JAKARTA - Penguatan fondasi ekonomi nasional menjadi perhatian utama memasuki 2026.
Berbagai sektor strategis dinilai membutuhkan dukungan investasi yang terarah dan berkelanjutan. Dalam konteks ini, peran lembaga pengelola investasi menjadi semakin krusial.
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau BPI Danantara menegaskan komitmennya terhadap implementasi proyek strategis. Fokus utama diarahkan pada sektor-sektor vital yang menopang perekonomian nasional. Pendekatan ini dilakukan untuk memastikan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berdaya saing.
Managing Director Treasury BPI Danantara Ali Setiawan menyampaikan bahwa tahun 2026 menjadi fase penting. Menurutnya, arah kebijakan investasi telah disiapkan secara matang. Implementasi proyek diprioritaskan agar dampaknya segera terasa.
Fokus Investasi Tahun Transformatif
Ali Setiawan menyebut 2026 sebagai momentum transformatif bagi Danantara. “Tahun 2026 menjadi momentum transformatif. Kami akan fokus pada delapan sektor utama, dengan sejumlah proyek yang telah kami umumkan,” ujarnya. Pernyataan ini menegaskan arah strategis yang telah ditetapkan.
Delapan sektor tersebut dipilih berdasarkan kontribusinya terhadap ekonomi nasional. Setiap sektor memiliki proyek unggulan yang dirancang berkelanjutan. Implementasi dilakukan secara bertahap dan terukur.
Fokus investasi tidak hanya mengejar keuntungan finansial. Dampak sosial dan lingkungan turut menjadi pertimbangan. Hal ini sejalan dengan visi pembangunan jangka panjang.
Prioritas Waste to Energy
Salah satu sektor yang menjadi perhatian khusus adalah Waste to Energy. Danantara memprioritaskan investasi pada proyek Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik. Proyek ini dinilai strategis dalam menjawab tantangan lingkungan dan energi.
Hingga kini, Danantara telah menggandeng 24 mitra dalam pengembangan proyek tersebut. Kolaborasi dilakukan untuk mempercepat realisasi proyek. Keterlibatan banyak pihak menjadi kunci keberhasilan.
“Proyek Pengelolaan Sampah Menjadi Energi Listrik membutuhkan waktu untuk penetrasi karena melibatkan banyak stakeholders. Namun demikian, kami bergerak cepat untuk memulai proyek ini,” ungkap Ali. Pernyataan ini menunjukkan keseimbangan antara kehati-hatian dan percepatan.
Peran Danantara Asset Management
Ali juga memaparkan dua peran utama BPI Danantara. Peran pertama dijalankan melalui Danantara Asset Management atau DAM. Unit ini bertanggung jawab mengelola lebih dari 1.000 perusahaan BUMN.
Sebagian besar perusahaan tersebut masih mencatatkan kerugian. Kondisi ini menjadi tantangan sekaligus peluang perbaikan. Danantara berfokus pada peningkatan efisiensi dan kinerja.
“Hampir setengah dari perusahaan BUMN ini masih merugi. Kita akan melakukan restrukturisasi besar-besaran,” sebut Ali. Restrukturisasi menjadi langkah utama untuk memperbaiki fundamental bisnis.
Tantangan Investasi dan Tata Kelola
Peran kedua dijalankan melalui Danantara Investment Management. Unit yang baru dibentuk ini bertugas mengelola investasi di sektor strategis pemerintah. Tantangan utama terletak pada penyusunan kebijakan dan kerangka kerja.
Ali menjelaskan bahwa hampir seluruh persiapan operasional telah rampung. Meski demikian, kehati-hatian tetap dijaga dalam setiap langkah. Percepatan proyek tidak boleh mengabaikan aspek hukum.
Penyusunan kebijakan, SOP, dan framework mengedepankan tata kelola perusahaan yang baik. “Kita tidak ingin hanya bergerak cepat tanpa memastikan semuanya sudah sesuai dengan aturan yang ada. Semua keputusan akan melalui proses yang ketat dan transparan,” tegas Ali. Prinsip ini menjadi landasan operasional.
Penguatan Sumber Daya dan Kepercayaan
Selain aspek struktural, Danantara juga memperkuat sumber daya manusia. Perekrutan dilakukan dari berbagai lembaga internasional terkemuka. Langkah ini bertujuan menghadirkan keahlian global.
“Kita merekrut individu-individu berbakat dari berbagai lembaga internasional terkemuka,” ujar Ali. Mereka bergabung karena memiliki keyakinan terhadap visi Danantara. Kepercayaan menjadi modal penting dalam pengelolaan investasi.
Ali menegaskan bahwa seluruh langkah diarahkan pada tujuan jangka panjang. Profesionalisme dan transparansi menjadi nilai utama. Dengan pendekatan ini, Danantara optimistis proyek strategis dapat mendorong ekonomi nasional.
Komitmen Danantara pada 2026 menandai fase implementasi nyata. Proyek strategis tidak lagi sebatas perencanaan. Pelaksanaan menjadi fokus utama.
Pendekatan kolaboratif dengan berbagai mitra terus diperkuat. Setiap proyek dirancang memberi nilai tambah. Dampak ekonomi diharapkan meluas.
Danantara menempatkan tata kelola sebagai prioritas. Setiap keputusan investasi melalui kajian mendalam. Prinsip kehati-hatian tetap dijaga.
Dengan strategi tersebut, peran Danantara semakin signifikan. Investasi diarahkan pada sektor produktif. Perekonomian nasional diharapkan semakin kokoh.