Energi

Energi Terbarukan Perkuat Ketahanan Pangan Petani Lugusari

Energi Terbarukan Perkuat Ketahanan Pangan Petani Lugusari
Energi Terbarukan Perkuat Ketahanan Pangan Petani Lugusari

JAKARTA - Di banyak wilayah pertanian, irigasi yang tersendat masih menjadi masalah klasik yang menghambat produktivitas. 

Namun, kondisi berbeda kini dirasakan petani di Desa Lugusari, Lampung, setelah hadirnya pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) yang mampu mengoperasikan pompa air tanpa biaya bahan bakar. Keberadaan teknologi ini membuat petani tak lagi bergantung pada aliran irigasi yang kerap melemah pada musim kemarau.

Sebelumnya, saat debit air menurun, petani terpaksa mengeluarkan anggaran tambahan untuk menyalakan pompa berbahan bakar minyak. Kondisi itu tentu menjadi beban, terutama pada musim tanam kedua ketika curah hujan menurun. Kini, pemanfaatan energi surya mengubah pola tanam dan meningkatkan produktivitas para petani.

Suasana berbeda terlihat di persawahan Desa Lugusari. Di bawah terik matahari, PLTS justru menjadi sumber daya utama yang memastikan air tetap mengalir ke sawah, bukan lagi menjadi hambatan bagi para petani untuk menanam padi sepanjang tahun.

Manfaat Langsung bagi Petani di Lapangan

Di tepi sungai irigasi, Andi Kurniawan, salah satu petani, menunjukkan area sawah miliknya seluas seperempat hektar. Selama dua musim tanam terakhir, ia mampu menghasilkan sekitar 1,5 ton gabah kering giling, dan kini bersiap kembali menanam tanpa harus memikirkan biaya pompa portable seperti sebelumnya.

Menurut Andi, penggunaan pompa berbahan bakar minyak sangat membebani biaya produksi. Dengan kebutuhan 1 liter BBM untuk 1 jam operasional, pengeluaran meningkat terutama ketika debit air menipis. Kondisi ini sering membuat petani enggan menanam padi dan memilih komoditas lain yang tidak membutuhkan banyak air.

Namun, kehadiran PLTS mengubah keputusan petani dalam menentukan masa tanam. “Namun, dengan adanya PLTS tak pusing lagi. Dalam setahun bisa tiga kali menanam. Jadi, tidak terlalu pusing untuk membeli keperluan sehari-hari. Uang simpanan tetap ada,” ujar Andi.

Dampak Ekonomi dan Penghematan Biaya

Manfaat energi surya tidak hanya terlihat pada ketersediaan air, tetapi juga pada efisiensi biaya pertanian. Kepala Desa Lugusari, Adi Sutrisno, menjelaskan bahwa sebelumnya hamparan sawah seluas 25 hektar di area tersebut bergantung penuh pada aliran irigasi dari hulu. Karena berada di bagian akhir saluran, petani sering kali hanya menerima sisa air.

Ada periode ketika petani harus menyalakan pompa berbahan bakar minyak selama 24 jam agar sawah tetap terairi. Kondisi ini menjadikan biaya produksi meningkat dan hasil panen tidak sebanding dengan pengeluaran yang harus ditanggung petani.

Dengan PLTS Irigasi Lugusari, biaya pertanian berkurang drastis. “Musim tanam gadu kemarin mereka keluar biaya nol rupiah karena air bisa tetap mengalir. Secara umum, pengurangan biaya yang dikeluarkan petani bisa mencapai 80 persen,” ujar Adi.

Spesifikasi PLTS dan Mekanisme Distribusi Air

PLTS Irigasi Lugusari memiliki kapasitas 23,4 kilowatt peak (kWp) dan dibangun di lahan seluas 420 meter persegi. Teknologi ini merupakan bantuan dari program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) PT Bukit Asam Tbk. Melalui panel surya, energi matahari diubah menjadi listrik dan disalurkan ke inverter berkapasitas 25 kilowatt.

Energi tersebut kemudian digunakan untuk mengoperasikan pompa submersible berdaya 18,5 kilowatt yang ditempatkan di titik sumber air. Air dialirkan melalui pipa berdiameter 6 inci dengan panjang 500 meter hingga mencapai saluran irigasi peninggalan Belanda serta jaringan sawah warga.

Hingga kini, 267 petani menerima manfaat langsung dari sistem irigasi berbasis energi terbarukan ini. Keberadaan PLTS tidak hanya mengalirkan air, tetapi juga memberi masa depan lebih pasti bagi para petani dalam menentukan siklus tanam.

Dampak bagi Ketahanan Pangan dan Kemandirian Energi

Sebelum adanya PLTS, sebagian petani hanya dapat menanam satu kali dalam setahun karena keterbatasan air. Bahkan, penggunaan pompa portable sering kali tidak memberikan hasil optimal karena biaya operasional lebih besar dari nilai panen yang diperoleh. Hal itu membuat petani sulit berkembang dan kehilangan motivasi untuk bertani.

Dengan lancarnya suplai air, produksi padi kini dapat berlangsung tiga kali dalam satu tahun. Keberadaan PLTS secara tidak langsung mendukung ketahanan pangan daerah, terutama karena Lampung merupakan salah satu lumbung padi nasional. Hal ini mencerminkan bahwa energi terbarukan dapat menjadi solusi nyata bagi sektor pertanian.

Lebih dari itu, PLTS Irigasi Lugusari menghadirkan kemandirian energi bagi petani, sehingga pengeluaran dapat ditekan dan produktivitas meningkat secara konsisten.

Perluasan Dampak dan Peran CSR Berkelanjutan

Secara geografis, PLTS Irigasi Lugusari berada sekitar 70 kilometer dari Pelabuhan Tarahan yang dikelola PTBA. Pelabuhan ini menjadi jalur logistik batubara yang diangkut dari Tanjung Enim menggunakan kereta api babaranjang untuk kebutuhan dalam negeri dan ekspor.

Menurut Hamdani B Yusdi selaku Kepala Departemen SDM, Layanan Umum, Keuangan, dan CSR PTBA Pelabuhan Tarahan, pembangunan PLTS diawali melalui pemetaan kebutuhan masyarakat. Evaluasi dilakukan untuk memastikan bantuan yang diberikan tepat sasaran dan memberi dampak sosial yang berkelanjutan.

”Pada dasarnya, (dengan stimulus), kami hendak mengubah bagaimana masyarakat mau melangkah, memiliki mentalitas mandiri, dan menciptakan sesuatu untuk menyelesaikan permasalahan yang ada,” ujar Hamdani.

PLTS Lugusari merupakan salah satu dari tiga PLTS yang dibangun pada tahun tersebut. Secara total, ketiga PLTS mampu mengaliri 277 hektar lahan dan dimanfaatkan 527 petani. 

Dengan total enam PLTS yang telah dibangun dalam periode 2022–2024, keberadaan teknologi energi surya ini semakin memperkuat produktivitas pertanian dan meningkatkan kesejahteraan petani secara nyata.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index