Dari Stres ke Sepotong Cokelat: Alasan Ilmiah di Balik Hasrat Manis Saat Pikiran Tertekan

Senin, 19 Januari 2026 | 08:48:16 WIB
Dari Stres ke Sepotong Cokelat: Alasan Ilmiah di Balik Hasrat Manis Saat Pikiran Tertekan

JAKARTA - Banyak orang menganggap cokelat hanya sebagai camilan sederhana yang menemani momen bahagia atau perayaan kecil. Namun, di balik kebiasaan itu, cokelat kerap muncul sebagai pilihan utama ketika seseorang berada dalam kondisi stres atau tekanan emosional.

Saat tekanan datang, pikiran sering kali langsung mengarah pada makanan manis tanpa disadari. Fenomena ini bukan sekadar soal selera, melainkan berkaitan erat dengan cara tubuh merespons situasi yang dianggap mengancam.

Dalam kondisi tertekan, tubuh manusia bekerja dengan mekanisme yang dikenal sebagai sistem fight or flight. Sistem ini memicu berbagai reaksi biologis untuk membantu tubuh bertahan menghadapi ancaman, baik fisik maupun emosional.

Salah satu hormon utama yang berperan dalam situasi tersebut adalah kortisol. Hormon stres ini meningkat saat tubuh berada di bawah tekanan dan memengaruhi banyak fungsi metabolisme.

Ahli endokrinologi sekaligus dosen klinis kehormatan bidang kedokteran di University College London, Dr. Nicky Keay, menjelaskan bahwa pelepasan kortisol mengalihkan energi dari sistem kekebalan tubuh. Kondisi itu kemudian memicu dorongan kuat untuk mencari makanan manis sebagai sumber energi cepat.

“Mengidam cokelat merupakan respons terhadap situasi penuh stres sebagai kebutuhan akan energi,” kata Keay, dikutip dari Daily Mail, Minggu, 18 Januari 2026. “Stres meningkatkan hormon kortisol yang menguras cadangan energi tubuh, sehingga kita merasa perlu mengonsumsi sesuatu yang manis untuk meningkatkan energi,” sambung dia.

Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa keinginan terhadap cokelat bukanlah reaksi acak. Dorongan itu muncul karena tubuh mencoba menyeimbangkan kembali energi yang terkuras akibat tekanan.

Peran Gula Darah dalam Lingkaran Stres

Mengonsumsi makanan manis seperti cokelat memang dapat memberikan dorongan energi instan. Namun, efek cepat ini sering kali diikuti oleh konsekuensi yang justru memperpanjang siklus stres.

Ketika cokelat dikonsumsi, kadar gula darah akan melonjak dalam waktu singkat. Setelah itu, kadar gula darah dapat turun drastis dan memicu rasa lelah serta keinginan makan kembali.

Ahli gizi Dr. Sarah Brewer menjelaskan bahwa penurunan kadar gula darah hingga terlalu rendah akan memicu respons stres dalam tubuh. Respons ini bertujuan meningkatkan kadar glukosa dan asam lemak sebagai bahan bakar penting bagi otot dan otak.

“Respons stres ini memicu rasa lapar agar kamu makan kembali untuk mengisi ulang energi, dan sering kali menimbulkan keinginan terhadap makanan manis dan tinggi karbohidrat, yang dapat dengan cepat menaikkan kadar gula darah,” kata dia. Mekanisme ini membuat seseorang sulit keluar dari pola makan berulang saat stres.

Peningkatan kadar glukosa kemudian memicu produksi insulin dalam jumlah besar. Akibatnya, kadar gula darah bisa turun lebih rendah dari sebelumnya dan menciptakan siklus yang sulit dihentikan.

Brewer menambahkan bahwa lonjakan kortisol tidak selalu berkaitan dengan tekanan emosional. “Kadar kortisol berada pada titik tertinggi di pagi hari akibat ‘stres’ fisik yang terjadi selama ‘puasa’ semalaman,” jelas dia.

Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa tubuh manusia hampir selalu berada dalam kondisi adaptasi terhadap stres. Kondisi ini membuat keinginan akan makanan manis dapat muncul bahkan tanpa pemicu emosional yang jelas.

