JAKARTA - Tingginya angka kecelakaan sepeda motor sepanjang 2024 memunculkan kebutuhan mendesak untuk memperkuat keselamatan berkendara. Data IRMSS Korlantas Polri mencatat lebih dari 1,5 juta pelanggaran lalu lintas roda dua, termasuk 150.000 kecelakaan yang menewaskan 26.893 orang.
Ketua Dewan Pengawas RSA Indonesia, Rio Octaviano, menegaskan pencegahan kecelakaan tidak bisa hanya mengandalkan edukasi. Dengan jumlah penduduk berusia di atas 17 tahun mencapai 195 juta jiwa, melatih seluruhnya dalam tiga tahun memerlukan 5,4 juta peserta per bulan, sebuah target yang sangat tinggi dan sulit dicapai.
“Kalau hanya mengandalkan edukasi, tidak akan mampu dan memang tidak realistis. Jadi lebih baik maksimalkan pilar teknologi,” kata Rio.
Teknologi Keselamatan: Pilar Utama Mengurangi Risiko Fatal
Menurut Rio, pemerintah memiliki ruang besar untuk memperkuat standar teknologi keselamatan kendaraan roda dua. Hal ini mencakup helm berkualitas tinggi, sistem pengereman ABS, dan fitur keselamatan berstandar internasional yang sudah diakui melalui ASEAN Mutual Recognition Agreement (ASEAN MRA).
Beberapa negara tetangga telah lebih maju dalam penerapan teknologi keselamatan kendaraan. Malaysia, misalnya, menetapkan ABS sebagai standar wajib untuk motor baru setelah kajian dua tahun oleh Kementerian Transportasi, yang terbukti menurunkan kecelakaan dan kematian hingga 30%.
Rio menilai Indonesia perlu menempuh langkah serupa agar motor dilengkapi teknologi keselamatan sebagai kebutuhan, bukan sekadar aksesori tambahan. “Motor tanpa teknologi pengereman jauh lebih riskan. ABS bisa menurunkan risiko kecelakaan fatal sekitar 20%–30%. Kalau bicara nyawa manusia, semua yang meningkatkan keamanan harus menjadi prioritas,” ujarnya.
Respons Cepat dan Peran Teknologi
Pakar Transportasi ITB, R. Sony Sulaksono Wibowo, menekankan bahwa waktu reaksi pengendara sangat terbatas dalam menghindari kecelakaan. “Data menunjukkan pengendara rata-rata hanya punya 0,75 detik untuk bereaksi sebelum kecelakaan, dan hampir 50% tidak merespons. Kondisi ini bisa dibantu bila kendaraan dilengkapi teknologi keselamatan seperti ABS,” jelasnya.
Selain ABS, teknologi lain seperti pengereman elektronik, sistem peringatan tabrakan, dan fitur stabilitas juga dapat mengurangi risiko kecelakaan fatal. Penerapan fitur ini secara massal akan membuat keselamatan pengendara tidak sepenuhnya bergantung pada perilaku atau refleks manusia.
Sinergi Edukasi dan Teknologi untuk Perlindungan Maksimal
Meski teknologi penting, edukasi keselamatan tetap diperlukan untuk membangun kesadaran pengendara. Kombinasi keduanya akan menghasilkan perlindungan maksimal bagi masyarakat, karena pengendara memahami risiko, batas kemampuan diri, dan manfaat fitur keselamatan modern.
Rio menegaskan bahwa investasi pada teknologi keselamatan akan lebih efektif daripada hanya menyebarkan materi edukasi. Dengan dukungan regulasi dan standar nasional, kendaraan roda dua yang lebih aman bisa tersedia bagi seluruh masyarakat, sehingga mengurangi angka korban di jalan.
Penerapan teknologi keselamatan juga memerlukan pengawasan pemerintah dan kerja sama industri otomotif. Regulasi yang mewajibkan standar keselamatan tertentu bagi motor baru dapat menekan angka kecelakaan secara signifikan, sekaligus mendorong industri mengikuti inovasi global.
Transformasi Keselamatan Berkendara
Menghadapi tingginya angka kecelakaan sepeda motor, edukasi konvensional terbukti tidak cukup. Teknologi keselamatan menjadi pilar utama yang harus didorong pemerintah, didukung industri, dan dipahami pengendara.
Dengan regulasi yang tepat, standar internasional, dan edukasi yang seimbang, risiko fatal bisa diminimalkan. Ini adalah langkah penting untuk menyelamatkan nyawa jutaan pengendara motor di Indonesia setiap tahun.