JAKARTA - Dalam perjalanan menuju era energi bersih, gas bumi menempati posisi strategis sebagai sumber energi peralihan yang dapat menjembatani pemanfaatan bahan bakar fosil menuju energi terbarukan penuh.
Meskipun energi surya, hidro, dan angin kini menjadi sorotan, gas tetap menjadi fondasi stabil bagi sistem kelistrikan nasional yang membutuhkan suplai energi fleksibel dan dapat diandalkan.
Dengan karakteristik yang lebih ramah lingkungan dibandingkan batu bara maupun BBM, gas bumi dinilai sebagai pilihan paling realistis dalam tahap transisi.
Direktur Gas dan BBM PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI), Erma Melina Sarahwati, menyampaikan bahwa gas bumi tidak hanya dibutuhkan sebagai sumber listrik tetapi juga sebagai penyangga kestabilan sistem tenaga yang berbasis energi baru dan terbarukan.
Ia menegaskan bahwa gas adalah elemen krusial dalam strategi jangka panjang energi Indonesia. “Dibandingkan batu bara dan BBM, gas adalah energi fosil yang paling ramah lingkungan. Ia dibutuhkan untuk menjaga fleksibilitas sistem kelistrikan kita,” ujarnya di Jakarta.
Seiring pertumbuhan permintaan energi yang terus meningkat, penggunaan gas bumi diprediksi menjadi elemen penting dalam menjaga keandalan sekaligus mencapai target emisi nol bersih di masa mendatang. Dengan demikian, gas tidak hanya menjadi pilihan teknis, tetapi juga bagian dari strategi energi nasional.
Proyeksi Kapasitas Pembangkit dalam Rencana Energi Nasional
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034 menunjukkan arah pembangunan pembangkit listrik yang agresif, yaitu dengan target penambahan kapasitas hingga 69,5 GW dalam kurun tersebut.
Lebih dari 75 persen dari penambahan ini akan berasal dari sektor energi terbarukan yang mencakup pembangkit listrik tenaga surya, angin, panas bumi, dan hidro. Meski demikian, peran gas tetap tidak tergantikan sebagai cadangan sistem tenaga.
Dalam proyeksi tersebut, alokasi gas mencapai 10,3 GW sebagai penyangga sistem utama. Keputusan ini berkaitan langsung dengan karakter sumber energi terbarukan yang bersifat intermiten, seperti angin dan surya, yang kadang menghasilkan surplus daya dan kadang sebaliknya.
Dengan adanya dukungan energi gas, ketahanan sistem kelistrikan dapat dijaga tanpa mengorbankan komitmen terhadap energi hijau.
Erma menjelaskan bahwa kebutuhan gas PLN terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Ia menyampaikan bahwa pertumbuhan kebutuhan gas mencapai rata-rata 5,3 persen per tahun.
Pada tahun 2025, kebutuhan gas mencapai 1.600 BBTUD dan diperkirakan melonjak menjadi 2.600 BBTUD pada tahun 2034. Kenaikan ini terjadi seiring program konversi pembangkit dari BBM ke gas dan kebutuhan stabilitas pembangkit energi baru terbarukan.
Ketergantungan Pasokan LNG dan Tantangan Ketersediaan Suplai
Penurunan pasokan gas dari jalur pipa membuat PLN lebih bergantung pada LNG sebagai solusi pasokan energi. Kondisi ini semakin mencuat seiring berakhirnya kontrak pasokan LNG Tangguh yang memasok sekitar 60 hingga 62 kargo setiap tahun.
Kontrak tersebut diproyeksikan berakhir secara bertahap hingga tahun 2034, sehingga penyediaan cadangan energi baru harus segera dipersiapkan.
Upaya untuk memastikan ketersediaan suplai gas nasional dilakukan melalui beberapa alternatif dan strategi. Salah satunya adalah mengoptimalkan cadangan dari penemuan potensi baru yang sedang diidentifikasi.
