YUPI Perkuat Strategi Produksi Nasional Jelang Pembangunan Pabrik Baru 2027

Sabtu, 29 November 2025 | 08:02:00 WIB
YUPI Perkuat Strategi Produksi Nasional Jelang Pembangunan Pabrik Baru 2027

JAKARTA - Momentum penguatan industri makanan ringan nasional kembali terlihat ketika PT Yupi Indo Jelly Gum Tbk. (YUPI) mengumumkan penjadwalan ulang rencana pembangunan pabrik ketiga di Nganjuk. Keputusan tersebut muncul bersamaan dengan laporan bahwa kinerja YUPI hingga September 2025 tetap solid dan mampu menjaga pertumbuhan volume serta margin yang stabil.

Perusahaan menegaskan bahwa optimalisasi produksi di fasilitas Bogor dan Karanganyar masih menjadi penopang utama operasional. Dengan performa kedua pabrik yang masih efisien, YUPI memastikan seluruh permintaan pasar dapat dipenuhi tanpa gangguan jangka pendek.

Kinerja Positif Mendorong Penyesuaian Jadwal Ekspansi

Manajemen YUPI menjelaskan bahwa hasil kinerja perseroan sepanjang periode berjalan mencatatkan tren positif. Pertumbuhan volume tetap terjaga dan margin perusahaan berada pada level yang stabil seiring penerapan strategi transformasi.

Selain itu, perusahaan melakukan upaya efisiensi untuk memastikan proses produksi berlangsung optimal. Langkah tersebut berkontribusi pada peningkatan ketahanan operasional di tengah dinamika pasar makanan ringan.

YUPI menyampaikan bahwa fokus pada efisiensi pabrik Bogor dan Karanganyar menjadi dasar penilaian internal terkait rencana ekspansi. Kedua pabrik masih memiliki kapasitas cukup untuk memenuhi kebutuhan pasar hingga 2026 tanpa adanya indikasi kekurangan suplai.

Karena itu, perseroan menyesuaikan jadwal pembangunan pabrik ketiga yang akan berlokasi di Nganjuk, Jawa Timur. Rencana konstruksi yang semula dijadwalkan pada 2026 kini diputuskan untuk dimulai pada 2027 sesuai kebutuhan kapasitas.

“Karena kapasitas produksi di kedua pabrik existing—Bogor dan Karanganyar—masih mencukupi kebutuhan hingga 2026,” kata manajemen YUPI.

YUPI menegaskan bahwa tidak ada urgensi untuk mempercepat pembangunan fisik pabrik baru. Kondisi utilisasi yang stabil membuat perusahaan dapat mengalokasikan sumber daya secara lebih presisi.

Kapasitas Dua Pabrik Mampu Penuhi Permintaan Hingga 2027

Data internal menunjukkan pabrik YUPI di Gunung Putri, Bogor memiliki kapasitas terpasang mencapai 27.450 ton. Sementara itu, pabrik di Karanganyar, Jawa Tengah mampu memproduksi hingga 44.730 ton.

Kedua fasilitas tersebut berkontribusi signifikan terhadap suplai produk YUPI untuk kebutuhan nasional maupun permintaan internasional. Dengan kapasitas yang ada, perusahaan menilai tidak ada potensi kekurangan produksi dalam beberapa tahun mendatang.

YUPI menyampaikan bahwa kapasitas saat ini masih dinilai memadai mendukung proyeksi pertumbuhan pasar hingga 2027. Hal tersebut memberikan ruang strategis bagi manajemen untuk merencanakan ekspansi dengan lebih matang.

Perseroan juga menekankan bahwa stabilitas operasi di dua pabrik utama menjadi kunci dalam menjaga kontinuitas pasokan produk gummy. Kondisi tersebut memungkinkan perusahaan mempertahankan pangsa pasar tanpa harus tergesa-gesa memperluas fasilitas.

Selain itu, perusahaan masih melakukan proses perizinan dan kajian lingkungan untuk pabrik baru di Nganjuk. Sejumlah aspek teknis yang meliputi tata ruang, operasional, dan persiapan lahan juga masih membutuhkan penyempurnaan sebelum konstruksi dapat dimulai.

Persiapan yang matang disebut penting agar pabrik ketiga dapat memberikan kontribusi maksimal ketika resmi beroperasi. Pendekatan tersebut memastikan investasi dapat diarahkan tepat sasaran dan memberikan nilai jangka panjang bagi perusahaan.

Penjadwalan Ulang Dinilai Tingkatkan Akurasi Perencanaan

Manajemen YUPI menjelaskan bahwa penundaan rencana pembangunan pabrik hingga 2027 memberikan ruang bagi perusahaan untuk menyesuaikan strategi kapasitas secara lebih presisi. Pendekatan ini dilakukan dengan mempertimbangkan dinamika permintaan pasar dalam dan luar negeri.

Perusahaan menilai tren konsumsi permen jelly dan produk gummy masih menunjukkan pertumbuhan positif. Namun, penyesuaian kapasitas harus dilakukan dengan perhitungan matang agar investasi tidak melebihi kebutuhan pasar aktual.

Selain itu, kesiapan rantai pasok dan ketersediaan bahan baku menjadi faktor utama dalam menentukan waktu ideal pembangunan pabrik. Perusahaan memastikan seluruh elemen terkait harus berada dalam kondisi optimal agar operasional berjalan efisien.

“Penjadwalan 2027 memberi ruang bagi perseroan untuk merencanakan kapasitas yang lebih presisi serta mengoptimalkan alokasi investasi,” jelas manajemen.

Pembangunan pabrik di Nganjuk diharapkan memperkuat posisi YUPI sebagai produsen permen gummy terkemuka. Dengan ekspansi terencana, perusahaan menargetkan peningkatan efisiensi dan kapasitas distribusi untuk pasar domestik maupun ekspor.

Selain itu, lokasi pabrik baru di Jawa Timur dipilih karena dinilai strategis untuk memperluas jaringan logistik di wilayah timur Indonesia. Hal tersebut akan membantu mempercepat pengiriman dan menekan biaya distribusi.

YUPI Fokus Perkuat Fondasi Sebelum Memulai Ekspansi

Perusahaan menegaskan bahwa fokus utama saat ini adalah menjaga stabilitas produksi di dua pabrik utama. Investasi yang direncanakan akan diarahkan untuk meningkatkan efisiensi jangka panjang dan memperluas kemampuan ekspor.

YUPI memastikan bahwa seluruh proses persiapan pembangunan pabrik Nganjuk terus berjalan sesuai tahapan. Koordinasi dengan pihak otoritas terkait, termasuk pemenuhan persyaratan teknis dan lingkungan, diselesaikan secara sistematis.

Strategi ini sejalan dengan tujuan jangka panjang perusahaan untuk menciptakan ekspansi yang tidak hanya memperbesar kapasitas, tetapi juga menguatkan struktur operasional. YUPI menilai pendekatan bertahap memberikan keunggulan kompetitif dalam menghadapi dinamika pasar.

Dengan kinerja solid hingga 2025 dan kapasitas produksi yang tercukupi hingga 2027, perusahaan merasa berada pada posisi yang tepat untuk mematangkan seluruh rencana ekspansi. Momentum tersebut juga memperkuat kesiapan YUPI untuk memasuki fase pertumbuhan baru dalam industri makanan ringan.

Terkini