JAKARTA - Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menyampaikan bahwa serapan anggaran Kementerian Pertanian (Kementan) hingga saat ini baru mencapai 72,41%. Pagu anggaran yang ditetapkan sebesar Rp31,91 triliun pada tahun 2025, termasuk alokasi belanja tambahan (ABT) sebesar Rp2,46 triliun.
Amran menjelaskan bahwa serapan yang belum optimal salah satunya disebabkan adanya blokir anggaran sebesar Rp8 triliun dari Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Blokir ini masih berlangsung sebagian hingga Oktober 2025, sehingga memengaruhi realisasi program di lapangan.
Ia menambahkan, anggaran yang diblokir terdiri dari Rp136 miliar untuk perjalanan dinas yang digunakan secara selektif. Selain itu, ada blokir non-perjalanan dinas senilai Rp572 miliar yang bersumber dari pinjaman luar negeri.
Pemanfaatan Anggaran untuk Peningkatan Produksi Komoditas Strategis
Andi Amran menyebut, tambahan anggaran ABT diberikan sebagai tindak lanjut arahan Presiden Prabowo Subianto. Tujuannya adalah meningkatkan produksi sejumlah komoditas strategis seperti tebu, kopi, kelapa, kakao, mente, lada, dan pala.
Program peningkatan produksi tersebut dilakukan melalui pengembangan kawasan, penguatan pembenihan, pengelolaan tanaman perkebunan, serta dukungan manajemen dan teknis. Optimalisasi kegiatan ini juga diharapkan mampu mempercepat realisasi serapan anggaran.
Menurut Amran, alokasi pagu efektif Kementan pada 2025 adalah Rp31,12 triliun. Anggaran ini sudah memperhitungkan blokir sebagian dan diproyeksikan bisa terserap lebih optimal hingga akhir tahun.
Kementan menekankan pentingnya pelaksanaan program yang terukur dan bertanggung jawab secara keuangan. Setiap program harus dilaksanakan sesuai prinsip grundable, menjaga akuntabilitas sekaligus efektivitas penggunaan anggaran.
Upaya Meningkatkan Serapan Hingga Akhir Tahun
Untuk menutup celah serapan, Kementan menyiapkan langkah strategis di lapangan. Fokus utamanya adalah memastikan seluruh program berjalan optimal sambil tetap mempertahankan pertanggungjawaban keuangan yang transparan.
Amran optimistis, dengan langkah-langkah tersebut, realisasi serapan anggaran Kementan dapat mencapai minimal 93% hingga Desember 2025. Target ini dinilai realistis mengingat sebagian besar kegiatan telah berjalan dan tersalurkan ke daerah.
Kementan juga menekankan koordinasi dengan mitra dan pemerintah daerah agar alokasi anggaran bisa dimanfaatkan secara maksimal. Pendekatan ini sekaligus untuk memastikan program pertanian berdampak langsung pada peningkatan produksi dan kesejahteraan petani.
Selain itu, Amran mengingatkan pentingnya pemanfaatan anggaran sesuai arahan Presiden. Hal ini mencakup program yang berorientasi pada peningkatan ketahanan pangan nasional.
Pendekatan pengembangan komoditas unggulan diharapkan mampu menekan ketergantungan impor dan memperkuat posisi Indonesia di pasar global. Strategi ini juga mendukung target pemerintah dalam meningkatkan produksi pangan strategis.
Seiring dengan optimalisasi program, Kementan melakukan evaluasi berkala untuk memastikan realisasi anggaran sesuai rencana. Evaluasi ini membantu mengidentifikasi hambatan dan mengambil langkah korektif lebih cepat.
Pelaksanaan kegiatan di lapangan mendapat perhatian serius agar anggaran tidak tersisa akibat birokrasi atau kendala administrasi. Dengan begitu, serapan anggaran dapat mendukung target produksi komoditas strategis secara maksimal.
Sinergi dengan Pemerintah dan Pemangku Kepentingan
Andi Amran menekankan perlunya sinergi antara Kementan, Kemenkeu, dan pemerintah daerah. Kerja sama ini penting agar seluruh program dapat berjalan lancar tanpa kendala blokir anggaran.
Koordinasi intensif juga diperlukan dalam program pembenihan dan pengembangan kawasan tanaman perkebunan. Sinergi ini diyakini dapat memaksimalkan manfaat langsung bagi petani dan masyarakat di wilayah pertanian.
Selain itu, Kementan memastikan bahwa seluruh kegiatan pengelolaan anggaran mengikuti prinsip transparansi dan akuntabilitas. Setiap rupiah yang terserap akan dipertanggungjawabkan secara jelas sesuai regulasi keuangan negara.
Dengan langkah-langkah tersebut, Kementan berharap bisa mengatasi keterlambatan serapan dan memastikan seluruh alokasi anggaran digunakan secara optimal. Fokus utama tetap pada peningkatan produksi pangan dan kesejahteraan petani.
Secara keseluruhan, Kementan menegaskan komitmen untuk memaksimalkan serapan anggaran 2025. Meski menghadapi blokir Rp8 triliun dari Kemenkeu, strategi optimalisasi dan koordinasi di lapangan diharapkan mampu meningkatkan realisasi anggaran hingga mendekati target.
Peningkatan produksi komoditas strategis melalui program pengembangan kawasan dan dukungan teknis menjadi prioritas utama. Pemerintah berharap upaya ini tidak hanya meningkatkan serapan anggaran, tetapi juga mendorong ketahanan pangan nasional secara berkelanjutan.