JAKARTA - Harga batu bara global kembali mencatatkan penguatan pada Senin, 24 November 2025. Lonjakan ini membawa komoditas tersebut ke level tertinggi sejak Agustus 2025, seiring harapan pasar bahwa China akan meluncurkan stimulus ekonomi baru.
Kenaikan harga terbaru terlihat pada batu bara Newcastle untuk kontrak November 2025 yang naik 0,25% menjadi US$111,15 per ton. Sementara itu, kontrak Desember 2025 menguat tipis 0,05% menjadi US$112,45, sedangkan Januari 2026 sedikit melemah 0,1% menjadi US$112,65 per ton.
Pergerakan Harga Batu Bara di Pasar Internasional
Di Eropa, harga batu bara Rotterdam untuk November 2025 naik 0,55% menjadi US$95,85 per ton. Kontrak Desember 2025 melemah 0,4% menjadi US$96,3, sedangkan Januari 2026 turun 0,5% menjadi US$96,75 per ton.
Dalam sebulan terakhir, harga batu bara naik 7,18% meski masih 21,31% lebih rendah dibanding periode yang sama tahun lalu. Data ini dihitung berdasarkan perdagangan kontrak contract for difference (CFD) yang mengikuti harga acuan global komoditas tersebut.
Secara historis, batu bara pernah menembus rekor tertinggi US$457,80 per ton pada September 2022. Kenaikan terbaru ini menunjukkan permintaan kembali meningkat setelah pasar global sempat melemah.
Stimulus dan Kebijakan Fiskal China Jadi Pemicu
Lonjakan harga batu bara dipicu harapan pasar terhadap stimulus baru dari China, konsumen terbesar komoditas ini. Beijing dikabarkan sedang mempertimbangkan langkah tambahan untuk menstabilkan sektor properti yang melemah, guna mencegah gangguan sistem keuangan.
Menteri Keuangan China, Lan Foan, menegaskan bahwa kebijakan fiskal akan diperkuat dalam lima tahun ke depan. Pemerintah akan memanfaatkan anggaran, perpajakan, obligasi pemerintah, dan transfer pembayaran untuk mendukung pembangunan ekonomi dan sosial secara berkelanjutan.
China juga memberi sinyal akan mempertahankan ketergantungan pada pembangkit listrik berbasis batu bara hingga beberapa dekade ke depan. Target permintaan puncak batu bara diperkirakan akan terjadi pada 2030, mengubah indikasi sebelumnya yang menyebut fase pengurangan batu bara akan dipercepat.
Dampak Global dan Ketergantungan Energi
Ketergantungan terhadap batu bara tidak hanya terjadi di China, tetapi juga terlihat di beberapa negara Asia lainnya dan Eropa. Lonjakan kebutuhan listrik, terutama dari pusat data (data centers), mendorong permintaan batu bara tetap tinggi meski ada tekanan transisi energi.
Harga batu bara yang naik kembali ini juga menunjukkan volatilitas pasar energi global. Kenaikan harga berdampak pada biaya produksi listrik dan mempengaruhi sektor industri yang sangat bergantung pada energi berbasis batu bara.
Prospek dan Tantangan Industri Batu Bara
Para pelaku industri melihat kenaikan harga sebagai peluang sekaligus tantangan. Sementara harga tinggi menguntungkan produsen, ketergantungan pada konsumsi batu bara di tengah transisi energi global menimbulkan risiko jangka panjang.
Pemerintah dan perusahaan perlu menyiapkan strategi agar industri tetap kompetitif sekaligus mendukung kebijakan energi bersih. Sinergi antara kebijakan fiskal dan pengelolaan pasokan komoditas menjadi kunci stabilitas harga di pasar global.
Dengan pergerakan harga terbaru dan sinyal stimulus dari China, pasar batu bara global kembali menunjukkan dinamika yang kompleks. Para investor, produsen, dan pembeli listrik diperkirakan akan terus memantau kebijakan fiskal serta permintaan energi untuk mengambil keputusan strategis.