Minyak

Minyak Dunia Menguat Seiring Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga

Minyak Dunia Menguat Seiring Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga
Minyak Dunia Menguat Seiring Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga

JAKARTA - Pergerakan harga komoditas global menunjukkan tren yang kembali menguat setelah beberapa waktu mengalami tekanan. 

Sejumlah faktor eksternal, mulai dari proyeksi pemotongan suku bunga hingga ketidakpastian geopolitik, menjadi pemicu utama perubahan harga di pasar energi. Sentimen pasar global yang sensitif terhadap isu geopolitik dan kebijakan moneter kembali memainkan peran penting dalam menentukan arah harga.

Kenaikan harga minyak mentah menjadi sorotan utama setelah sentimen pasar bergeser pada harapan pemotongan suku bunga The Fed. Pasar memperkirakan bahwa relaksasi kebijakan akan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berpotensi meningkatkan permintaan energi global. 

Kondisi ini menandai titik balik dari tren penurunan yang terjadi beberapa pekan sebelumnya.

Di saat yang sama, ketidakpastian geopolitik yang muncul akibat keraguan atas proses damai antara Rusia dan Ukraina juga memberikan tekanan tambahan bagi pasar. Situasi tersebut menjadi pemicu spekulasi bahwa suplai minyak global dapat terganggu dalam beberapa waktu ke depan.

Kenaikan Harga Minyak Mentah Setelah Tekanan Global

Harga minyak mentah Brent dan WTI mengalami kenaikan sekitar 1 persen pada penutupan perdagangan Senin. Kenaikan ini dinilai sebagai reaksi pasar terhadap meningkatnya ekspektasi pelonggaran moneter The Fed pada Desember mendatang. 

Pelonggaran tersebut diyakini akan mendukung kebutuhan energi, terutama di sektor industri dan transportasi.

Harga minyak mentah Brent naik sebesar 81 sen atau 1,3 persen sehingga mencapai USD 63,37 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) mengalami kenaikan serupa sebesar 78 sen atau 1,3 persen hingga berada di posisi USD 58,84 per barel dalam penutupan perdagangan yang sama.

Selain faktor kebijakan moneter, proyeksi meningkatnya ketidakpastian pasokan turut mempengaruhi pergerakan harga. Keraguan atas kesepakatan damai antara Rusia dan Ukraina menciptakan kekhawatiran bahwa ekspor minyak dapat terhambat, yang pada akhirnya mendorong langkah spekulatif bagi para pelaku pasar.

Harga Batu Bara Mengalami Penguatan Ringan

Di sektor energi berkelanjutan, harga batu bara tercatat meningkat tipis pada penutupan perdagangan. Meskipun kenaikan tidak signifikan, pergerakan ini menunjukkan adanya permintaan yang stabil dalam beberapa sektor industri yang masih bergantung pada batu bara sebagai sumber energi.

Berdasarkan data perdagangan, harga batu bara naik 0,23 persen sehingga berada di posisi USD 111,15 per ton. Kenaikan tersebut diduga dipengaruhi stabilnya konsumsi energi global menjelang awal musim dingin yang umumnya meningkatkan permintaan energi di sejumlah negara.

Walaupun tren global mengarah pada transisi energi baru terbarukan, batu bara masih memegang peran penting sebagai sumber energi pendukung sistem kelistrikan di banyak negara industri dan berkembang.

Penurunan Harga CPO Setelah Tekanan Pasar

Berbeda dengan komoditas energi lainnya, harga minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) justru mengalami penurunan tipis pada penutupan perdagangan Senin. Pelaku pasar melihat adanya potensi koreksi harga setelah sebelumnya sempat naik dalam beberapa pekan berturut-turut.

Menurut data pasar, harga CPO turun 0,32 persen dan berada di level MYR 4.055 per ton. Penurunan tersebut dinilai tidak terlalu agresif dan masih masuk dalam rentang stabil fluktuasi pasar.

Kondisi ini menandai adanya mekanisme penyesuaian pasar yang dipengaruhi kombinasi faktor pasokan dan permintaan, serta situasi ekonomi global yang belum sepenuhnya pulih.

Harga Nikel Bergerak Naik Sejalan Tren Industri

Sementara itu, harga nikel mencatat kenaikan pada penutupan perdagangan Senin. Bahan baku yang banyak digunakan di sektor baterai, kendaraan listrik, dan industri logam ini menunjukkan penguatan seiring meningkatnya permintaan global.

Harga nikel naik sebesar 0,75 persen dan mencapai USD 14.730 per ton. Pergerakan harga ini menunjukkan tren optimisme pasar terhadap perkembangan industri yang membutuhkan pasokan logam dasar sebagai komponen produksi.

Peningkatan harga nikel juga mencerminkan tren jangka panjang yang didorong kebutuhan rantai pasok teknologi hijau dan kendaraan listrik yang terus tumbuh secara global.

Harga Timah Menguat di Tengah Naiknya Permintaan

Selain nikel, harga timah juga mencatat kenaikan signifikan pada penutupan perdagangan. Pasar logam global memperlihatkan peningkatan permintaan dari sejumlah industri yang memerlukan timah sebagai komponen untuk elektronik dan manufaktur.

Berdasarkan data London Metal Exchange (LME), harga timah naik 1,32 persen dan menetap di level USD 37.384 per ton. Kenaikan tersebut menjadi indikator bahwa sektor manufaktur masih tumbuh dan membutuhkan pasokan timah untuk memenuhi kebutuhan produksi.

Dengan harga logam yang cenderung meningkat, pasar komoditas global menunjukkan dinamika baru yang dipengaruhi sentimen geopolitik, pertumbuhan industri, dan kebijakan moneter internasional.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index