JAKARTA - Perubahan peta energi global mendorong Indonesia untuk memperkuat ketahanan ekonomi melalui hilirisasi minyak dan gas bumi (migas). Pemerintah menempatkan agenda hilirisasi sebagai fondasi utama untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam sekaligus memperluas manfaatnya bagi masyarakat.
Program hilirisasi ini dinilai mampu menciptakan peluang besar di sektor industri pengolahan dalam negeri. Selain itu, keberadaannya juga membuka jalan bagi investasi strategis yang dapat memperkuat fondasi ekonomi nasional ke depan.
Di tengah persaingan global yang semakin dinamis, hilirisasi migas menjadi fokus untuk meningkatkan daya saing Indonesia. Program ini tidak hanya menghasilkan produk bernilai tinggi, tetapi juga menciptakan lapangan kerja yang lebih luas di sektor-sektor terkait.
Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) menegaskan komitmennya dalam mempercepat program hilirisasi secara menyeluruh. Upaya ini juga sejalan dengan prioritas pemerintah dalam memperkuat industri energi dalam negeri.
Peran Penting Hilirisasi dalam Mendorong Pertumbuhan dan Nilai Tambah
Program hilirisasi migas telah ditetapkan sebagai pilar ekonomi nasional yang berperan besar dalam menggerakkan sektor industri. Program ini juga membuka ruang besar bagi investor untuk menanamkan modal pada fasilitas pengolahan modern dan terintegrasi.
Anggota Komite BPH Migas, Fathul Nugroho, memberikan sorotan khusus terhadap urgensi hilirisasi migas bagi Indonesia. Menurutnya, hilirisasi merupakan fondasi penting dalam meningkatkan kualitas industri migas nasional.
“Hilirisasi migas menjadi salah satu kunci keberhasilan hilirisasi di Indonesia karena terkait dengan petrokimia, kilang (refinery), dan memberikan nilai tambah yang sangat signifikan bagi industri migas di Indonesia, khususnya di sektor hilir,” ujar Fathul dalam Seminar UI Mineral & Energy Summit 2025 di Kampus UI Depok, Jawa Barat. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa penguatan sektor hilir dapat mendorong pembangunan ekonomi yang lebih kokoh.
Pandangan itu juga menunjukkan bahwa hilirisasi bukan sekadar proses pengolahan, tetapi merupakan strategi besar untuk membawa Indonesia memasuki tahap baru industrialisasi. Proses ini memberikan dampak nyata dalam memperkuat rantai nilai dan mengurangi ketergantungan pada impor produk energi tertentu.
Seiring meningkatnya kebutuhan domestik terhadap energi dan bahan baku industri, kemampuan negara dalam mengolah sumber migas sendiri menjadi sangat penting. Inilah yang kemudian menjadikan hilirisasi sebagai langkah strategis yang wajib dijalankan secara konsisten.
Infrastruktur Kuat sebagai Fondasi Utama Kesuksesan Hilirisasi Migas
Menurut Fathul Nugroho, keberhasilan hilirisasi tidak terlepas dari kesiapan infrastruktur yang kuat dan terintegrasi. Infrastruktur yang memadai akan mendorong efisiensi proses industri dan mempercepat pertumbuhan sektor hilir migas.
Kilang atau refinery menjadi salah satu infrastruktur paling vital dalam proses hilirisasi. Kilang ini bertugas mengolah minyak mentah menjadi Bahan Bakar Minyak (BBM) dan berbagai produk turunan bernilai ekonomi tinggi.
Pembangunan kilang harus dilakukan dengan teknologi modern untuk meningkatkan kapasitas pengolahan. Selain itu, kilang terintegrasi juga diperlukan untuk mendukung pengembangan produk petrokimia yang memiliki nilai tambah lebih besar.
Terminal BBM dan LPG juga memegang peranan penting dalam menjaga stabilitas energi nasional. Fasilitas penyimpanan yang memadai dapat memastikan kelancaran distribusi energi, terutama di wilayah yang jauh dari pusat industri.
Sebagai bagian dari infrastruktur utama, terminal tersebut mampu meningkatkan keamanan dan ketersediaan pasokan energi di berbagai daerah. Dengan sistem distribusi yang baik, kebutuhan masyarakat dan industri dapat terpenuhi tanpa gangguan.