Selain itu, pengalihan kontrak pasokan domestik dari ekspor yang segera berakhir serta opsi perpanjangan kontrak lama juga menjadi langkah antisipatif untuk menjaga kelanjutan pasokan dalam negeri.
Dengan kompleksitas terkait pasokan global LNG yang sangat kompetitif, langkah penguatan ketahanan energi nasional berbasis gas menjadi perhatian strategis jangka panjang bagi sektor kelistrikan nasional. Ketersediaan suplai yang terjamin akan menopang operasional sistem kelistrikan dalam kondisi perubahan pasokan energi yang dinamis.
Kesenjangan Lokasi Sumber dan Titik Permintaan Energi
Selain tantangan pasokan, kondisi geografis Indonesia juga menghadirkan tantangan logistik tersendiri dalam distribusi gas. Sumber gas terbesar saat ini berada di kawasan timur Indonesia seperti Kalimantan, Papua, dan Maluku, sedangkan wilayah dengan tingkat kebutuhan terbesar justru berada di Sumatera dan sepanjang Pulau Jawa.
Perbedaan ini menciptakan tantangan besar dalam transportasi dan distribusi gas untuk mendukung operasional pembangkit listrik. Infrastruktur pipa yang tersedia belum sepenuhnya terintegrasi antar wilayah utama. Oleh karena itu, pengembangan sistem logistik energi berbasis jaringan gas menjadi prioritas pembangunan infrastruktur energi nasional.
Kesenjangan ini juga memunculkan kebutuhan akan diversifikasi moda transportasi energi yang lebih efisien dan berkelanjutan. Solusi ini diharapkan mampu menghubungkan wilayah sumber dan wilayah permintaan energi secara lebih tangguh dan terencana.
Optimalisasi Infrastruktur dan Teknologi Regasifikasi
Untuk menjawab tantangan logistik dan jarak geografis, Indonesia telah membangun jaringan distribusi gas melalui beberapa moda. Berbagai Floating Storage and Regasification Unit (FSRU) seperti Lampung, Arun, Nusantara Regas, Bali, dan Gorontalo kini menjadi bagian dari sistem penyimpanan dan distribusi gas nasional.
Fasilitas ini berfungsi untuk menerima LNG dari kapal, menyimpannya, lalu mengubah kembali ke bentuk gas untuk disalurkan ke pembangkit listrik.
Dengan kapasitas penyimpanan mencapai sekitar 700 ribu meter kubik dan kemampuan regasifikasi 1,4 juta kaki kubik per hari, FSRU berperan sebagai penyeimbang antara kebutuhan dan ketersediaan gas di berbagai daerah.
Pengembangan fasilitas ini diharapkan dapat meningkatkan fleksibilitas dan responsibilitas sistem energi nasional dalam menghadapi perubahan kebutuhan listrik yang dinamis dan terus meningkat.
Langkah Strategis untuk Keamanan Energi Masa Depan
Penguatan sektor gas bumi tidak hanya melibatkan penyediaan suplai, tetapi juga memastikan bahwa infrastruktur distribusi energi berjalan efisien dan adaptif. Dengan adanya rencana ekspansi pembangkit berbasis energi baru terbarukan, gas menjadi komponen yang tidak tergantikan dalam memastikan keberlanjutan dan keandalan kelistrikan nasional.
Langkah-langkah strategis ini mencakup peningkatan kapasitas infrastruktur, diversifikasi sumber suplai gas domestik, dan penguatan struktur kontrak energi jangka panjang. Implementasi strategi ini tidak hanya mendukung stabilitas sistem kelistrikan tetapi juga memperkuat posisi Indonesia dalam mencapai tujuan emisi nol bersih.
Dengan berbagai upaya dan kesiapan tersebut, gas bumi tetap menjadi solusi realistis, strategis, dan adaptif untuk membantu Indonesia menjalani transisi energi yang berkelanjutan dan bertahap tanpa mengorbankan keandalan pasokan listrik nasional.