JAKARTA - Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, mengungkapkan realisasi serapan anggaran Kementerian Pertanian (Kementan) tahun 2025 hingga 20 November baru mencapai 72,41%. Meski angka ini belum maksimal, Amran optimistis realisasi akan meningkat hingga minimal 93% pada akhir Desember 2025.
Pagu efektif Kementan tahun ini tercatat sebesar Rp31,12 triliun, termasuk tambahan anggaran dari Anggaran Belanja Tambahan (ABT) sebesar Rp2,46 triliun. Menurut Amran, tambahan dana ini merupakan tindak lanjut arahan Presiden Prabowo Subianto langsung kepada Kementerian Pertanian.
Dalam rapat kerja bersama Komisi IV DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Amran memaparkan bahwa ABT diarahkan untuk program pengembangan kawasan, penguatan pembenihan, tanaman perkebunan, serta dukungan teknis. Komoditas prioritas yang menjadi fokus antara lain tebu, kopi, kelapa, kakao, mete, lada, dan pala.
Amran menekankan, progres serapan anggaran hingga 20 November sudah memperhitungkan outstanding kontrak e-katalog dan pemblokiran anggaran sebagian. Meski begitu, realisasi saat ini tercatat 72,41% dan masih memungkinkan untuk ditingkatkan.
Faktor Pemblokiran Anggaran dan Dampaknya pada Serapan
Salah satu penyebab lambatnya serapan anggaran, menurut Amran, adalah adanya pemblokiran dana dari Kementerian Keuangan. Pada bulan September 2025, blokir anggaran tercatat sebesar Rp8 triliun, dan sebagian blokir masih berlanjut di Oktober.
Pemblokiran tersebut menghambat optimalisasi program di lapangan sehingga serapan anggaran Kementan belum mencapai target maksimal. Amran menegaskan, kendala ini sedang diupayakan penyelesaiannya agar penyerapan bisa meningkat signifikan hingga akhir tahun.
Meskipun ada blokir, Kementan terus melaksanakan program prioritas sesuai arahan Presiden. Optimalisasi dilakukan sambil tetap menjaga pertanggungjawaban keuangan dan prinsip akuntabilitas.
Langkah-langkah ini penting agar seluruh kegiatan yang didanai APBN berjalan efektif dan tepat sasaran. Fokus utama tetap pada peningkatan produksi komoditas strategis serta penguatan ketahanan pangan nasional.
Strategi Optimalisasi Program dan Peningkatan Produksi
Amran menekankan bahwa optimalisasi serapan anggaran dilakukan melalui percepatan program-program di lapangan. Program-program ini meliputi pengembangan kawasan pertanian, penguatan pembenihan, dukungan manajemen teknis, serta pengelolaan tanaman perkebunan unggulan.
Komoditas prioritas seperti tebu, kopi, kelapa, kakao, mete, lada, dan pala menjadi fokus utama. Pendekatan ini tidak hanya bertujuan meningkatkan serapan anggaran, tetapi juga untuk memastikan output produktivitas komoditas meningkat.
Kementan menargetkan pemanfaatan anggaran yang efisien agar berdampak langsung pada petani. Optimalisasi program dilakukan dengan koordinasi intensif antara pusat, daerah, dan mitra strategis.
Selain itu, setiap kegiatan dilengkapi dengan pertanggungjawaban keuangan yang transparan. Hal ini memastikan alokasi dana ABT dapat dipertanggungjawabkan secara penuh kepada publik dan DPR RI.
Amran optimistis, dengan langkah-langkah ini, serapan anggaran Kementan dapat mencapai minimal 93% hingga Desember 2025. Proyeksi ini berdasarkan evaluasi kegiatan yang telah berjalan serta program-program prioritas yang terus dioptimalkan.
Dukungan Presiden dan Arahan Strategis Kementan
Menteri Pertanian menegaskan, semua alokasi tambahan ABT diberikan berdasarkan arahan langsung Presiden. Hal ini menegaskan prioritas pemerintah untuk mendorong peningkatan produksi komoditas strategis di Indonesia.
Program-program ini bertujuan mengurangi ketergantungan impor dan memperkuat ketahanan pangan nasional. Optimalisasi anggaran ABT diharapkan memperkuat pengembangan kawasan pertanian dan meningkatkan kesejahteraan petani.
Selain itu, Kementan melakukan evaluasi berkala terhadap setiap kegiatan agar serapan anggaran tepat sasaran. Evaluasi ini juga digunakan untuk mengidentifikasi kendala dan mengambil langkah korektif dengan cepat.
Koordinasi dengan pemerintah daerah menjadi kunci agar anggaran dapat terserap maksimal. Sinergi ini memastikan bahwa program pertanian tidak hanya terserap secara finansial, tetapi juga berdampak nyata di lapangan.
Amran menambahkan, target serapan 93% pada akhir tahun 2025 dapat dicapai melalui disiplin pelaksanaan program. Hal ini termasuk penguatan pengelolaan teknis dan manajemen lapangan agar setiap rupiah digunakan secara efektif.
Kementan juga terus memonitor realisasi program pengembangan komoditas strategis agar berdampak langsung pada peningkatan produksi nasional. Evaluasi ini sekaligus menjadi dasar untuk perencanaan anggaran tahun berikutnya.
Selain itu, pemerintah menekankan pentingnya transparansi dalam pengelolaan anggaran. Setiap kegiatan yang didanai APBN harus memiliki pertanggungjawaban yang jelas dan dapat diaudit oleh lembaga terkait.
Langkah-langkah ini menunjukkan keseriusan Kementan dalam memanfaatkan anggaran secara optimal. Fokus utama tetap meningkatkan produksi pangan dan memperkuat ketahanan pangan nasional.
Secara keseluruhan, Kementan tetap optimistis meski menghadapi tantangan pemblokiran anggaran. Strategi optimalisasi program, koordinasi dengan pemangku kepentingan, dan dukungan Presiden diyakini mampu meningkatkan serapan anggaran hingga minimal 93% pada akhir Desember 2025.
Produksi komoditas unggulan melalui pengembangan kawasan dan pembenihan menjadi prioritas utama. Upaya ini tidak hanya mengefektifkan penggunaan anggaran, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan petani dan ketahanan pangan nasional secara berkelanjutan.