Otomotif

Insentif Hybrid Didorong untuk Perkuat Industri Otomotif Nasional

Insentif Hybrid Didorong untuk Perkuat Industri Otomotif Nasional
Insentif Hybrid Didorong untuk Perkuat Industri Otomotif Nasional

JAKARTA - Pembahasan mengenai insentif kendaraan elektrifikasi kembali menjadi perhatian dalam sektor otomotif nasional. 

Kementerian Perindustrian tengah merancang usulan insentif dengan tujuan mendukung industri yang memiliki efek berganda besar terhadap ekonomi. Salah satu fokusnya adalah kendaraan hybrid, terutama yang sudah diproduksi secara lokal dan memiliki Tingkat Komponen Dalam Negeri tinggi.

Kendaraan hybrid dinilai sebagai opsi transisi yang realistis sebelum masyarakat beralih penuh ke kendaraan listrik berbasis baterai. Dengan infrastruktur yang belum merata, hybrid dianggap lebih mudah diterima pasar sambil menekan konsumsi bahan bakar dan emisi. 

Karena itu, sejumlah pihak mendorong agar insentif untuk kendaraan hybrid diperpanjang sekaligus diperkuat.

Pada saat yang sama, industri otomotif dinilai masih membutuhkan dukungan kebijakan agar tetap tumbuh. Terlebih, pasar domestik pada Oktober menunjukkan penurunan penjualan lebih dari 10%, menandakan perlunya langkah strategis tambahan.

Perbandingan Insentif Hybrid dan Mobil Listrik Dinilai Tidak Seimbang

Saat ini insentif untuk kendaraan hybrid masih jauh lebih kecil dibanding kendaraan listrik murni. Mobil hybrid hanya mendapatkan insentif PPnBM sebesar 3% dan fasilitas ini akan berakhir pada akhir tahun. Sementara itu, kendaraan listrik berbasis baterai mendapatkan berbagai bentuk insentif pajak mulai dari PPN DTP hingga pembebasan pajak daerah.

Bahkan untuk skema tertentu, kendaraan listrik impor diberikan keringanan bea masuk cukup signifikan. Struktur insentif seperti ini dinilai timpang bagi industri hybrid yang sudah memiliki investasi dan produksi lokal. Dengan kondisi demikian, sejumlah pakar mempertanyakan keadilan kebijakan yang berlaku saat ini.

Menurut pengamat, penyesuaian kebijakan menjadi penting agar insentif diberikan berdasarkan kontribusi nyata terhadap penurunan emisi dan peningkatan TKDN, bukan hanya berdasarkan jenis teknologi.

Produksi Lokal Hybrid Semakin Meluas dan Serap Tenaga Kerja

Model hybrid yang diproduksi lokal semakin banyak dan menjadi salah satu keunggulan industri otomotif dalam negeri. Beberapa produsen besar seperti Honda, Wuling, dan Toyota telah memproduksi kendaraan hybrid di pabrik lokal. 

Model terbaru seperti Toyota Veloz HEV dengan TKDN lebih dari 80% menjadi bukti bahwa hybrid sudah masuk fase industri berbasis produksi nasional.

Keberadaan model hybrid ini berdampak signifikan bagi perekonomian melalui penciptaan lapangan kerja. Mulai dari rantai pasok komponen hingga logistik dan penjualan, keberadaan hybrid dinilai memberikan kontribusi lebih luas dibanding kendaraan listrik impor.

Karena ekosistem produksi sudah berjalan, pemberian dukungan tambahan kepada hybrid disebut penting agar investasi terus berkembang dan tidak stagnan.

Prediksi Pasar Hybrid Menguat Setelah Fase Insentif BEV Berakhir

Proyeksi permintaan kendaraan hybrid dalam beberapa tahun ke depan disebut cukup positif. Dengan insentif untuk impor kendaraan listrik yang akan berakhir pada 2025, potensi pasar hybrid diperkirakan meningkat signifikan pada 2026.

Pasar daerah dinilai lebih relevan bagi perkembangan hybrid. Infrastruktur pengisian kendaraan listrik seperti SPKLU belum tersedia secara merata di banyak wilayah, sehingga hybrid lebih mudah diterima masyarakat non-perkotaan. Selain itu, pemahaman publik mengenai teknologi hybrid masih perlu diperluas melalui sosialisasi.

Beberapa analis memperkirakan bahwa hybrid dapat mencapai pangsa pasar hingga 5% dalam beberapa tahun mendatang, terutama jika variasi model dan kebijakan mendukung.

Dorongan Akademisi dan Pengamat untuk Kebijakan Lebih Adil

Akademisi dan pengamat otomotif menilai bahwa kendaraan hybrid layak memperoleh insentif fiskal tambahan. Hybrid dianggap berkontribusi langsung pada pengurangan emisi dan konsumsi bahan bakar sehingga layak mendapatkan dukungan yang seimbang dengan kendaraan listrik.

Selain itu, keberlanjutan pertumbuhan pasar hybrid disebut sangat bergantung pada besarnya keringanan pajak yang diberikan. Bila insentif diperluas, permintaan dinilai akan meningkat seiring kehadiran model baru yang semakin kompetitif.

Menurut mereka, peningkatan daya saing hybrid akan membantu memperluas pilihan bagi konsumen yang ingin beralih ke kendaraan rendah emisi sesuai kondisi infrastruktur yang ada.

Kemenperin Siapkan Rumusan Insentif Baru untuk Industri Otomotif

Kementerian Perindustrian menegaskan pentingnya menjaga stabilitas industri otomotif di Indonesia. Dengan multiplier effect tinggi, sektor otomotif dinilai mampu menciptakan lapangan kerja baru serta menahan potensi pemutusan hubungan kerja di masa mendatang.

Saat ini kebijakan insentif untuk fiskal 2026 sedang dalam proses penyusunan. Harapannya, industri otomotif mendapatkan perhatian khusus sehingga dapat mendukung pertumbuhan ekonomi nasional secara lebih luas.

Melalui kebijakan ini, pemerintah ingin memastikan industri otomotif tetap kompetitif, berkelanjutan, serta mampu berkontribusi maksimal bagi manufaktur nasional dan daya saing global.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index