Reformasi Tata Kelola Global

Indonesia Dorong Reformasi Tata Kelola Global untuk Negara Berkembang di G20

Indonesia Dorong Reformasi Tata Kelola Global untuk Negara Berkembang di G20
Indonesia Dorong Reformasi Tata Kelola Global untuk Negara Berkembang di G20

JAKARTA - Momentum Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Johannesburg, Afrika Selatan, menjadi titik penting bagi Indonesia menegaskan suara negara berkembang. Pemerintah menekankan perlunya perubahan tata kelola global agar lebih inklusif dan adil bagi semua peserta, terutama Global South.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyoroti peran Presidensi Afrika Selatan dalam memberikan panggung strategis bagi negara berkembang. Ia menjelaskan bahwa Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka menghadiri dua sesi utama yang membahas pembiayaan pembangunan, ekonomi berkelanjutan, perubahan iklim, dan transisi energi.

“KTT ini bersejarah karena pertama kali diadakan di benua Afrika di bawah Presidensi Afrika Selatan, dengan tema Solidarity, Equality, and Sustainability,” ujar Airlangga. Tema tersebut menekankan kesetaraan, solidaritas, dan keberlanjutan sebagai fondasi pengambilan keputusan global.

Akses Pembiayaan yang Setara bagi Negara Berkembang

Indonesia mendorong agar sistem pembiayaan internasional lebih mudah diakses oleh negara berkembang. Airlangga menekankan penghapusan utang, pendanaan transisi hijau, dan mekanisme pembiayaan inovatif sebagai kunci pembangunan jangka panjang.

Selain itu, Indonesia menawarkan solusi digital murah melalui QRIS yang kini diadopsi berbagai negara ASEAN, Jepang, dan Korea. Teknologi ini menunjukkan kemampuan negara berkembang memimpin inovasi keuangan digital di tingkat global.

Negara berkembang, menurut Airlangga, tidak boleh hanya menjadi pengguna teknologi global. Indonesia meminta G20 membuka dialog khusus mengenai ekonomi berbasis kecerdasan buatan (AI economy) agar standar dan regulasi internasional dibentuk secara inklusif.

Ketahanan Pangan dan Tantangan Kemanusiaan

Indonesia menekankan bahwa ketahanan pangan bukan sekadar agenda ekonomi, tetapi kebutuhan fundamental masyarakat. Airlangga menyoroti fakta bahwa lebih dari 720 juta orang di dunia masih menghadapi kelaparan, menunjukkan urgensi tindakan global.

Pemerintah menawarkan model program makan bergizi gratis yang dapat mendorong rantai pasok lokal sekaligus menggerakkan perekonomian akar rumput. Pendekatan ini menjadi contoh kebijakan inovatif yang dapat diadopsi negara lain untuk memperkuat ketahanan pangan.

Selain pangan, Indonesia menyoroti ancaman bencana dan konflik global yang semakin kompleks. Wakil Presiden mengingatkan G20 mengenai dampak krisis di Gaza, Ukraina, Sudan, hingga kawasan Sahel, menekankan perlunya dimensi kemanusiaan dalam setiap kebijakan.

“Bencana tidak hanya bersifat alamiah, tetapi sebagian adalah tindakan manusia itu sendiri,” tegas Airlangga. Pernyataan ini menjadi pengingat bahwa tanggung jawab global harus mengutamakan perlindungan masyarakat dan mitigasi risiko.

Transisi Energi dan Ekonomi Berkelanjutan

Sesi KTT G20 juga membahas pentingnya transisi energi untuk mencapai ekonomi yang berkelanjutan. Indonesia menekankan peran negara berkembang dalam proses ini agar kebijakan global tidak hanya menguntungkan negara maju.

Airlangga menekankan bahwa pendanaan transisi hijau harus mudah diakses dan memadai, agar pembangunan ramah lingkungan dapat dijalankan secara nyata. Hal ini termasuk mendukung energi terbarukan dan pengurangan emisi karbon secara bertahap.

Ekonomi berkelanjutan juga terkait erat dengan pembangunan inklusif. Indonesia mendorong agar setiap negara memiliki kapasitas dan akses untuk mengadopsi teknologi hijau dan inovasi ekonomi tanpa terbebani utang.

Digitalisasi dan Peran Teknologi Global

Selain pembiayaan dan energi, Indonesia menyoroti ekonomi berbasis kecerdasan buatan sebagai agenda strategis. Airlangga menekankan bahwa negara berkembang harus ikut berperan dalam pembentukan standar global AI dan teknologi finansial.

Peran ini penting agar teknologi tidak hanya dimanfaatkan, tetapi juga dibentuk secara adil sesuai kepentingan semua negara. Indonesia ingin memastikan partisipasi Global South dalam pengambilan keputusan teknologi menjadi nyata, bukan hanya simbolis.

Penggunaan solusi digital seperti QRIS menjadi contoh keberhasilan Indonesia dalam memimpin inovasi teknologi keuangan. Hal ini menunjukkan bahwa negara berkembang memiliki kapasitas untuk menjadi pemimpin global dalam transformasi digital.

Solidaritas dan Kesetaraan di Forum Global

Konferensi G20 di Johannesburg menjadi momen penting bagi negara berkembang menunjukkan posisi strategisnya. Indonesia menekankan bahwa solidaritas dan kesetaraan harus menjadi dasar pengambilan keputusan global agar pembangunan lebih inklusif.

Airlangga menegaskan perlunya kolaborasi lintas negara untuk menangani tantangan global, mulai dari pangan, energi, hingga bencana. Langkah ini mencerminkan upaya Global South untuk memperkuat posisi tawar dalam forum ekonomi terbesar dunia.

Dengan pendekatan ini, Indonesia berharap G20 dapat menghasilkan kebijakan yang lebih adil bagi negara berkembang. Selain itu, dialog antarnegara akan memperkuat koordinasi dalam menghadapi risiko ekonomi, sosial, dan lingkungan.

Dengan strategi inklusif, digital, dan berbasis kemanusiaan, Indonesia menegaskan komitmennya di KTT G20. Momentum Presidensi Afrika Selatan menjadi kesempatan untuk menempatkan kepentingan Global South sejajar dengan negara maju dalam forum global.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index