Transformasi Garuda Indonesia Dipacu Perbaikan Armada Usai Suntikan Modal Danantara

Sabtu, 29 November 2025 | 08:01:55 WIB
Transformasi Garuda Indonesia Dipacu Perbaikan Armada Usai Suntikan Modal Danantara

JAKARTA - PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) memasuki fase percepatan transformasi setelah suntikan modal besar dari Danantara memperkuat fondasi operasionalnya. Fokus utama perusahaan kini diarahkan pada peningkatan kesiapan armada sebagai langkah strategis memperbaiki kinerja keuangan perseroan.

Direktur Utama Garuda Indonesia, Glenny Kairupan menekankan bahwa pemulihan layanan pesawat menjadi kunci bagi perbaikan kinerja perusahaan. Ia menilai langkah ini sangat penting karena armada yang siap terbang akan berdampak langsung pada pendapatan serta kelancaran operasional.

Pada laporan Oktober 2025, Garuda Indonesia mengoperasikan 78 pesawat dengan 58 unit dalam kondisi serviceable. Sementara itu, Citilink mengoperasikan 64 pesawat dengan 32 unit yang siap melayani penerbangan reguler maupun charter.

“Dengan terjaganya serviceability pesawat baik di Garuda Indonesia maupun Citilink, kami melihat momentum pemulihan yang semakin solid,” ujar Glenny. Optimisme tersebut muncul seiring meningkatnya utilisasi pesawat yang kembali berkontribusi pada pergerakan bisnis maskapai.

Suntikan Dana Danantara Memperkuat Struktur Biaya dan Operasional

Garuda Indonesia telah mendapatkan persetujuan penyertaan modal dari Danantara sebesar Rp23,67 triliun melalui private placement. Dana tersebut terdiri dari setoran tunai Rp17,02 triliun dan konversi utang pemegang saham atau shareholder loan (SHL) senilai Rp6,65 triliun.

Sebanyak 37 persen atau Rp8,7 triliun dari total dana itu diarahkan untuk mendukung modal kerja Garuda Indonesia. Porsi ini juga mencakup pembiayaan untuk pemeliharaan pesawat yang sudah lama menunggu jadwal reaktivasi.

Sementara 63 persen atau Rp14,9 triliun difokuskan pada operasional Citilink. Dana tersebut mencakup alokasi modal kerja sebesar Rp11,2 triliun serta pelunasan kewajiban pembelian bahan bakar kepada Pertamina untuk periode 2019 hingga 2021 senilai Rp3,7 triliun.

Glenny menjelaskan bahwa hingga November 2025, dukungan SHL dari Danantara memungkinkan Garuda Indonesia menjaga serviceability 13 pesawat. Dalam periode yang sama, Citilink berhasil mereaktivasi 9 pesawat sejak September lalu.

Dengan perkembangan tersebut, Citilink menargetkan jumlah pesawat siap operasi mencapai 36 unit pada akhir 2025. Peningkatan kapasitas ini diharapkan dapat memperbesar jangkauan layanan sekaligus memperkuat pangsa pasar sektor penerbangan berbiaya rendah.

Menurut Glenny, peningkatan kapasitas armada menjadi indikator keberhasilan transformasi perusahaan yang berjalan sesuai rencana. Ia menilai perkembangan ini menguatkan keyakinan perseroan dalam mencapai pemulihan yang lebih stabil pasca restrukturisasi.

Meskipun masih terdapat tekanan kerugian pada tahun berjalan, tren operasional dan pendapatan menunjukkan perbaikan yang konsisten. Peningkatan load factor dan optimalisasi jam terbang menjadi faktor penting dalam memperkuat fundamental bisnis maskapai.

Tantangan Keuangan Masih Berat Namun Fokus Efisiensi Diperkuat

Di tengah optimisme ini, Garuda Indonesia tetap berhadapan dengan tantangan berat dari sisi keuangan. Pada kuartal III/2025, perseroan membukukan rugi bersih sebesar US$182,53 juta atau meningkat 39,1 persen dibandingkan rugi US$131,22 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Selain itu, liabilitas perusahaan tercatat lebih tinggi dibandingkan aset. Garuda memiliki liabilitas senilai US$8,28 miliar sementara asetnya hanya mencapai US$6,75 miliar pada periode tersebut.

Kondisi itu membuat ekuitas perseroan masih berada pada posisi negatif atau minus US$1,53 miliar. Situasi ini menuntut perusahaan untuk terus memperbaiki efisiensi operasional dan mengendalikan biaya agar risiko dapat ditekan secara bertahap.

Gap antara jumlah armada dan pesawat yang serviceable juga menjadi tantangan tersendiri bagi Garuda Indonesia. Perseroan harus memastikan setiap pesawat dalam keadaan optimal agar dapat memaksimalkan pendapatan dari sektor penumpang maupun kargo.

Glenny menjelaskan bahwa penguatan efisiensi menjadi strategi utama perusahaan dalam menghadapi kondisi tersebut. Ia menilai peningkatan produktivitas armada dan kru merupakan langkah penting untuk menjaga fondasi bisnis tetap solid.

Optimalisasi pendapatan penumpang dan kargo terus dilakukan secara agresif. Perusahaan memanfaatkan peluang dari segmen layanan tambahan dan memperluas portofolio pendapatan untuk mengimbangi tekanan biaya.

Strategi Transformasi 2025: Perkuat Jaringan, Governance, dan Nilai Tambah

Wakil Direktur Utama Garuda Indonesia, Thomas Oentoro menjelaskan bahwa dukungan Danantara menjadi pendorong utama untuk mengakselerasi agenda transformasi. Fokus perusahaan tidak hanya pada profitabilitas, tetapi juga pada perbaikan tata kelola dan penguatan daya saing jangka panjang.

Ia menyampaikan bahwa Garuda Indonesia akan mengoptimalkan jaringan dan rute penerbangan dengan pendekatan yang lebih selektif. Frekuensi penerbangan akan disesuaikan dengan prinsip profitabilitas berkelanjutan agar operasional berjalan lebih efisien.

Selain itu, perusahaan juga memperluas layanan charter dan mendorong pendapatan dari ancillary revenue. Langkah ini bertujuan memperbesar diversifikasi pendapatan yang lebih stabil meskipun fluktuasi terjadi di pasar penumpang reguler.

Optimalisasi keterisian kursi akan didukung melalui pendekatan strategic pricing yang lebih presisi. Pendekatan ini diharapkan dapat meningkatkan kontribusi pendapatan dari setiap rute yang dilayani.

Thomas menegaskan bahwa transformasi Garuda Indonesia pada 2025 bukan hanya soal memperkuat alat produksi. Transformasi ini juga diarahkan pada peningkatan tata kelola yang lebih akuntabel dan memperkuat value creation bagi seluruh pemangku kepentingan.

“Kekuatan kinerja operasional harus berjalan seiring dengan governance excellence, disiplin finansial, accountability business process dan penguatan value creation,” tegas Thomas. Ia menambahkan bahwa setiap inisiatif harus menghasilkan nilai tambah yang terukur bagi pengguna jasa, investor, dan ekosistem aviasi nasional.

Garuda Indonesia menilai bahwa ketepatan strategi transformasi akan menentukan keberhasilan pemulihan jangka panjang. Oleh karena itu, perusahaan berkomitmen menjaga konsistensi implementasi seluruh pilar transformasi di tahun mendatang.

Terkini