Minyak Sawit

Harga Minyak Sawit Malaysia Terendah 21 Minggu, Ringgit Kuat Tekan Ekspor

Harga Minyak Sawit Malaysia Terendah 21 Minggu, Ringgit Kuat Tekan Ekspor
Harga Minyak Sawit Malaysia Terendah 21 Minggu, Ringgit Kuat Tekan Ekspor

JAKARTA - Harga minyak sawit Malaysia pada hari Senin, 24 November 2025, mengalami penurunan untuk tiga hari berturut-turut. Pelemahan ini menempatkan harga minyak sawit pada level terendah sejak 21 minggu terakhir.

Fenomena ini disebabkan oleh kombinasi penguatan ringgit Malaysia dan menurunnya permintaan global. Selain itu, pasokan minyak sawit di bulan Oktober tercatat meningkat, sehingga menekan harga lebih lanjut.

Harga Minyak Sawit Februari dan Dampak Mata Uang

Kontrak minyak sawit untuk Februari di Bursa Malaysia Derivatives Exchange turun 14 ringgit atau 0,33% menjadi 4.055 ringgit per metrik ton. Ini merupakan level terendah sejak 1 Juli 2025 dan menjadi sinyal kehati-hatian bagi pelaku pasar.

Penguatan ringgit 0,17% terhadap dolar membuat harga komoditas Malaysia menjadi lebih mahal bagi pembeli luar negeri. Kondisi ini otomatis menurunkan minat impor minyak sawit dari negara-negara non-ringgit.

Penurunan Ekspor dan Produksi Akibat Cuaca

Ekspor minyak sawit Malaysia dari 1–20 November 2025 turun antara 14%–20,5% menurut survei Amspec Agri dan Intertek Testing. Penurunan ekspor ini menambah tekanan pada harga karena pasokan berlebih di dalam negeri.

Produksi diperkirakan menurun pada Desember 2025 hingga kuartal pertama 2026. Musim hujan yang berlangsung di seluruh area perkebunan menyebabkan operasional panen terhenti sementara.

Hampir 11.000 orang di tujuh negara bagian Malaysia terdampak banjir akibat curah hujan tinggi. Kejadian ini dikategorikan sebagai bencana alam nasional dan turut menekan produksi minyak sawit lokal.

Perbandingan dengan Harga Minyak Lain

Harga minyak kedelai di Dalian Commodity Exchange turun 0,24%, sementara minyak sawit melemah 1,18%. Tren ini menunjukkan bahwa minyak sawit lebih sensitif terhadap faktor lokal seperti cuaca dan nilai tukar ringgit dibandingkan minyak nabati lainnya.

Sementara itu, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade justru naik 0,32%. Hal ini menandakan bahwa permintaan global terhadap minyak nabati berbeda-beda tergantung jenis dan pasar regional.

Analisa Teknikal dan Prospek Harga

Menurut Loni T, Senior Analyst Vibiz Research Centre Division, support pertama untuk harga minyak sawit berada di 4.010 ringgit per metrik ton. Level support berikutnya diprediksi mencapai 3.880 ringgit jika tekanan jual terus berlanjut.

Di sisi lain, resistance pertama berada pada 4.010 ringgit, dengan resistance kedua di 4.300 ringgit. Level ini menjadi acuan bagi pedagang dan investor untuk menentukan titik beli atau jual dalam jangka pendek.

Kesimpulan: Tantangan Pasar Minyak Sawit Malaysia

Penurunan harga minyak sawit menyoroti tantangan pasar akibat kombinasi cuaca ekstrem, penguatan mata uang, dan menurunnya permintaan. Produksi yang melambat sementara ekspor turun menambah ketidakpastian bagi pelaku industri.

Bagi investor, memahami dinamika ringgit, cuaca, dan pasokan global menjadi kunci dalam mengambil keputusan. Perkiraan teknikal menunjukkan bahwa harga bisa bergerak lebih rendah jika faktor eksternal tetap menekan pasar.

Dengan situasi saat ini, pelaku pasar perlu waspada terhadap perubahan permintaan global dan fluktuasi nilai tukar. Strategi mitigasi risiko menjadi penting agar dampak penurunan harga tidak terlalu besar bagi produsen maupun eksportir.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index