Jaringan pipa gas dan transportasi menjadi komponen lain yang sangat menentukan dalam sektor hilir migas. Keberadaan jaringan pipa yang efisien dapat menekan biaya logistik dan mempercepat distribusi energi ke konsumen.
Dengan sistem transportasi energi yang modern, industri akan lebih mudah mengakses pasokan yang stabil. Kondisi ini akan memperkuat daya saing industri nasional dan meningkatkan efisiensi operasional.
Fasilitas petrokimia juga menempati posisi strategis dalam pengembangan hilirisasi. Fasilitas ini mendukung produksi berbagai bahan baku industri dan menekan impor produk penting bagi sektor manufaktur dalam negeri.
Dengan adanya fasilitas petrokimia yang kuat, Indonesia dapat mengembangkan rantai pasok industri yang lebih lengkap. Dampaknya adalah kemandirian ekonomi yang semakin meningkat di tengah perubahan global.
Perkembangan infrastruktur hilir juga tercermin dari capaian nyata yang mulai terlihat dalam beberapa tahun terakhir. Salah satunya adalah peresmian pabrik petrokimia terintegrasi di Cilegon, Banten.
Peresmian ini dilakukan oleh Presiden Prabowo Subianto dan menjadi tonggak penting bagi industri migas nasional. Kehadiran pabrik tersebut sekaligus membuka peluang kerja bagi generasi muda dan memperkuat posisi Indonesia dalam industri petrokimia.
Hilirisasi Migas sebagai Jembatan Transisi Menuju Energi Bersih Nasional
Lebih lanjut, Fathul menekankan bahwa hilirisasi migas tidak hanya berorientasi pada nilai ekonomi, tetapi juga pada agenda lingkungan jangka panjang. Gas bumi disebut sebagai sumber energi yang mampu menjadi jembatan menuju era energi bersih di masa depan.
“Saat ini kita menuju transisi energi. Artinya, kita tidak hanya bergantung pada fossil fuel, tetapi juga bahan bakar nabati,” terangnya. Pernyataan tersebut menekankan pentingnya diversifikasi energi melalui bahan bakar yang lebih ramah lingkungan.
Gas bumi dinilai lebih bersih dibandingkan bahan bakar fosil lain dan dapat mempercepat pencapaian target energi terbarukan. Dengan pemanfaatan yang tepat, gas bumi mampu menjadi penopang transisi menuju target Net Zero Emission (NZE) pada 2060 atau lebih cepat.
Pemerintah telah memulai langkah konkret dengan menerapkan Program B40 sejak Januari 2025. Program ini mengatur pencampuran biodiesel sebanyak 40 persen untuk menekan penggunaan bahan bakar fosil.
Selain itu, Program E10 atau Etanol 10 persen ditargetkan mulai berjalan pada 2027. Program tersebut menjadi bagian penting dari strategi memperluas penggunaan energi bersih dalam negeri.
Inisiatif ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam mempercepat transformasi energi nasional. Implementasi program energi bersih juga bertujuan mengurangi emisi dan memperkuat keberlanjutan industri migas.
Strategi Jangka Panjang dan Tantangan dalam Mengembangkan Hilirisasi Migas
Kebijakan hilirisasi migas merupakan bagian dari strategi jangka panjang pemerintah dalam mengubah Indonesia menjadi negara industri pengolah. Kebijakan ini juga sejalan dengan amanat konstitusi dalam pengelolaan sumber daya alam untuk kemakmuran rakyat.
Regulasi yang berlaku telah memasukkan hilirisasi sebagai program prioritas dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN). Program tersebut diproyeksikan menjadi motor pertumbuhan sektor industri dalam beberapa dekade mendatang.
Namun, tantangan utama hilirisasi adalah kebutuhan investasi besar dan teknologi tinggi. Pembangunan kilang modern dan fasilitas petrokimia memerlukan modal besar serta dukungan teknologi mutakhir.
BPH Migas bersama pemangku kepentingan terus berupaya menciptakan iklim investasi yang kondusif. Berbagai insentif fiskal dan penyederhanaan perizinan dilakukan untuk menarik lebih banyak investasi strategis.
Dengan dukungan regulasi yang tepat, proyek-proyek hilirisasi diharapkan mampu berjalan sesuai target. Dampaknya adalah pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat dan peningkatan kesejahteraan masyarakat secara merata.