatan saat menaiki kapal. Hal ini dilakukan untuk mendukung perjalanan yang lebih aman dan nyaman bagi semua pengguna jasa.
Sejarah dan Perkembangan Pelabuhan Tanjung Api-Api
Pelabuhan Tanjung Api-Api telah menjadi pilihan utama masyarakat Sumatra Selatan untuk menyeberang ke Pulau Bangka. Letaknya yang strategis membuat perjalanan laut menjadi lebih efisien dan cepat dibandingkan jalur sebelumnya.
Pada momen liburan, pelabuhan ini selalu dipadati masyarakat yang ingin melakukan perjalanan jarak dekat maupun jarak jauh. Penyeberangan melalui pelabuhan ini memberikan waktu tempuh yang lebih ideal bagi para pelancong.
Pelabuhan ini mulai beroperasi penuh pada tahun 2007 setelah menggantikan pelabuhan lama di kawasan Sungai Musi 35 Ilir, Palembang. Pelabuhan sebelumnya kerap menghadapi kendala sedimentasi dan pasang surut yang memengaruhi pergerakan kapal.
Pergantian lokasi ini menjadi solusi agar mobilitas masyarakat semakin lancar sepanjang tahun. Kondisi geografis Tanjung Api-Api yang lebih stabil mendukung aktivitas pelayaran yang lebih terjadwal.
Sebelum pengoperasian pelabuhan baru ini, perjalanan dari Palembang menuju Muntok bisa memakan waktu hingga sepuluh jam. Waktu tempuh tersebut menyebabkan perjalanan menjadi kurang efisien bagi masyarakat dan industri.
Kini waktu penyeberangan rata-rata hanya tiga hingga empat jam dalam kondisi normal. Efisiensi tersebut menjadikan pelabuhan ini sebagai jalur utama penyeberangan laut dari Sumatra menuju Bangka.
Keberadaan pelabuhan ini juga membawa dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. Distribusi barang menjadi lebih cepat sehingga mendukung aktivitas perdagangan dan logistik.
Selain itu, peningkatan kunjungan wisatawan juga memberikan kontribusi besar terhadap sektor pariwisata Bangka Belitung. Pelabuhan menjadi pintu utama menuju sejumlah objek wisata populer di wilayah tersebut.
Pengembangan pelabuhan terus dilakukan seiring meningkatnya kebutuhan perjalanan masyarakat. Berbagai penyesuaian fasilitas dan pelayanan juga dilakukan untuk memastikan pelabuhan tetap mampu menangani lonjakan penumpang.
Secara keseluruhan, Pelabuhan Tanjung Api-Api kini menjadi infrastruktur penting bagi Sumatra Selatan. Perannya tidak hanya memudahkan perjalanan, tetapi juga memperkuat konektivitas antarwilayah dalam berbagai sektor.