JAKARTA - Investasi asing langsung atau Foreign Direct Investment (FDI) menjadi salah satu faktor kunci percepatan transformasi industri di Indonesia. Peran FDI bukan sekadar pendanaan, tetapi juga pengungkit pertumbuhan melalui transfer teknologi, pengembangan sumber daya manusia, dan integrasi ke rantai pasok global.
Indonesia menargetkan pencapaian status negara maju pada 2045 dengan peningkatan pendapatan per kapita signifikan. Untuk mewujudkan hal itu, transformasi struktural ekonomi berbasis produktivitas, industrialisasi, dan peningkatan nilai tambah menjadi syarat utama.
Pelajaran dari Negara Berkembang dan Maju
Pengalaman Korea Selatan pada periode 1965—1985 menunjukkan pertumbuhan 8%—9% per tahun. Rasio investasi melampaui 35% GDP dan FDI berperan sebagai saluran transfer teknologi dan pembelajaran industri.
Cina pada era reformasi ekonomi 1980—2010 mencatat pertumbuhan 9%—10% per tahun. Investasi domestik dan FDI inflow hingga 4%—5% GDP memperkuat manufaktur ekspor dan integrasi perusahaan ke global value chains.
Jepang pada fase industrialisasi awal 1955—1973 juga mencatat pertumbuhan 9%—10% per tahun. Meskipun FDI terbatas, Jepang memanfaatkan lisensi teknologi dan joint ventures untuk meningkatkan produktivitas industri domestik.
FDI Sebagai Wahana Pembelajaran Industri
FDI memungkinkan perusahaan lokal naik kelas menjadi bagian ekosistem industri bernilai tambah tinggi. Negara-negara seperti Korea Selatan, Cina, dan Vietnam menunjukkan bahwa FDI dapat mempercepat industrialisasi dengan efektif.
FDI bukan hanya soal modal, tetapi juga katalis transfer pengetahuan dan teknologi. Hal ini penting untuk membangun manufaktur berstandar global dan meningkatkan daya saing produk domestik.
Kompetisi Global dalam Menarik FDI
Arus FDI global semakin terkonsentrasi dan kompetitif. Meskipun total FDI menurun pada 2023—2024, negara-negara berkembang di Global South menjadi fokus utama investor global.
Sekitar sepertiga FDI dunia kini masuk ke wilayah Global South. Hal ini menjadikan persaingan menarik investasi semakin intens, baik antar-negara maupun antar-kawasan di kawasan berkembang.
Negara-negara seperti India, Brasil, Vietnam, dan Mesir memiliki keunggulan masing-masing. Indonesia perlu memanfaatkan bonus demografi, pasar domestik besar, dan kekayaan sumber daya strategis untuk menarik FDI berkualitas tinggi.
Strategi FDI untuk Mendukung Pertumbuhan Ekonomi
Kebijakan publik harus mengarahkan FDI ke sektor strategis yang mendukung industrialisasi. Strategi ini meliputi diplomasi ekonomi aktif, penargetan sektor prioritas, dan penguatan kapasitas domestik agar manfaat FDI terserap optimal.
Manufaktur adalah mesin pertumbuhan, dan FDI menjadi bahan bakar percepatannya. Dengan strategi yang tepat, Indonesia bisa meningkatkan produktivitas, memperkuat daya saing, dan menapaki jalur menuju negara maju pada 2045.
Momentum global, mulai dari reorientasi rantai pasok, transisi energi, hingga digitalisasi, memberi peluang bagi Indonesia. Pemanfaatan FDI yang terarah dan institusi yang kuat menjadi fondasi penting untuk pertumbuhan ekonomi yang lebih produktif dan berkelanjutan.