JAKARTA - Pergerakan distribusi BBM nasional memasuki babak penting ketika pasokan bagi SPBU swasta mulai mendapatkan kepastian baru. Langkah Shell yang menyepakati pembelian base fuel dari Pertamina Patra Niaga menjadi sinyal kuat bahwa stabilitas suplai kembali terbentuk.
Keputusan tersebut muncul di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap BBM dan berkurangnya pasokan di beberapa SPBU swasta sepanjang bulan ini. Situasi tersebut memaksa berbagai badan usaha mencari jalur pengadaan yang lebih pasti dan efisien untuk menghindari kekosongan stok berkepanjangan.
Pada kondisi ini, peran Pertamina Patra Niaga sebagai pemasok terbesar di industri menjadi semakin krusial. Kerja sama business to business antara Shell dan Pertamina Patra Niaga menandai langkah baru yang diharapkan mampu menstabilkan rantai distribusi energi di Tanah Air.
Dengan tercapainya tahap final dalam negosiasi kedua pihak, kepastian pasokan Shell pun semakin kuat. Kesepakatan ini juga menjadi momentum penting bagi ESDM dalam mengawal ketersediaan BBM bagi masyarakat secara merata.
Kesepakatan Shell dan Pertamina Patra Niaga
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral memastikan bahwa Shell telah sepakat membeli base fuel dari Pertamina Patra Niaga. Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menyampaikan bahwa kesepakatan tersebut telah memasuki proses penyelesaian.
Menurut Yuliot, perusahaan asal Eropa itu bakal mengambil pasokan sebesar 100.000 barel base fuel yang disiapkan Pertamina Patra Niaga. Angka tersebut menjadi volume awal yang akan dikirim sesuai titik serah yang telah disetujui bersama.
Yuliot menjelaskan bahwa kesepakatan resmi antara kedua perusahaan telah ditegaskan pada Selasa, 25 November 2025. Ia memastikan bahwa mekanisme B2B berjalan baik dan kedua pihak telah berada pada tahap akhir penyelarasan teknis.
"Shell sudah terdapat kesepakatan dengan Pertamina. Ini direncanakan tanggal 24 atau 25 ini sudah sampai di tempat titik serah yang disepakati antara Pertamina dengan Shell," ujar Yuliot.
Konfirmasi lanjutan masih ditunggu dari pihak Shell Indonesia terkait kesepakatan tersebut. Upaya untuk meminta tanggapan Wakil Presiden Hubungan Korporat Shell Indonesia Susi Hutapea masih belum mendapatkan respons.
Kesepakatan ini sekaligus menjadi salah satu poin penting pemulihan distribusi BBM di wilayah yang sebelumnya mengalami kelangkaan. Langkah Shell dianggap menjadi dorongan positif agar kondisi pasokan kembali normal sebelum akhir bulan.
Kondisi Stok SPBU Swasta Menjelang Akhir Bulan
Dirjen Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Laode Sulaeman sebelumnya memastikan bahwa stok BBM di SPBU swasta seperti Shell, BP-AKR, hingga Vivo akan kembali tersedia pada akhir November 2025. Ia menyebutkan bahwa negosiasi pembelian base fuel oleh Shell saat itu telah mencapai tahap final.
Laode memberi sinyal kuat bahwa Shell akan segera mendapatkan pasokan dari Pertamina Patra Niaga. Ia menyatakan bahwa pengiriman akan langsung berdampak pada ketersediaan stok di seluruh jaringan SPBU Shell.
"Kalau dari informasi yang ada. Akhir bulan ini stok BBM di SPBU Shell kembali hadir," ujar Laode di Kompleks Parlemen, Jakarta, pada Senin, 24 November 2025.
Ia juga menjelaskan bahwa beberapa badan usaha swasta telah lebih dulu mendapatkan alokasi base fuel dari Pertamina Patra Niaga. Dari data yang ada, BP-AKR dan Vivo menjadi perusahaan yang sudah mengambil langkah awal.
BP-AKR dan Vivo masing-masing telah membeli 100.000 barel base fuel untuk memenuhi kebutuhan jaringan SPBU mereka. Bahkan BP-AKR berencana menambah pembelian hingga 200.000 barel dalam waktu dekat.
Perkembangan terbaru menunjukkan bahwa SPBU Vivo sudah mulai kebanjiran stok BBM setelah perusahaan tersebut mengambil pasokan 100.000 barel base fuel pada Minggu, 23 November 2025. Bahan bakar yang mulai tersedia kembali meliputi Revvo 92 dengan spesifikasi RON 92.
Kembalinya suplai di SPBU tersebut menjadi sinyal positif bagi konsumen yang sebelumnya menghadapi antrian panjang dan pembatasan pembelian. Situasi tersebut juga memberikan gambaran bahwa pasokan nasional memasuki masa pemulihan yang lebih stabil.
Dampak dan Signifikansi Kesepakatan Pasokan
Kesepakatan Shell dan Pertamina Patra Niaga memiliki dampak strategis bagi pasar BBM nasional. Pada kondisi persaingan antar-SPBU yang semakin ketat, kepastian pasokan menjadi faktor penting untuk menjaga pelayanan kepada masyarakat.
Dengan adanya kontrak pembelian base fuel sebanyak 100.000 barel, Shell berpotensi menormalkan operasional seluruh jaringannya. Langkah ini juga mengurangi beban masyarakat yang sebelumnya kesulitan mendapatkan jenis BBM tertentu.
Kepastian ini memberikan dampak psikologis positif bagi industri BBM secara keseluruhan. Pelaku usaha kini memiliki gambaran lebih konkret terkait arah pasokan nasional, terutama di masa permintaan meningkat.
Bagi pemerintah, keberhasilan mediasi antara Shell dan Pertamina Patra Niaga memperlihatkan fungsi koordinasi ESDM berjalan baik. Upaya menjaga stok di seluruh SPBU menjadi prioritas utama di tengah meningkatnya kebutuhan mobilitas.
Selain itu, kesepakatan ini juga membawa implikasi jangka panjang bagi pola bisnis SPBU swasta. Ketergantungan pada pasokan dalam negeri menunjukkan bahwa integrasi pasokan nasional semakin kuat.
Konsumen diharapkan akan merasakan langsung manfaat dari kerja sama ini ketika ketersediaan BBM kembali normal. Sebagian wilayah yang sebelumnya mengalami kekosongan stok diprediksi segera pulih dalam beberapa hari mendatang.