Mengapa Cokelat Menjadi Pilihan Utama

Di antara berbagai jenis makanan manis, cokelat sering kali menjadi favorit utama saat stres melanda. Pilihan ini ternyata memiliki alasan kimiawi yang berkaitan langsung dengan otak.

Brewer mengungkapkan bahwa cokelat memiliki efek khusus yang membantu seseorang merasa lebih rileks dan bahagia. Efek tersebut berasal dari peningkatan zat kimia tertentu di otak.

“Cokelat memiliki efek pada otak yang membantu merasa rileks dan bahagia dengan meningkatkan kadar beberapa zat kimia di otak, termasuk PEA (phenylethylamine) yang berkaitan dengan amfetamin), yang memberikan sensasi ringan dan meningkatkan rasa percaya diri,” jelas dia. Senyawa ini berkontribusi pada perasaan nyaman setelah mengonsumsi cokelat.

Selain itu, cokelat mengandung triptofan yang diubah menjadi serotonin di dalam otak. Serotonin dikenal berperan dalam memperbaiki suasana hati dan meningkatkan perasaan euforia.

Cokelat juga mengandung teobromin yang bersifat stimulan ringan. Senyawa ini memberikan efek menyegarkan dan membantu meningkatkan kewaspadaan.

Meski demikian, tidak semua jenis cokelat memberikan manfaat yang sama. Brewer menyarankan untuk memilih cokelat dengan kandungan kakao minimal 70 persen agar mendapatkan lebih banyak antioksidan.

Pilihan ini dinilai lebih baik dibandingkan cokelat susu atau cokelat putih. Kandungan gula yang lebih rendah juga membantu mengurangi risiko lonjakan gula darah berlebihan.

Saat Marah dan Lapar Bertemu

Stres bukan satu-satunya pemicu keinginan kuat terhadap cokelat. Emosi lain seperti amarah juga dapat mendorong seseorang mencari makanan manis.

Kondisi ini sering disebut dengan istilah “hangry,” gabungan dari kata hungry dan angry. Istilah tersebut menggambarkan perasaan lapar dan marah yang muncul secara bersamaan.

Ketika tubuh kekurangan asupan makanan, otak akan mengalami kekurangan glukosa. Kekurangan ini memengaruhi kemampuan seseorang untuk mengendalikan diri dan emosi.

Dalam kondisi tersebut, seseorang menjadi lebih mudah tersulut emosi atau menunjukkan perilaku agresif. Hal ini menjelaskan mengapa rasa lapar sering kali memperburuk suasana hati.

“Selain itu, ketika kadar glukosa rendah, otak melepaskan hormon stres yang semakin memperburuk suasana hati,” jelas Brewer. Pelepasan hormon ini membuat kondisi emosional semakin tidak stabil.

Untuk mencegah hangry, disarankan mengonsumsi makanan padat nutrisi dalam porsi kecil secara teratur. Pola makan ini membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil sepanjang hari.

Cokelat sebagai Makanan Penghibur

Selain faktor biologis, cokelat juga berperan sebagai makanan penghibur secara psikologis. Banyak orang mengaitkan cokelat dengan rasa nyaman dan kenangan menyenangkan.

Ahli gizi olahraga Rob Hobson menyebut bahwa tekanan fisik atau emosional dapat meningkatkan konsumsi makanan tinggi lemak dan gula. Pola ini terlihat konsisten dalam berbagai studi pada hewan.

“Beberapa studi pada hewan menunjukkan bahwa tekanan fisik atau emosional meningkatkan konsumsi makanan tinggi lemak dan gula,” kata Hobson. Ia menduga kombinasi peningkatan kortisol dan insulin memiliki peran penting dalam perilaku tersebut.

Menurut Hobson, makanan tinggi lemak dan gula memberikan efek umpan balik setelah dikonsumsi. Efek ini membantu menekan respons stres dan emosi negatif sementara waktu.

“Setelah dikonsumsi, makanan tinggi lemak dan gula tampaknya memiliki efek umpan balik yang menekan respons dan emosi terkait stres,” ujarnya. “Makanan tersebut memang benar-benar berfungsi sebagai ‘comfort food’,” pungkas dia.

Penjelasan ini memperkuat alasan mengapa cokelat sering menjadi pelarian saat stres. Cokelat tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga memberi rasa aman dan nyaman secara emosional.

Terkini